Sulit Mendapat Pendanaan, Pasar Teknologi Disabilitas Masih Terbuka Lebar - Kontan
Sulit Mendapat Pendanaan, Pasar Teknologi Disabilitas Masih Terbuka Lebar
Jumat, 08 Mei 2026 | 10:37 WIB
Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan teknologi kini tidak hanya fokus pada peningkatan efisiensi bisnis atau hiburan digital, tapi mulai mengarah untuk menciptakan solusi yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
Mulai navigasi berbasis artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, penerjemah bahasa isyarat real-time, hingga perangkat bionik pintar. Berbagai inovasi teknologi mulai dikembangkan untuk membuka akses yang lebih luas terhadap pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.
Teknologi itu tampak di Seed Inclusivity Program Demo Day yang diinisiasi Seedstars dengan dukunga Visa Foundation. Ajang ini wadah bagi perusahaan rintisan (startup) teknologi dari berbagai negara Asia untuk menampilkan solusi inovatif yang berfokus pada inklusi disabilitas.
Berbeda dari ajang startup pada umumnya, demo day kali ini menghadirkan 17 startup teknologi dengan berbagai solusi untuk membantu penyandang disabilitas menjalani aktivitas secara lebih mandiri.
Seedstars bersama startup peserta program menilai, pasar inklusi disabilitas di Asia masih sangat besar, tapi belum banyak tersentuh inovasi teknologi maupun pendanaan. Kawasan Asia diperkirakan memiliki sekitar 690 juta penyandang disabilitas.
Program Seed Inclusivity menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Sebanyak 15 startup pada tahap pertama program tercatat telah menjangkau hampir tiga juta penerima manfaat dan berhasil menghimpun pendanaan lanjutan lebih dari US$ 12 juta.
Salah satu alumni program, Rezki Achyana, bahkan masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia tahun 2024. Startup yang ia dirikan, Parakerja, mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 42% setelah mengikuti program tersebut.
Program Lead Seed Inclusivity di Seedstars, Archie Moberly mengatakan, perkembangan yang terlihat di Jakarta memperkuat keyakinan bahwa startup teknologi inklusif memiliki potensi besar untuk berkembang jika mendapatkan akses dukungan yang setara.
"Apa yang kami lihat di Jakarta memperlihatkan, ketika founder penyandang disabilitas memperoleh akses yang sama terhadap ekosistem pendukung startup, mereka mampu menghadirkan inovasi dan dampak yang signifikan," ujarnya, dalam keterangan resmi, Kamis (7/5).
Baca Juga: Menakar Peluang dan Tantangan Kejar Target Pemerintah Stop Impor Solar pada 2026
Dalam acara tersebut, sejumlah startup asal Indonesia turut menampilkan inovasi teknologi yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan lokal. Salah satunya PetaNetra yang menghadirkan teknologi navigasi berbasis augmented reality (AR) dan AI untuk membantu penyandang tunanetra bergerak mandiri di area indoor.
Selain itu, Silang.id memperkenalkan platform digital yang menghubungkan komunitas tuli dengan penerjemah bahasa isyarat secara on-demand. Sementara Karla Bionics mengembangkan perangkat bionik dan alat rehabilitasi berbasis pendekatan user-centric.
Tak hanya dari Indonesia, startup lain dari berbagai negara Asia juga membawa teknologi serupa. Bioniks asal Pakistan mengembangkan kaki palsu berbasis AI dengan harga lebih terjangkau. Sedangkan I-Stem dari India dan Amerika Serikat memanfaatkan AI untuk membuka akses pendidikan dan karier digital bagi penyandang disabilitas.
Berbagai inovasi lain juga dipamerkan dalam sejumlah kategori teknologi. Pada kategori assistive hardware, startup seperti Dextroware, Sunbots, dan Bioniks mengembangkan perangkat seperti pelacak gerakan kepala hingga kacamata pintar.
Untuk aksesibilitas digital, SaralX, Suarise, dan DeepVisionTech menghadirkan teknologi konsultasi aksesibilitas web dan penerjemah bahasa isyarat real-time.
Di sektor pendidikan dan karier, startup seperti Inclus, Thinkerbell Labs, dan Cognitii menawarkan layanan penempatan kerja, perangkat baca Braille, hingga dukungan pembelajaran bagi siswa neurodivergent. Sementara di bidang kesehatan dan gaya hidup, Riliv dan 1SpecialPlace menghadirkan platform kesehatan mental dan terapi. Sedangkan Planet Abled fokus pada pengembangan pariwisata inklusif.
Seed Inclusivity merupakan program tiga tahun yang menargetkan dukungan bagi 45 founder di Asia. Program ini juga menargetkan 40% peserta berasal dari penyandang disabilitas dan 30% dipimpin perempuan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Terbaru















