Israel Diteror, Hacker Pro-Palestina Klaim Siap Gempur Sistem Siber Zionis Besar-besaran - Tribunnews
Israel Diteror, Hacker Pro-Palestina Klaim Siap Gempur Sistem Siber Zionis Besar-besaran
TRIBUNNEWS.COM - Kelompok peretas atau hacker pro-Palestina bernama Handala kembali menjadi sorotan setelah mengeluarkan ancaman besar terhadap Israel dan negara-negara yang dianggap mendukung operasi militer Tel Aviv.
Dalam pernyataan resminya kelompok tersebut mengancam akan melancarkan “serangan siber paling dahsyat” yang menargetkan infrastruktur penting, sistem militer, hingga jaringan keamanan negara-negara sekutu Israel.
Kelompok tersebut bahkan memperingatkan bahwa tidak ada sistem digital yang benar-benar aman dari serangan mereka.
“Tidak ada wilayah yang terlalu jauh, tidak ada server yang aman, dan tidak ada jaringan yang berada di luar jangkauan kami,” tulis kelompok tersebut dalam pernyataannya.
Ancaman itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah dan perang siber yang semakin intens antara kelompok pro-Palestina dengan pihak-pihak pendukung Israel.
Selain Israel, kelompok Handala juga secara terbuka memperingatkan negara-negara yang disebut “menggelar karpet merah untuk teroris”, istilah yang diduga merujuk pada negara-negara pendukung Israel dan Amerika Serikat.
Kelompok hacker tersebut mengancam bahwa konsekuensi serangan tidak hanya akan dirasakan di fasilitas pemerintahan atau militer, tetapi juga dapat menyentuh sektor ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Bagi sebagian orang, kami hanya punya satu pesan: kalian akan membayar harga pengkhianatan kalian, bukan hanya di markas kalian, tetapi di jantung perekonomian dan keamanan sehari-hari kalian,” tulis kelompok tersebut, dikutip dari Press TV, Selasa, (9/6/2026).
Ancaman tersebut sontak memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan serangan terhadap jaringan listrik, sistem komunikasi, layanan keuangan, transportasi, hingga fasilitas publik lain yang terhubung secara digital.
Baca juga: 700 GB Data Dicuri, Hacker Pro-Iran Diduga Bobol Sistem Transportasi Los Angeles
Mossad dan Militer AS Disebut Jadi Target
Kelompok Handala merupakan salah satu kelompok peretas pro-Palestina yang dalam beberapa tahun terakhir mulai dikenal lewat berbagai serangan siber terhadap target yang dianggap mendukung Israel.
Nama “Handala” sendiri diambil dari karakter kartun ikonik Palestina ciptaan kartunis Naji al-Ali. Karakter tersebut digambarkan sebagai anak kecil pengungsi Palestina yang selalu membelakangi dunia sebagai simbol perlawanan dan penderitaan rakyat Palestina.
Dalam dunia siber, kelompok Handala dikenal aktif melakukan peretasan terhadap situs pemerintah, lembaga militer, perusahaan teknologi, hingga individu yang dianggap memiliki hubungan dengan Israel atau sekutunya.
Dalam sejumlah aksinya, Handala disebut menggunakan metode serangan siber seperti pencurian data, penyusupan sistem, hingga gangguan terhadap jaringan digital target mereka.
Kelompok ini mulai mendapat perhatian internasional setelah beberapa kali mengklaim bertanggung jawab atas kebocoran data dan serangan digital terhadap pejabat Israel serta pihak-pihak yang mendukung operasi militer Tel Aviv.
Kelompok Handala juga pernah mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan siber terhadap pejabat Israel dan Amerika Serikat.
Dalam pernyataan terbarunya, kelompok tersebut juga menyinggung badan intelijen Israel Mossad, pasukan elite militer Israel, hingga personel marinir Amerika Serikat sebagai bagian dari sasaran operasi mereka.
Meski begitu, hingga kini belum ada bukti independen yang dapat memastikan sejauh mana kemampuan kelompok tersebut maupun tingkat keberhasilan serangan yang mereka klaim.
Perang Siber Jadi Ancaman Baru Konflik Timur Tengah
Pengamat keamanan menilai ancaman dari kelompok hacker pro-Palestina menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah kini tidak hanya berlangsung di medan perang fisik, tetapi juga merambah dunia digital.
Serangan siber dinilai menjadi senjata baru yang mampu melumpuhkan sistem penting suatu negara tanpa harus melibatkan serangan militer langsung.
Dalam beberapa tahun terakhir, Israel memang dikenal sebagai salah satu negara dengan pertahanan siber paling kuat di dunia. Namun, meningkatnya aktivitas kelompok peretas global membuat ancaman serangan digital tetap menjadi perhatian serius.
Hingga saat ini pemerintah Israel maupun Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terkait ancaman terbaru dari kelompok Handala tersebut.
Meski demikian, peringatan itu diperkirakan akan meningkatkan kewaspadaan keamanan siber di berbagai negara yang terlibat dalam konflik kawasan Timur Tengah.
(Tribunnews.com / Namira)