Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Data Center Elon Musk Featured Kecerdasan Buatan Spesial Starmind

    Elon Musk Siapkan "Starmind", Proyek 1 Juta Satelit Data Center AI di Orbit - Kompas

    5 min read

     


    KOMPAS.com - CEO perusahaan roket SpaceX, Elon Musk, menyiapkan rencana baru untuk "menginvasi" luar angkasa. 

    Elon Musk berencana membangun pusat data (data center) untuk kecerdasan buatan (AI) yang mengelilingi Bumi.

    Proyek bernama Starmind itu disebut-sebut akan memanfaatkan hingga 1 juta satelit yang ditempatkan di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO).

    Berbeda dengan jaringan Starlink yang berfungsi menyediakan akses internet, Starmind dirancang untuk memproses komputasi AI langsung dari luar angkasa. 

    Bupati dan Sekda Kuansing Riau Tiba-tiba Menghilang Saat KPK OTT, Kabur?

    Adapun rencana pembangunan Starmind sendiri telah dikonfirmasi langsung oleh Elon Musk pada Selasa, 23 Juni 2026 lalu. 

    Baca juga: Ambisi China Bangun Peradaban di Luar Angkasa, Kirim Embrio ke Orbit

    Untuk proses pembangunannya sendiri, nantinya setiap satelit yang dipakai Starmind akan dibekali prosesor yang dirancang untuk menjalankan inferensi machine learning.

    Proses tersebut memungkinkan model AI yang telah dilatih menghasilkan output berupa teks, gambar, maupun pengambilan keputusan. 

    Semua satelit Starmind kabarnya akan ditenagai panel surya, sedangkan sistem pendinginnya memanfaatkan suhu dingin alami di ruang hampa luar angkasa.

    Dengan sistem itu, pusat data Starmind tidak memerlukan pasokan listrik dalam jumlah besar maupun sistem pendingin seperti data center yang beroperasi di bumi. 

    Agar dapat saling berkomunikasi, satelit-satelit Starmind akan dihubungkan menggunakan sambungan laser optik (optical inter-satelite laser links).

    Teknologi ini sebenarnya telah digunakan di satelit Starlink, tetapi pada proyek Starmind nanti akan dimanfaatkan untuk mengirimkan data AI antar-node di orbit maupun kembali ke Bumi.

    SpaceX sendiri kabarnya telah mengajukan permohonan kepada Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat untuk membangun sistem yang dalam dokumen pengajuan disebut sebagai orbital data-center system.

    Apabila pengajuan diterima, satelit uji pertama yang kabarnya diberi nama AI1 dijadwalkan mulai diluncurkan pada awal tahun 2027, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Cryptobriefing.

    Gabungan SpaceX dan xAI

    Proyek Starmind merupakan hasil penggabungan kemampuan SpaceX di bidang satelit dengan xAI, perusahaan AI milik Elon Musk yang diakuisisi pada Februari 2026.

    Lewat akuisisi tersebut, teknologi AI dan talenta teknik milik xAI dipadukan dengan kemampuan SpaceX dalam memproduksi sekaligus meluncurkan satelit ke orbit.

    Jika seluruh rencana tersebut terealisasi, Starmind digadang-gadang akan menjadi proyek satelit terbesar yang pernah dibuat SpaceX.

    Pasalnya, proyek ini ditargetkan memiliki hingga 1 juta satelit atau sekitar 100 kali lebih banyak dibandingkan konstelasi Starlink yang saat ini tercatat sudah beroperasi dengan lebih dari 10.000 satelit.

    Selain itu, sebagai perbandingan, jumlah seluruh satelit yang pernah diluncurkan oleh seluruh negara di dunia sepanjang sejarah manusia baru berada di kisaran puluhan ribu unit. 

    Baca juga: Elon Musk Mau Bikin Ketapel Raksasa untuk Kirim Satelit AI ke Orbit

    Masih ada tantangan

    Meski terdengar ambisius, proyek Starmind masih harus melewati sejumlah tantangan sebelum benar-benar dapat diwujudkan.

    Selain memperoleh persetujuan regulator di AS, SpaceX juga harus menyelesaikan beberapa hal, antara lain:

    • Koordinasi spektrum frekuensi secara internasional
    • Pengelolaan sampah antariksa
    • Proses manufaktur dan peluncuran satelit dalam jumlah yang belum pernah dilakukan sebelumnya

    Ada juga risiko lain yaitu usia operasional satelit yang terbatas, di mana satelit Starlink saat ini saja masih harus diganti secara berkala melalui peluncuran baru.

    Tantangan lainnya, penambahan prosesor AI di setiap satelit juga dinilai akan meningkatkan kompleksitas, biaya produksi, sekaligus risiko perangkat keras menjadi usang sebelum masa operasional satelit berakhir.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Delegasi AS-Iran ke Doha Usai Saling Serang, Qatar: Tak Ada Pembicaraan

    Komentar
    Additional JS