Bocah 5 Tahun Bakar Hampir 30 iPhone, Respons Sang Ayah Justru Banjir Pujian - Tribunnews

Ringkasan Berita:
- Seorang bocah berusia lima tahun di Shenzhen, Tiongkok, tanpa sengaja membakar hampir 30 ponsel senilai sekitar Rp450 juta setelah bermain dengan percikan api dari stopkontak
- Alih-alih memarahinya, sang ayah memilih menjadikan insiden itu sebagai pelajaran tentang tanggung jawab dan kehati-hatian
- Sikap tenangnya menuai pujian luas dan kisah mereka viral di media sosial
TRIBUNNEWS.COM, TIONGKOK - Sebuah peristiwa yang nyaris menjadi mimpi buruk bagi sebuah keluarga di Shenzhen, Tiongkok, justru berakhir menjadi kisah mengharukan tentang cara mendidik anak.
Seorang bocah berusia lima tahun tanpa sengaja memicu kebakaran yang melalap hampir 30 unit ponsel pintar, sebagian besar merupakan iPhone, dengan nilai kerugian mencapai lebih dari 200.000 yuan atau sekitar Rp450 juta.
Namun, alih-alih memarahi atau menghukumnya, sang ayah memilih memeluk keadaan dan mengubah musibah itu menjadi pelajaran hidup.
Kisah tersebut viral di media sosial Tiongkok setelah diberitakan media lokal First Scene bahkan kejadian itu telah ditonton lebih dari 50 juta kali dan menuai ribuan komentar yang memuji sikap sang ayah.
Ayah bocah itu, yang bermarga Peng, sehari-hari mengelola usaha penjualan dan perbaikan ponsel.
Sebagian rumahnya juga difungsikan sebagai bengkel sekaligus gudang penyimpanan perangkat elektronik.
Semuanya bermula dari rasa ingin tahu seorang anak.
Baca juga: Kebakaran Pusat Pelatihan Animasi di India Tewaskan 15 Orang, Empat Pemilik Gedung Ditangkap
Saat bermain di rumah, bocah tersebut melihat percikan api dari stopkontak yang mengalami korsleting.
Dengan kepolosannya, ia mengambil selembar tisu dan mencoba membakarnya menggunakan percikan api itu.
Hanguskan 30 iPhone
Dalam hitungan menit, api membesar dan menjalar ke seluruh area bengkel yang dipenuhi perangkat elektronik.
Kobaran api menghanguskan hampir 30 telepon seluler.
Lebih dari separuhnya merupakan iPhone yang siap dijual atau diperbaiki.
Musibah itu semakin berat karena usaha Peng ternyata tidak diasuransikan.
Artinya, seluruh kerugian harus ditanggung sendiri oleh keluarganya.
Di balik kerugian ratusan juta rupiah itu, tersimpan kisah yang membuat banyak orang tersentuh.
Ketika api mulai membesar, bocah itu tidak berlari keluar rumah.
Ia justru teringat ayahnya yang sedang tertidur.
Takut kobaran api dan asap masuk ke kamar, ia menutup pintu kamar sang ayah.
Bahkan, ia sempat menyalakan pendingin ruangan (AC) karena mengira hal itu dapat membuat ayahnya tetap nyaman.
"Dia tidak membangunkan saya. Dia malah menutup pintu dan menyalakan AC untuk saya. Menurut saya, itu sangat perhatian," kata Peng.
Peng akhirnya terbangun setelah mencium bau asap yang menyengat.
Ia segera berlari memadamkan api, tetapi saat itu bengkel dan sebagian ruang tamu sudah hangus terbakar.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Sang bocah juga selamat tanpa mengalami luka.
Baca juga: Benjolan Misterius di Lengan Wanita Tiongkok Ternyata Berisi Dua Cacing Hidup
Yang membuat Peng semakin terharu, putranya tidak berusaha menyembunyikan kesalahan.
Setelah api berhasil dipadamkan, bocah itu terlihat mengambil kain dan berusaha membersihkan lantai yang dipenuhi abu serta puing-puing kebakaran.
Melihat putranya diliputi rasa takut dan bersalah, Peng tidak membentak ataupun menghukumnya.
Ia hanya bertanya dengan suara pelan, "Apakah kamu senang?"
Anak itu langsung menggeleng pelan sambil menahan gugup.
Bagi Peng, jawaban sederhana itu sudah cukup.
Ia yakin putranya telah memahami bahwa rasa penasaran tanpa kehati-hatian dapat membawa akibat yang besar.

Momen tersebut kemudian dimanfaatkannya untuk mengajarkan sebuah pepatah Tiongkok, wan huo zi fen, yang secara harfiah berarti "terbakar karena bermain api".
Ungkapan itu mengandung pesan bahwa setiap tindakan ceroboh akan membawa konsekuensinya sendiri.
"Ulangi setelah Ayah. Setelah kamu mengingatnya, jangan lakukan lagi," ujar Peng.
Ada satu kejadian kecil lain yang membuat hati Peng semakin luluh.
Selamatkan 4 Bungkus Rokok
Di tengah kepanikan, sang anak ternyata sempat menyelamatkan empat bungkus rokok milik ayahnya dari bengkel yang terbakar.
Ia tahu ayahnya adalah seorang perokok sehingga menganggap rokok tersebut penting untuk diselamatkan.
Tak berhenti sampai di situ, setelah semuanya usai, bocah itu bahkan menawarkan seluruh uang tabungannya kepada sang ayah sebagai bentuk tanggung jawab atas kerugian yang telah ditimbulkannya.
Peng mengaku saat itu emosinya bercampur aduk.
"Saya merasa takut, tersentuh, sekaligus geli," tuturnya.
Ia mengaku sengaja menahan amarah karena tidak ingin mengulang pola pengasuhan yang pernah dialaminya saat kecil, ketika kesalahan anak sering dibalas dengan bentakan atau hukuman fisik.
Menurutnya, rasa takut mungkin bisa membuat anak berhenti sesaat, tetapi pemahaman akan membuat mereka belajar untuk tidak mengulanginya.
Sikap Peng pun menuai pujian luas dari warganet.
Banyak yang menilai ketenangan sang ayah jauh lebih berharga daripada nilai puluhan ponsel yang hangus terbakar.
"Beginilah arti mendidik anak. Bukan sekadar memberi mereka materi, tetapi mengajarkan akal sehat, tanggung jawab, dan kesabaran," tulis seorang pengguna media sosial.
Warganet lainnya berkomentar, "Bocah itu mungkin baru saja mendapatkan pelajaran keselamatan kebakaran paling mahal dalam hidupnya. Tetapi berkat ayahnya, pelajaran itu datang tanpa rasa takut, melainkan dengan kasih sayang. (SCMP)