GPS Eropa Bertahun-tahun Terganggu, Peneliti Temukan Penyebabnya - Kompas
GPS Eropa Bertahun-tahun Terganggu, Peneliti Temukan Penyebabnya
KOMPAS.com – Para peneliti telah memastikan asal-usul gangguan sinyal GPS yang melanda wilayah Eropa selama bertahun-tahun. Sumbernya, satelit Rusia di luar angkasa.
Temuan ini menjadi bukti pertama bahwa sebuah negara mampu mengganggu sinyal GPS dari luar angkasa dalam skala benua (continental scale).
Penelitian itu dilakukan tim dari University of Texas at Austin yang dipimpin Profesor Todd Humphreys dan mahasiswa risetnya Zach Clements, bersama Argyris Kriezis dari Stanford University.
Baca juga: Mengenang Kecelakaan Lion Air JT610, 29 Oktober 7 Tahun Lalu
Tim peneliti mengidentifikasi 75 insiden gangguan sinyal GPS antara 2019 hingga 2026.
AS-Iran Saling Serang, Kandang F-35 di Yordania Jadi Target Teheran
Gangguan ini dianggap signifikan karena menyebabkan penurunan rasio sinyal terhadap gangguan suara (carrier-to-noise ratio, CNR) sebesar 5 dB atau lebih. Wilayah yang terkena gangguan terbentang sangat luas, mulai dari Islandia di utara hingga Italia di selatan.
Baca Juga :
Tiap insiden gangguan berlangsung kurang dari 10 detik. Dampaknya tidak menyebabkan konsekuensi serius karena sebagian besar perangkat secara otomatis beralih ke sinyal cadangan atau menggunakan lokasi terakhir yang diketahui.
Tapi yang membuat para peneliti khawatir bukan dampaknya saat ini, melainkan kemampuan teknis yang ditunjukkan.
Baca juga: Iran Setop Pakai GPS AS, Beralih ke Sistem Navigasi China
Tiga satelit Rusia tertangkap basah
Setelah analisis panjang, para peneliti berhasil mengidentifikasi pelakunya, yaitu tiga satelit milik konstelasi Edinaya Kosmicheskaya Sistema atau EKS milik Rusia.
EKS adalah sistem satelit militer Rusia yang dirancang untuk mendeteksi peluncuran rudal yang berpotensi mengancam wilayah Rusia, sekaligus mendeteksi ledakan nuklir di seluruh dunia.
Satelit EKS pertama diluncurkan pada 2019. Tepat di tahun yang sama, gangguan GPS wilayah luas itu untuk pertama kalinya tercatat, yakni pada Oktober 2019, sebulan setelah peluncuran satelit EKS pertama.
Baca juga: Mengapa CEO Google Cemas dengan Tahun 2025?
Tiga satelit EKS yang teridentifikasi sebagai sumber gangguan berasal dari seri Tundra. Satelit-satelit ini beredar di orbit khusus yang disebut Molniya, yang dalam bahasa Rusia berarti "petir".
Untuk mendeteksi sumber gangguan, para peneliti membangun kerangka kerja khusus berbasis data dari jaringan 165 stasiun referensi GPS yang tersebar di seluruh Eropa.
Yang membuat temuan ini semakin meyakinkan adalah karakteristik teknis sinyal gangguan tersebut.
Baca juga: Bos Nvidia: Chip Buatan China Tinggal Hitungan Nanodetik Saja di Belakang AS
Sinyal gangguan ditemukan tidak persis berada di frekuensi GPS L1, tapi sedikit bergeser. Pusat sinyalnya berada di 1577,5 MHz, sekitar 2 MHz di atas frekuensi pusat GPS L1.
Penggeseran ini bukan kebetulan. Menurut Humphreys, ini kemungkinan merupakan upaya sengaja untuk menguji kemampuan jamming tanpa mudah terdeteksi.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, tim Humphreys juga menemukan satelit Rusia yang sama telah mengganggu sinyal sistem navigasi Bei Dou milik China sejak Juni 2020, dengan cara yang nyaris identik.
"Jelas bahwa salah satu kemampuan utama satelit Rusia ini adalah gangguan dan penolakan sistem navigasi GPS Amerika dan Bei Dou China, jika Kremlin memutuskan untuk melakukannya," tulis para peneliti.
Baca juga: Menguak 2 Sosok Wanita Rusia Selingkuhan Bill Gates
Kemampuan yang bisa diaktifkan kapan saja
Yang paling mengkhawatirkan dari temuan ini bukan apa yang sudah terjadi, melainkan apa yang bisa terjadi.
Para peneliti menyebut Rusia sebenarnya hanya perlu sedikit modifikasi untuk membuat sistem ini menjadi senjata jamming GPS yang masif.
"Sedikit perubahan frekuensi dan peningkatan daya pancar adalah yang dibutuhkan untuk mencegah penerimaan satu atau kedua sistem di area berukuran benua," tulis para peneliti.
Artinya, dengan konfigurasi yang sedikit diubah, satelit-satelit Rusia ini berpotensi melumpuhkan navigasi GPS dan Bei Dou di wilayah seluas Eropa atau Amerika Utara sekaligus.
Humphreys juga memperingatkan bahwa Rusia bisa mengubah strategi mereka dari bulan ke bulan. Mereka bisa menargetkan pesawat tertentu dengan presisi tinggi, lalu beralih ke pemblokiran seluruh sektor wilayah udara, atau menciptakan gangguan berskala luas.
Baca juga: Iran Pakai Satelit AI China untuk Tentukan Target Serangan ke AS?
Bukan satu-satunya cara
Jamming dari satelit hanyalah salah satu metode yang dimiliki Rusia.
Humphreys menjelaskan, skala gangguan GPS sangat bergantung pada di mana sumbernya berada.
Untuk sumber jamming yang dipasang di pesawat, jangkauan efektifnya bisa mencapai 450 kilometer. Sementara sumber yang dipasang di darat hanya bisa mempengaruhi radius maksimum 50 kilometer.
Baca juga: “Matahari Buatan” China Tembus Batas yang Selama Ini Dianggap Mustahil
Dengan satelit di luar angkasa, jangkauan jamming bisa diperluas hingga skala benua, jauh melampaui kemampuan sumber jamming darat atau udara mana pun.
Para peneliti menggambarkan temuan ini sebagai pengungkapan ancaman besar yang sebelumnya belum pernah diketahui publik secara umum.
Kasus serupa di mana transmisi satelit mengganggu sinyal GPS pernah tercatat dua kali sebelumnya. Namun dalam kedua kasus itu, gangguan dianggap sebagai akibat kesalahan teknis, bukan sebagai aksi sengaja.
Baca juga: Iran Setop Pakai GPS AS, Beralih ke Sistem Navigasi China
Kedutaan Besar Rusia di Amerika Serikat saat dikonfirmasi New York Times menyatakan tidak bersedia memberikan komentar mengenai temuan ini.
Sementara itu, para petinggi Angkatan Udara AS sudah diberitahu mengenai gangguan yang terdeteksi para peneliti tersebut, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Ars Technica.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang