Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured India Media Sosial Spesial Telegram

    Telegram Diblokir di India, Unduhan VPN Langsung Melejit hingga 49 Persen -

    5 min read

     

    Ilustrasi: Platform instant messaging, Telegram. (Neuf).

    JawaPos.com - Pemblokiran sementara Telegram di India memicu lonjakan besar penggunaan layanan virtual private network (VPN) serta aplikasi pesan alternatif.

    Kebijakan tersebut diberlakukan pemerintah India selama sepekan karena kekhawatiran penyalahgunaan Telegram untuk penyebaran informasi palsu terkait pelaksanaan ujian nasional.

    Seperti dilansir dari TechCrunch, berdasarkan data perusahaan intelijen aplikasi Appfigures, pemerintah India mengumumkan pembatasan Telegram menjadi hari dengan jumlah unduhan VPN tertinggi di negara tersebut setidaknya sejak awal 2025.

    Unduhan berbagai aplikasi VPN utama melonjak 49 persen, dari rata-rata harian sekitar 139.000 menjadi 208.000 unduhan.

    Sejumlah layanan VPN mencatat pertumbuhan signifikan. Di App Store Apple, unduhan Proton VPN di India meningkat 113 persen, sedangkan Turbo VPN naik 85 persen.

    Sementara itu, di Google Play, Proton VPN mencatat kenaikan 64 persen dan Turbo VPN tumbuh 35 persen. NordVPN mengalami peningkatan unduhan sebesar 41 persen di App Store, sedangkan ExpressVPN naik 31 persen di Google Play.

    Peningkatan tersebut turut mendongkrak posisi sejumlah aplikasi VPN di tangga peringkat toko aplikasi. Proton VPN, misalnya, melesat dari posisi ke-18 ke posisi ke-5 kategori Utilitas di App Store antara 16 hingga 18 Juni.

    Di Google Play, aplikasi tersebut naik dari peringkat ke-8 menjadi peringkat ke-2 dalam kategori Alat.

    Lonjakan penggunaan VPN terjadi setelah pemerintah India membatasi akses Telegram hingga 22 Juni.

    Kebijakan itu diambil untuk mencegah penyebaran soal ujian palsu dan berbagai bentuk penipuan menjelang pelaksanaan ujian ulang National Eligibility cum Entrance Test (NEET), salah satu ujian masuk perguruan tinggi terbesar di India.

    Telegram sempat menggugat keputusan tersebut ke Pengadilan Tinggi Delhi dengan alasan pemerintah seharusnya hanya menindak konten bermasalah, bukan memblokir seluruh platform.

     Namun, pada Jumat lalu, pengadilan memutuskan untuk mempertahankan pembatasan tersebut.

    Dampak kebijakan itu tidak hanya terlihat dari angka unduhan aplikasi. Proton VPN mengungkapkan bahwa jumlah pendaftaran pengguna baru dari India meningkat 120 persen dibandingkan kondisi normal pada Rabu, setelah lonjakan pendaftaran per jam mencapai 150 persen pada Selasa malam, sesaat setelah pembatasan diumumkan.

    Perusahaan menyebut peningkatan tersebut sebagai fenomena yang “sangat signifikan” mengingat besarnya skala operasional mereka di India.

    Penyedia VPN asal Kanada, Windscribe, juga melaporkan tren serupa. Menurut perusahaan, jumlah pendaftaran pengguna dari India sempat mencapai dua kali lipat dari kondisi normal, sementara unduhan pertama aplikasi iOS mereka meningkat sekitar 89 persen.

    “Lonjakan di India mengikuti tren umum yang sama yang kita lihat di area yang melarang aplikasi tertentu, memberlakukan batasan usia atau persyaratan verifikasi, atau membatasi akses internet,” kata Rebecca Rosenberg, Manajer Operasi Pertumbuhan Windscribe.

    Layanan VPN lain, Surfshark, juga mencatat peningkatan permintaan dari India. Perusahaan menyebut konektivitas pengguna dari negara tersebut naik sekitar 30 persen sejak pembatasan Telegram diumumkan.

    Fenomena ini tidak hanya terjadi pada beberapa penyedia VPN tertentu. Data Sensor Tower menunjukkan bahwa unduhan aplikasi VPN secara keseluruhan di India meningkat 10 persen secara harian pada 17 Juni, membalikkan tren penurunan yang terjadi selama dua pekan sebelumnya.

