Mengenal Teknologi Blockchain, Ternyata Bisa Digunakan untuk Banyak Hal - Bisnis com
Mengenal Teknologi Blockchain, Ternyata Bisa Digunakan untuk Banyak Hal
Bisnis.com, BANDUNG— Instrumen Kripto ini mulai mendapat perhatian masyarakat sebagai instrumen spekulasi harga. Namun, di balik naik-turunnya nilai aset digital ini, terdapat teknologi revolusioner yang menjadi fondasinya, yakni blockchain.
Chief Technology Officer (CTO) dari Aevo, Steven Williams mengatakan dari sudut pandang praktis, blockchain dapat dipahami sebagai metode baru untuk menjalankan program atau perangkat lunak.
Jika biasanya program dijalankan di perangkat pribadi seperti komputer atau ponsel, maka blockchain menantang konsep tersebut dengan memungkinkan sistem komputasi yang dapat dijalankan menggunakan komputer milik orang lain.
Dalam ekosistem blockchain, proses komputasi didelegasikan kepada para operator—individu atau entitas yang secara sukarela menyediakan daya komputasi mereka untuk menjalankan program tersebut. Para operator saling memverifikasi hasil satu sama lain. Jika ada yang mencoba memanipulasi atau mengubah hasil secara tidak sah, mereka akan dikenai penalti. Sebaliknya, operator yang menjalankan komputasi dengan benar akan mendapat imbalan berupa mata uang kripto.
“Sistem ini bisa digunakan untuk berbagai macam kegunaan,” jelas dia dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Kamis (16/10/2025).
Ia menjelaskan, program yang dijalankan dalam ekosistem blockchain memiliki tingkat fleksibilitas tinggi dan dapat diimplementasikan untuk berbagai fungsi. Mulai dari sistem pembayaran, platform media sosial, hingga marketplace.
Baca Juga
Ia memaparkan, dalam sistem keuangan tradisional, jaringan pembayaran atau layanan pengiriman uang (remittance) sering kali memungut biaya transaksi tinggi karena melibatkan banyak perantara, seperti bank, penyedia layanan, hingga lembaga pemroses pembayaran.
“Saat ini rata-rata jaringan pembayaran mengenakan biaya transaksi sekitar 2–3%. Bahkan, bisa mencapai 5–10% pada layanan pengiriman uang lintas negara. Sebaliknya, beberapa jaringan blockchain menawarkan biaya tetap yang sangat rendah — sekitar 10 sen US$ atau sekitar Rp1.660, berapa pun nilai transaksinya,” ungkapnya.
Namun, dengan teknologi blockchain, sistem ini memangkas alur yang membutuhkan banyak biaya tersebut. Siapa pun dapat membangun dan bersaing menawarkan layanan yang lebih efisien di atas jaringan yang sama. Hal ini menciptakan kompetisi sehat karena tidak ada satu pihak pun yang dapat memonopoli sistem pembayaran global.
Efisiensi ini sangat berarti, terutama bagi pelaku UMKM yang setiap rupiahnya berdampak besar terhadap kelangsungan usaha.
Begitu juga bagi para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mengirimkan uang ke tanah air tanpa harus kehilangan sebagian besar pendapatannya untuk biaya layanan perantara.
Selain itu, dalam sistem terpusat, pengguna kerap bergantung sepenuhnya pada satu otoritas, seperti perusahaan teknologi, bank, atau platform media sosial.
Contohnya, akun pengguna bisa saja ditutup sepihak tanpa proses yang jelas. Pembuat konten juga dapat kehilangan akses atau penghasilan akibat perubahan kebijakan internal yang tidak transparan.
Padahal, bagi para content creator, platform media sosial bukan sekadar sumber pendapatan, tetapi juga bagian penting dari kehidupan dan kesejahteraan mereka.
Sebaliknya, sistem blockchain bersifat terbuka dan dapat diaudit siapa pun. Setiap transaksi atau pembaruan kebijakan terekam secara permanen dan bisa diperiksa publik. Transparansi ini menutup ruang bagi tindakan sepihak atau manipulasi tersembunyi.
Kemudian, dengan sistem ini juga memungkinkan tata kelola yang demokratis.
Ia mengatakan banyak platform terpusat, seperti marketplace atau layanan transportasi daring, memiliki kewenangan penuh untuk mengubah aturan sesuai kepentingan mereka sendiri.
Misalnya, mengubah komisi bagi mitra penjual atau pengemudi tanpa persetujuan, atau mengganti algoritma yang memengaruhi visibilitas produk dan pembagian pendapatan.
“Tindakan seperti ini tidak adil bagi merchants dan riders yang sebenarnya pemeran utama dalam menyediakan layanan di platform tersebut,” ujar Steven.
Dalam sistem blockchain, setiap perubahan harus disetujui secara demokratis oleh mayoritas operator, bukan diputuskan sepihak oleh satu entitas. Mekanisme ini menciptakan tata kelola yang transparan, partisipatif, dan sulit dimanipulasi demi keuntungan kelompok tertentu.
Melalui teknologi blockchain dan ekosistem kripto, muncul peluang untuk membangun sistem ekonomi yang lebih terbuka, efisien, dan adil.
Bukan hanya soal nilai tukar mata uang digital, tetapi tentang menciptakan struktur baru di mana kekuasaan tidak lagi terpusat melainkan tersebar di tangan banyak orang.
“Blockchain pada dasarnya bukan hanya tentang teknologi finansial, tetapi tentang bagaimana teknologi dapat memulihkan keadilan ekonomi dan sosial. Ini adalah fondasi baru untuk dunia yang lebih setara,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel