Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Featured Kecerdasan Buatan Softbank Spesial

    Bos SoftBank Rela Bakar Rp 89 Ribu Triliun Tiap Tahun Demi AI - detik

    3 min read

     

    Chairman dan CEO SoftBank Group, Masayoshi Son. Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Jakarta -

    Di tengah banyaknya laporan yang menyebutkan bahwa revolusi AI tidak berjalan mulus sesuai harapan raksasa teknologi dan investor, pendiri sekaligus pemegang saham terbesar SoftBank, Masayoshi Son, tetap teguh pada pendiriannya.

    Son bertekad kuat untuk membawa teknologi AI ke masyarakat luas dan siap menggelontorkan dana fantastis demi mencapai tujuan bersejarah tersebut. Dalam konferensi perusahaan tahunan SoftBank di Tokyo, eksekutif vokal ini membeberkan sejumlah angka ambisius terkait rencana pengeluarannya.

    Son meyakini bahwa pengembangan dan penerapan AI untuk masyarakat luas akan menelan biaya hingga USD 5 triliun (sekitar 800 triliun yen) per tahunnya hingga 2040. Ia mengaku yakin angka tersebut mencerminkan biaya nyata dari sebuah revolusi AI.

    Alasannya cukup sederhana: jika pendapatan terkait AI pada akhirnya menyumbang 20% dari PDB (Produk Domestik Bruto) global pada tahun 2040, maka pengeluaran USD 5 triliun per tahun untuk mencapainya hanyalah nilai yang sangat kecil.

    Berbekal keyakinan tersebut, Son menepis mentah-mentah narasi tentang adanya gelembung AI (AI bubble). Menurutnya, mempertanyakan hal itu adalah sebuah gagasan konyol, dan orang-orang yang melontarkannya sama sekali tidak memahami apa itu AI.

    Sebagai catatan, SoftBank selama beberapa tahun terakhir memang menjadi salah satu pendukung paling antusias terhadap AI generatif dan chatbot. Mereka telah berinvestasi besar-besaran di OpenAI dan beberapa unicorn AI lainnya. Son bahkan sempat memprediksi bahwa Artificial General Intelligence (AGI) sejati akan terwujud pada tahun 2030.

    Meski Son sangat percaya diri, pasar memiliki kekhawatirannya sendiri. SoftBank memang pernah mencetak sejarah manis dengan memberikan investasi awal kepada raksasa China, Alibaba, dan membawa iPhone ke pasar Jepang. Namun, konglomerat ini juga pernah melakukan kesalahan fatal yang merugikan.

    • Kasus WeWork: Perusahaan berbagi kantor ini pernah divaluasi oleh SoftBank sebesar USD 47 miliar pada tahun 2019, namun berujung bangkrut beberapa tahun kemudian.
    • FOMO Para CEO: Beberapa survei menunjukkan bahwa banyak CEO secara pribadi meyakini gelembung AI itu nyata, namun mereka tetap berinvestasi karena dihantui rasa takut tertinggal (FOMO).
    • Penyelamat Resesi: Analis Deutsche Bank menyebut bahwa ledakan AI saat ini mungkin menjadi satu-satunya hal yang menjaga ekonomi AS dari jurang resesi.
    • Kendala Infrastruktur: Hampir setengah dari proyek data center di AS yang direncanakan rampung pada 2026 terancam molor dari jadwal, ditambah lagi dengan ketidakpastian geopolitik global.

    Revolusi AI ini bisa jadi memberikan SoftBank aliran keuntungan masif layaknya "Alibaba kedua", atau justru berubah menjadi gelembung dot-com raksasa yang siap menghanguskan dunia finansial.

    Berakhirnya Era Dominasi Manusia

    Visi paling ekstrem yang dilontarkan Son adalah mengenai masa depan peradaban. Dalam satu setengah dekade ke depan, ia percaya bahwa agen AI akan mengambil alih kendali kehidupan, dengan jumlah mencapai 100 triliun agen pada tahun 2040.

    "Kita akan beralih dari dunia yang berpusat pada manusia menjadi dunia yang berpusat pada agen. Era di mana manusia menjadi bentuk kehidupan tertinggi di Bumi akan berakhir. Baik atau buruk, hal itu akan terjadi, dan tidak bisa dihentikan," pungkas Son, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Jumat (17/7/2026).

    (asj/asj)

    Komentar
    Additional JS