    “Lonjakan permintaan untuk VPN cenderung mengikuti segala jenis pembatasan platform, terlepas dari alasannya,” ujar Laura Tyrylyte, advokat privasi di NordVPN.

    Tyrylyte menilai respons pengguna terhadap pembatasan Telegram di India menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin terbiasa menggunakan berbagai alat untuk menghindari pembatasan internet dan dapat bereaksi lebih cepat dibandingkan beberapa tahun lalu.

    Selain mencari cara untuk tetap mengakses Telegram, pengguna juga mulai beralih ke aplikasi pesan lain. Data Appfigures menunjukkan unduhan Signal di India meningkat 72 persen di App Store dan melonjak 322 persen di Google Play setelah pembatasan diberlakukan. Sementara itu, unduhan Viber di App Store naik 216 persen.

    Aplikasi pesan iMe yang terhubung dengan ekosistem Telegram mencatat salah satu lonjakan paling drastis. Menurut Appfigures, unduhan aplikasi tersebut di Google Play meningkat dari rata-rata sekitar 827 unduhan per hari menjadi lebih dari 50.900 unduhan pada 16 Juni.

    Meski demikian, pembatasan tersebut tidak langsung berdampak pada penurunan penggunaan Telegram. Sensor Tower mencatat jumlah pengguna aktif harian Telegram di India justru meningkat 17 persen pada hari pengumuman pembatasan. Angka itu menjadi kenaikan harian terbesar sejak gangguan layanan Meta yang terjadi pada 2021.

    Data lain juga menunjukkan meningkatnya upaya masyarakat untuk tetap mengakses Telegram. Kepala Cloudflare Radar, Lai Yi Ohlsen, mengatakan kepada TechCrunch bahwa permintaan DNS untuk domain Telegram dari India melonjak tajam dalam dua hari setelah pembatasan diumumkan.

    Namun, Cloudflare mengingatkan bahwa peningkatan lalu lintas DNS tidak selalu menunjukkan keberhasilan pengguna mengakses Telegram. Lonjakan tersebut bisa saja mencerminkan upaya berulang dari pengguna yang mencoba membuka platform setelah akses dibatasi.

    Dalam sidang di Pengadilan Tinggi Delhi, Telegram menegaskan telah bekerja sama dengan otoritas setempat.

    Kuasa hukum perusahaan menyatakan sejumlah kanal yang dianggap bermasalah telah dihapus sesuai permintaan pemerintah. Mereka juga mempertanyakan perlunya pembatasan menyeluruh terhadap platform yang digunakan lebih dari 150 juta orang di India.

    Di sisi lain, pemerintah India berpendapat bahwa langkah tersebut bersifat sementara dan berkaitan langsung dengan pelaksanaan ujian ulang NEET.

    Jaksa Agung Tushar Mehta menyampaikan kepada pengadilan bahwa larangan permanen mungkin menimbulkan persoalan terkait proporsionalitas kebijakan. Namun, menurutnya, pembatasan sementara yang berlaku saat ini memiliki “hubungan logis” dengan tujuan yang ingin dicapai pemerintah.

    Dalam putusannya, pengadilan menyatakan bahwa otoritas telah mengikuti prosedur yang berlaku dan mempertimbangkan situasi darurat ketika menerbitkan perintah pembatasan tersebut.

    Menurut Internet Shutdown Tracker milik Surfshark, Telegram saat ini diblokir di 13 negara dan pernah mengalami berbagai bentuk pembatasan di sedikitnya 40 negara lain dalam beberapa tahun terakhir.

    Pembatasan terhadap platform digital umumnya diikuti oleh meningkatnya permintaan terhadap layanan yang dapat mengatasi blokir tersebut.

    Sensor Tower mencatat unduhan VPN di Amerika Serikat sempat melonjak lebih dari 40 persen secara mingguan ketika TikTok sementara dihapus dari toko aplikasi pada 2025.

    Windscribe juga mengaku melihat pola serupa setelah berbagai pembatasan internet diberlakukan di negara-negara seperti Iran dan Rusia.

    Komentar
    Additional JS