Rumah Sakit Inggris Pakai Apple Vision Pro untuk Simulasi Operasi - VOI
Ilustrasi headset mixed reality Apple Vision Pro untuk membantu pasien memahami prosedur operasi mereka (foto:appleinsider)

JAKARTA - Terobosan teknologi kembali mengubah wajah dunia medis. Sebuah rumah sakit di Inggris kini menggunakan headset mixed reality Apple Vision Pro untuk membantu pasien memahami prosedur operasi mereka—bukan lagi lewat penjelasan rumit, tapi dengan “melihat langsung” kondisi tubuh dalam bentuk 3D.
Program ini dijalankan di Chelsea and Westminster Hospital, di mana pasien—terutama yang diduga mengalami kondisi seperti endometriosis—diajak masuk ke pengalaman visual interaktif sebelum operasi dilakukan.
Dengan bantuan aplikasi dari Medical iSight, pasien mengenakan Apple Vision Pro dan diperlihatkan model anatomi tubuh dalam bentuk augmented reality. Dokter kemudian memandu mereka secara langsung, menjelaskan sumber masalah hingga langkah-langkah prosedur yang akan dijalani.
Pendekatan ini menjawab salah satu tantangan klasik dunia medis: komunikasi. Prosedur kompleks seperti endometriosis, endometrioma, hingga fibroid rahim sering sulit dipahami pasien hanya lewat penjelasan verbal. Kini, lewat visualisasi 3D, pasien bisa melihat sendiri apa yang terjadi di dalam tubuh mereka.
Program ini bukan eksperimen sesaat. Setelah pertama kali diuji coba pada 2025 dengan dukungan badan amal NHS, CW+, metode ini kini mulai menjadi bagian standar dalam konsultasi pra-operasi di rumah sakit tersebut.
Menariknya, ini bukan kali pertama Apple Vision Pro digunakan di dunia medis. Sebelumnya, perangkat ini lebih banyak dipakai oleh tenaga medis—mulai dari asisten bedah hingga dokter—untuk membantu prosedur operasi.
Pada 2024, headset ini bahkan digunakan dalam operasi fusi tulang belakang di London, menggantikan Microsoft HoloLens 2. Namun saat itu, penggunaannya masih terbatas pada tim medis, bukan pasien.
Seiring waktu, adopsi teknologi ini meluas ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan India, terutama untuk operasi minimal invasif seperti bedah laparoskopi. Para dokter memuji resolusi tinggi dan kenyamanan perangkat ini, yang membantu mengurangi kelelahan fisik akibat posisi kerja yang tidak ergonomis.
Kini, fokusnya mulai bergeser: dari membantu dokter, menjadi memberdayakan pasien.
Pendekatan ini bisa menjadi game changer. Ketika pasien benar-benar memahami apa yang akan terjadi pada tubuh mereka, tingkat kecemasan bisa ditekan, dan kepercayaan terhadap tindakan medis meningkat.
Di tengah era digital, satu hal jadi jelas: masa depan layanan kesehatan bukan hanya soal teknologi canggih, tapi bagaimana teknologi itu membuat manusia lebih paham—bahkan terhadap tubuhnya sendiri.