0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Haji Lempar Jumroh Spesial

    Sibuk Lempar Jumrah, Tapi Masih Terjebak 'Setan' Digital? Ini Faktanya - Inilah

    5 min read

     

    Sibuk Lempar Jumrah, Tapi Masih Terjebak 'Setan' Digital? Ini Faktanya

    Rabu, 27 Mei 2026 | 9 Dzulhijjah 1447 Mozaik IslamMozaik Islam

    Jutaan Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji terlihat melaksanakan ritual lempar jumrah di Mina pada Rabu (27/5/2026) pagi waktu Arab Saudi.(Foto: voice of emirates)

    Di tengah jutaan jemaah yang memadati kawasan Mina pada hari pertama Idul Adha 1447 Hijriah, satu ritual kembali menjadi sorotan dunia, yaitu lempar jumrah atau perbuatan melempar setan yang sedang terikat pada tugu jumrah. 

    Namun di balik lontaran tujuh kerikil ke dinding Jamarat, tersimpan pesan spiritual, psikologis, bahkan sosial-politik yang jauh lebih dalam daripada sekadar simbol ibadah tahunan.

    Jutaan Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji terlihat melaksanakan ritual lempar jumrah di Mina pada Rabu (27/5/2026) pagi waktu Arab Saudi. Ritual itu menjadi bagian penting dari rangkaian ibadah haji sekaligus penanda dimulainya Hari Raya Idul Adha.

    Rekaman yang beredar memperlihatkan jemaah melempar tujuh batu kecil ke Jamarat al-Aqaba al-Kubra atau Jumrah Kubra, dinding terbesar dari tiga titik jumrah di Mina. Dalam hari-hari berikutnya, jemaah melanjutkan ritual serupa di dua jumrah lainnya.

    Ritual tersebut melambangkan perlawanan Nabi Ibrahim AS terhadap godaan setan saat menjalankan perintah Allah SWT.

    Namun bagi banyak pengamat sosial-keagamaan, makna lempar jumrah hari ini bukan hanya tentang sejarah masa lalu. 

    Di tengah dunia modern yang dipenuhi krisis moral, perang, hedonisme digital, hingga manipulasi informasi, ritual itu dinilai menjadi simbol penolakan terhadap “setan-setan baru” yang terus menggoda manusia.

    Melawan Godaan Zaman

    Di balik kerikil kecil yang dilempar jemaah, tersimpan pesan besar tentang keberanian manusia melawan hawa nafsu, keserakahan, dan tekanan duniawi.

    Prosesi jumrah bukan sekadar gerakan fisik, melainkan bentuk deklarasi spiritual bahwa manusia harus berani mengatakan tidak terhadap kebatilan, sebagaimana Nabi Ibrahim AS menolak godaan setan ketika diperintahkan mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS.

    Dalam konteks modern, godaan itu hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari budaya konsumtif, kecanduan media sosial, normalisasi kekerasan, hingga kerakusan kekuasaan dan ekonomi global.

    Di sinilah ibadah haji menghadirkan dimensi perlawanan yang jarang dibicarakan secara terbuka. Bahwa jutaan Muslim sejatinya sedang dilatih membangun disiplin spiritual kolektif untuk melawan kerusakan moral zaman.

    Simbol Penyucian

    Setelah menyelesaikan ritual lempar jumrah, jemaah biasanya mencukur atau memendekkan rambut sebagai simbol penyucian diri dan pembaruan spiritual.

    Tradisi itu mengandung pesan bahwa kemenangan melawan hawa nafsu harus diikuti perubahan nyata dalam kehidupan. 

    Tidak cukup hanya melawan godaan sesaat, tetapi juga membangun karakter baru yang lebih bersih dan tunduk kepada Allah SWT.

    Ibadah haji sendiri merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial. Rangkaian ritual haji meliputi wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga lempar jumrah di Mina.

    Bagi umat Islam, seluruh rangkaian itu bukan sekadar perjalanan geografis menuju Makkah, tetapi perjalanan transformasi jiwa.

    Makna Pengorbanan

    Idul Adha yang dikenal sebagai Hari Raya Kurban juga memperingati kesediaan Nabi Ibrahim AS untuk mengorbankan putranya demi menaati perintah Allah SWT sebelum Allah menggantinya dengan seekor domba.

    Karena itu, esensi kurban sejatinya bukan semata penyembelihan hewan, melainkan kesiapan manusia mengorbankan ego, kesombongan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

    Tradisi penyembelihan kambing, sapi, atau domba yang kemudian dibagikan kepada keluarga dan masyarakat membutuhkan, menjadi simbol solidaritas sosial Islam yang menolak ketimpangan dan individualisme.

    Di tengah meningkatnya krisis kemanusiaan global, pesan kurban dinilai semakin relevan. Bahwa spiritualitas Islam tidak berhenti pada ritual pribadi, tetapi harus melahirkan kepedulian sosial dan keberpihakan terhadap kaum tertindas.

    Pesan Perlawanan

    Ada dimensi lain yang jarang disorot media internasional ketika meliput ritual lempar jumrah. Bahwa ritual tersebut sejatinya juga menyimpan pesan perlawanan terhadap segala bentuk kezaliman.

    Kerikil-kerikil kecil itu menjadi metafora bahwa kebatilan sebesar apa pun bisa dilawan jika manusia memiliki iman, keberanian, dan keteguhan hati.

    Di tengah dunia yang dipenuhi konflik, penjajahan, dan krisis kemanusiaan, ritual jumrah seolah mengingatkan bahwa perjuangan melawan keburukan tidak pernah berhenti.

    Jutaan jemaah dari berbagai bangsa, warna kulit, dan bahasa berkumpul dalam satu gerakan yang sama: melempar simbol setan.

    Sebuah pesan universal bahwa manusia, pada akhirnya, harus memilih berdiri di pihak kebenaran atau tunduk pada godaan zaman.

    Tags

    Komentar

    Artikel Terkait

    Komentar
    Additional JS