PBB: Puluhan Ribu Orang Diperdagangkan ke Pusat Online Scam di Asia - Metro tv
Jenewa: Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperingatkan adanya lonjakan tajam jumlah korban yang dipaksa bekerja di kompleks penipuan daring (online scam) di Asia.
Badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyebut korban berasal dari lebih dari 80 negara dan banyak di antaranya direkrut melalui media sosial.
Dalam pernyataannya pada Selasa, 28 Juli 2026, IOM mengatakan pusat-pusat penipuan daring berskala besar di Myanmar, Kamboja, dan Laos mempekerjakan hingga sekitar 300.000 orang untuk menjalankan berbagai skema penipuan terhadap korban, yang sebagian besar menyasar warga lanjut usia di negara-negara Barat.
Namun, menurut IOM, sebagian besar pekerja di kompleks tersebut juga merupakan korban perdagangan manusia. Mereka direkrut melalui iklan lowongan kerja palsu yang menawarkan gaji tinggi bagi pelamar yang memiliki kemampuan bahasa Inggris dan latar belakang pendidikan tinggi.
Setelah tiba di lokasi, para korban disebut disita dokumen identitasnya dan dipaksa menjalankan operasi penipuan daring di bawah ancaman kekerasan dan intimidasi.
Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan banyak korban mengalami trauma, beban utang, stigma sosial, hingga kekerasan seksual atau kurungan isolasi.
"Orang-orang yang terjebak di kompleks penipuan adalah korban perdagangan manusia yang dipaksa melakukan kejahatan melalui kekerasan, ancaman, dan pemaksaan," kata Pope, dilansir dari AsiaOne, Rabu, 29 Juli 2026.
"Kita harus bekerja sama untuk mendukung para penyintas, menghentikan para pelaku perdagangan manusia, dan menutup celah yang dimanfaatkan jaringan kriminal ini," tambahnya.
IOM memperkirakan jumlah korban perdagangan manusia di kompleks penipuan tersebut mencapai puluhan ribu orang.
Jaringan Perdagangan Manusia di Asia
Dalam keterangannya kepada wartawan di Jenewa, Pope mengatakan IOM telah membantu korban dari sekitar 30 negara yang direkrut dengan modus penawaran pekerjaan palsu.
Menurutnya, jaringan perdagangan manusia itu memang berpusat di Asia, tetapi media sosial telah memperluas jangkauan perekrutan hingga ke berbagai belahan dunia.
"Karena media sosial dan kemampuan menjangkau masyarakat di begitu banyak negara, jangkauan mereka kini meningkat secara signifikan," ujarnya.
Pope juga mengungkapkan bahwa korban yang berhasil melarikan diri atau dibebaskan melalui penggerebekan pemerintah terkadang masih menghadapi ancaman tuntutan pidana.
Ia memuji langkah sejumlah negara, termasuk Thailand, yang mulai meningkatkan upaya mengidentifikasi kompleks penipuan tersebut. Namun, menurutnya, masih diperlukan langkah lebih besar untuk menemukan pusat-pusat operasi yang berada di wilayah terpencil Asia dengan penegakan hukum yang lemah.
IOM menyerukan dukungan berkelanjutan untuk melindungi korban perdagangan manusia melalui perlindungan, pemulangan secara aman, serta reintegrasi ke masyarakat. Badan PBB itu juga meminta peningkatan kampanye kesadaran mengenai modus yang digunakan jaringan perdagangan manusia agar masyarakat dapat mengenali risikonya dan mengetahui ke mana harus mencari bantuan.
Baca juga: Jumlah WNI Minta Dipulangkan dari Kamboja Melonjak usai Razia Online Scam