Teknologi Blockchain untuk Lacak Emisi Rantai Pasok, Lebih Akurat Meski Berbiaya - Bisnis com
Teknologi Blockchain untuk Lacak Emisi Rantai Pasok, Lebih Akurat Meski Berbiaya
Bisnis.com, JAKARTA — Teknologi blockchain yang selama ini dikenal lewat mata uang kripto kini mulai digunakan untuk hal yang lebih luas, salah satunya melacak emisi karbon dalam rantai pasok perusahaan.
Dikutip dari Filmogaz, Kamis (12/2/2026), blockchain dinilai dapat membantu perusahaan mencatat emisi Scope 3 dengan lebih akurat. Scope 3 adalah emisi tidak langsung yang berasal dari aktivitas di luar operasional utama perusahaan, seperti proses produksi pemasok, pengiriman barang, hingga penggunaan produk oleh konsumen.
Emisi Scope 3 meliputi :
- Proses produksi di jaringan pemasok
- Transportasi dan distribusi barang
- Penggunaan produk oleh konsumen
Emisi jenis ini sering kali lebih besar dibandingkan emisi langsung perusahaan. World Economic Forum bahkan mencatat bahwa delapan rantai pasok global menyumbang lebih dari setengah emisi dunia.
Dilansir dari Sunday Guardian, emisi Scope 3 bisa mencapai 70% hingga 90% dari total jejak karbon perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar emisi justru berasal dari aktivitas di luar pabrik atau kantor utama.
Masalahnya, pelacakan emisi tersebut cukup rumit. Data sering kali berbeda antara satu perusahaan dan mitra bisnis lainnya. Perbedaan itu dapat memicu sengketa dan menurunkan kepercayaan dalam pelaporan.
Di sinilah blockchain berperan, teknologi ini bekerja seperti buku catatan digital bersama yang bisa diakses banyak pihak. Setiap data yang masuk akan tercatat dan sulit diubah. Dengan sistem ini, semua pihak dalam rantai pasok dapat melihat data yang sama, sehingga risiko manipulasi lebih kecil.
Penerapan blockchain ini sudah digunakan oleh Walmart. Perusahaan ritel itu mampu memangkas waktu pelacakan asal mangga di Amerika Serikat dari beberapa hari menjadi hanya hitungan detik. Hal ini menunjukkan bahwa blockchain dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam proses distribusi.
Sektor pelayaran juga sudah pernah mencoba teknologi serupa melalui platform TradeLens milik Maersk. Proyek tersebut akhirnya dihentikan karena kurangnya partisipasi industri. Kondisi ini mencerminkan keberhasilan blockchain pun sangat bergantung pada kerja sama banyak pihak.
Ke depan, blockchain juga disebut dapat digunakan untuk mengumpulkan data emisi secara langsung melalui sensor dan alat pelacak. Teknologi ini bahkan berpotensi digunakan untuk memperkuat sistem verifikasi dalam pasar kredit karbon.
Meski demikian, penggunaan blockchain tidak sepenuhnya gratis. Sistem ini membutuhkan investasi, biaya pengelolaan, serta dukungan luas dari seluruh mitra dalam rantai pasok. Tanpa tata kelola yang jelas dan partisipasi bersama, manfaatnya tidak akan optimal.