YouTuber Teknologi MrWhoseTheBoss Ditahan Imigrasi, Proyek Rp 5,2 Miliar Melayang - Kompas
YouTuber Teknologi MrWhoseTheBoss Ditahan Imigrasi, Proyek Rp 5,2 Miliar Melayang
KOMPAS.com - YouTuber teknologi Arun Rupesh Miani mengungkap pengalaman pahit yang pernah dialaminya saat melakukan perjalanan kerja ke Amerika Serikat (AS).
Kreator asal Inggris itu mengaku sempat ditahan, digeledah, hingga dideportasi oleh petugas imigrasi AS.
Cerita ini diungkap Maini dalam wawancara bersama media e-sports dan gaming Dexerto, dan langsung ramai dibahas warganet di media sosial.
Maini mengatakan, insiden tersebut terjadi beberapa tahun lalu ketika ia melakukan perjalanan kerja ke AS.
Ironi China di Bawah Xi Jinping: Militer dan Teknologi Moncer, tapi Ekonomi Hadapi Krisis
Saat itu, ia mendapat tawaran proyek senilai 300.000 dollar AS atau sekitar Rp 5,2 miliar untuk meliput pembangunan stadion berteknologi tinggi di AS.
Baca Juga :
Baca juga: YouTuber Bikin E-Reader Sekecil Ibu Jari, Bisa Simpan 10 Buku
Ditahan setelah tiba di bandara
Maini menceritakan, awalnya ia sangat antusias menerima proyek bernilai fantastis tersebut. Namun semua itu berubah sesaat setelah ia tiba di bandara.
Menurut Maini, petugas imigrasi mulai menginterogasinya dengan menanyakan tujuan kedatangannya ke AS. Pemeriksaan itu kemudian berlanjut lebih jauh.
Maini mengaku dibawa ke ruang pemeriksaan khusus dan tidak diizinkan melanjutkan proses imigrasi seperti penumpang lain.
Baca juga: Polisi Harus Periksa Medsos Remaja di Lebak Bulus untuk Ungkap Motif Pembunuhan
Ia juga mengatakan bahwa petugas menyita ponselnya. Akibatnya, Maini tidak bisa menghubungi pihak sponsor yang sudah menunggunya di luar bandara.
Kata Maini, awalnya situasi interogasi masih terasa normal. Namun, setelah beberapa jam, suasana pemeriksaan tersebut berubah menjadi lebih intimidatif.
Rasa takut itu semakin membesar ketika dirinya dipindahkan ke ruangan lain yang lebih tertutup dan dijaga oleh sejumlah petugas bersenjata.
Baca juga: Terduga Pemukul Bro Ron Ungkap Alasan Buat Laporan Balik ke Polisi
"Saat itu, saya sudah takut. Semua petugas bersenjata," ucap Maini.
Digeledah
Dalam wawancara tersebut, Maini juga menceritakan bahwa dirinya sempat menjalani strip search atau penggeledahan dalam keadaan tanpa busana.
"Mereka benar-benar melepas semua pakaian saya dan memeriksa tubuh saya dengan berbagai cara. Sangat melanggar privasi," kata Maini.
Baca juga: Perang Panjang Melawan Judol...
Setelah pemeriksaan itu, Maini mengaku langsung ditempatkan di sel tahanan selama beberapa jam tanpa diberi akses komunikasi.
"Saya sama sekali tidak punya cara untuk menghubungi siapa pun. Keluarga saya tidak tahu saya ada di mana. Saya ingat merasa seperti bukan manusia," ujarnya.
Secara total, Maini mengeklaim dirinya ditahan selama sekitar 26 jam sebelum akhirnya dideportasi kembali ke negara asalnya, Inggris.
Ia juga menyebut bahwa ponselnya baru dikembalikan ketika pesawat deportasi yang membawanya sudah lepas landas.
Adapun akibat insiden tersebut, proyek bernilai Rp 5,2 miliar yang sedianya akan ia kerjakan harus melayang begitu saja.
Baca juga: Syarat Dipermudah, Youtuber Minim Subscriber Kini Bisa Makin Cuan
Masih kena pemeriksaan tambahan
Tidak dijelaskan lebih lanjut mengapa ia mendapat pemeriksaan ketat. Namun, ada kemungkinan hal ini berkenaan dengan proyek komersial bernilai besar, yaitu liputan stadion teknologi dengan bayaran sekitar 300.000 dollar AS yang akan ia kerjakan.
Pasalnya, aktivitas kerja berbayar di AS biasanya memerlukan visa kerja khusus.
Meski kejadian deportasi itu sudah berlalu beberapa tahun, Maini mengatakan pengalaman tersebut masih berdampak sampai saat ini.
Baca juga: WNA di Markas Judol Hayam Wuruk Sering Pesan Banyak Makanan, tapi Dikirim ke Restoran
Ia mengaku hampir selalu menjalani secondary screening atau pemeriksaan tambahan setiap kali masuk ke AS.
"Sekarang setiap kali saya pergi ke AS, saya selalu dibawa ke ruangan kedua karena ada tanda hitam di samping nama saya," kata Maini.
Cerita Maini ini langsung ramai dibahas di internet. Banyak warganet berkomentar dan menyebut bahwa pengalaman tersebut cukup traumatis dan tidak manusiawi.
Beberapa bahkan mengaku kisah penahanan dan interogasi yang dialami Maini masih membekas di benak mereka meski wawancara tersebut sudah selesai ditonton, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari IndiaToday.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
AS Vs Iran Buntu Total: Gagal Damai, Perang di Ujung Tanduk?