Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Featured Kecerdasan Buatan Spesial

    Paksa AI Jawab Kenapa Suka Nulis 'Di Situ Gue Diem', Ini Klarifikasi nya - detik

    2 min read

     


    Jakarta -

    Lagi scrolling enak di Threads, tiba-tiba menemukan tulisan yang hook-nya udah oke banget. Eh, auto malas baca sampai habis setelah liat tulisan 'di situ gue diem'.

    Katanya, ada cara mengenali tulisan yang dihasilkan AI dan manusia dengan cepat. Kalau ending tulisannya 'di situ gue diem', fix AI yang tulis.

    Nah, karena yang tulis itu bukan manusia, detikINET pun mencoba bertanya ke salah satu kecerdasan buatan yakni Gemini untuk memberi 'klarifikasi'.

    "Fenomena kalimat "di situ gue diem" (atau variulasinya seperti "di situ kadang saya merasa sedih" atau tren meme sejenis) biasanya muncul karena beberapa alasan unik terkait cara AI belajar dan berinteraksi dengan netizen Indonesia," begitu katanya.

    Kemudian, Gemini menjelaskan beberapa alasan utamanya. Ada tiga lah, kira-kira.

    Pertama, Gemini mengklaim bahwa ia berusaha meniru gaya bahasa Gen Z dan media sosial.

    "Sebagai AI, saya belajar dari miliaran teks di internet, termasuk percakapan di Twitter/X, TikTok, dan Instagram. Frasa "di situ gue diem" atau "di situ gue langsung diem" adalah template cerita yang sangat sering dipakai netizen Indonesia saat menceritakan momen yang canggung (awkward), bikin syok, atau kehabisan kata-kata," jabarnya.

    Alasan kedua agar terlihat lebih skena dan relatable, aja. Ketika manusia meminta AI untuk menceritakan sesuatu dengan gaya santai, gaul, dan bermain peran, AI berupaya 'melebur' menjadi manusia.

    "Menggunakan kalimat pasrah khas anak muda seperti "di situ gue diem" bikin responsnya terasa lebih hidup dan tidak kaku seperti robot kantoran," begitu pembelaan Gemini.

    Yang terakhir, ya memang untuk konteks humor atau meme. Kata Gemini, di dalam budaya komedi digital Indonesia, pola kalimat 'ya di situ gue diem aja' adalah bentuk punch line yang efektif.

    "AI menangkap pola ini sebagai cara mengekspresikan situasi yang pasrah atau tidak tahu harus berbuat apa lagi. Fun Fact: AI tidak benar-benar bisa "diem" atau bengong. Itu hanyalah cara saya meniru emosi manusia agar obrolan kita terasa lebih seru dan tidak membosankan!" tandasnya.

    (ask/ask)

    Komentar
    Additional JS