Waspada! Anak-anak Indonesia Dibidik Lewat Roblox dan Minecraft - Viva
Jakarta, VIVA - Menurut data terbaru dari perusahaan keamanan siber global dan privasi digital Kaspersky, Asia Tenggara mencatat peningkatan tajam sebesar 86 persen dalam jumlah ancaman siber terkait game yang terdeteksi pada perangkat pengguna dari semester pertama hingga kedua tahun lalu.
Judul-judul populer seperti Roblox, Minecraft, dan Genshin Impact termasuk yang paling sering dieksploitasi, digunakan untuk memikat pemain yang tidak waspada. Namun, Indonesia mengalami penurunan untuk tren ini, yaitu sebesar 22 persen.
Temuan Kaspersky menunjukkan peningkatan tajam dalam ancaman siber terkait game yang menargetkan pemain game muda, di mana pelaku kejahatan siber meniru game populer atau membuat alat terkait game palsu untuk memikat anak-anak agar terlibat dengan halaman web palsu atau mengunduh file yang disusupi.
Di seluruh wilayah, volume ancaman ini meningkat 86 persen pada paruh kedua tahun lalu, dengan Vietnam dan Thailand mengalami peningkatan paling tajam masing-masing sebesar 202,5 persen dan 104,4 persen. Singapura (22,1 persen) dan Malaysia (21,3 persen) juga mencatat peningkatan yang signifikan.
Kendati Indonesia menunjukkan kontras berlawanan dengan tren tersebut, atau -42,2 persen, namun para ahli memperingatkan bahwa prevalensi ancaman siber terkait game di negara ini jauh dari berkurang dan terus menimbulkan risiko yang tidak dapat diabaikan.
Di antara ancaman siber terkait game ini, beberapa judul yang paling banyak ditargetkan termasuk Minecraft dan Roblox, karena sifat game yang sangat dapat disesuaikan ini menjadi vektor serangan ideal bagi penjahat siber untuk mengeksploitasi.
Minecraft, misalnya, pemain sering mengunduh cheat dan mod untuk mempersonalisasi pengalaman bermain game mereka. Namun, penjahat siber memanfaatkan perilaku ini untuk menanamkan malware dan PUA (potential unwanted application/aplikasi yang berpotensi tidak diinginkan) yang menyamar sebagai upgrade yang tampaknya sah.
Begitu pula untuk Roblox, penjahat siber memanfaatkan antusias pemain untuk mendapatkan skin karakter baru atau langka untuk menyebarkan situs web palsu yang tampaknya menjanjikan akses ke item eksklusif dalam game ini.
Pada kenyataannya, ini adalah penipuan yang dapat membuat korban kehilangan segalanya, atau lebih buruk lagi, mengakibatkan pencurian kredensial pribadi dan finansial yang membuat mereka rentan terhadap serangan siber lebih lanjut.
Head of Consumer Channel Kaspersky untuk Asia Pasifik, Choon Hong Chee, terus mengamati peningkatan intensitas ancaman siber terkait game yang menargetkan anak-anak muda.
Hal itu karena penjahat siber berupaya mengeksploitasi tingkat konektivitas digitalnya yang tinggi dan antusiasme mereka terhadap game populer serta pengalaman yang dipersonalisasi untuk melancarkan kampanye berbahaya mereka.
"Paling mengkhawatirkan adalah ancaman ini tidak hanya membahayakan keamanan siber para gamer muda kita, tetapi juga keamanan siber lingkungan keluarga mereka, karena mereka bertindak sebagai titik masuk ke jaringan keluarga yang lebih luas. Orangtua harus menyadari pentingnya melindungi interaksi digital," jelasnya, Selasa, 14 April 2026.