Standar Rekrutmen Kerja Naik Gara-Gara AI - Merdeka
Berbagai alat berbasis AI kini semakin memudahkan desainer untuk menciptakan prototipe interaktif yang rapi dan berfungsi penuh dalam waktu singkat, bahkan tanpa latar belakang teknis yang mendalam.
Standardisasi perekrutan tenaga kerja kini semakin ketat seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Vice President of Product Design Figma, Noah Levin, mengungkapkan bahwa calon desainer produk kini dituntut memberikan nilai tambah agar mampu memikat perekrut saat proses wawancara kerja.
Levin menjelaskan bahwa berbagai alat berbasis AI kini semakin memudahkan desainer untuk menciptakan prototipe interaktif yang rapi dan berfungsi penuh dalam waktu singkat, bahkan tanpa latar belakang teknis yang mendalam.
"Satu hal yang banyak berubah adalah AI memungkinkan Anda membuat prototipe dari ide-ide Anda dalam waktu singkat tanpa pengetahuan teknis," ujar Levin, dilansir dari Business Insider.
Kondisi ini jauh berbeda dibanding satu dekade lalu, ketika desainer kesulitan mengeksekusi ide menjadi produk nyata akibat keterbatasan teknis dan rumitnya proses pemuatan.
Dengan kemudahan teknologi saat ini, Figma mengharuskan setiap pelamar menyajikan karya mereka dalam tingkat akurasi dan detail antarmuka (fidelity) setinggi mungkin. Levin menekankan pentingnya kandidat untuk selalu up-to-datedan berani bereksperimen dengan berbagai perangkat AI terbaru.
Walau demikian, kemudahan AI bukan berarti kandidat bisa menyajikan hasil generasi AI secara mentah atau asal-asalan. Menurut Levin, esensi peran desainer tidak pernah berubah: memecahkan masalah pengguna dan menjaga kualitas keahlian (craftsmanship).
"Kami ingin melihat kandidat memasukkan identitas diri ke dalam karyanya, bukan sekadar mengandalkan hasil bawaan dari AI," tegas mantan pimpinan tim UX ClassPass dan desainer Google tersebut.
Kandidat yang Disukai
Menariknya, Levin justru menyukai kandidat yang berani menunjukkan prototipe produk yang gagal selama proses eksperimen. Ia mengungkapkan bahwa di balik setiap peluncuran fitur dalam konferensi tahunan Figma (Config), terdapat ratusan ide dan mock-up yang gugur sebelum menemukan hasil akhir terbaik. Proses berpikir dan pembelajaran dari kegagalan itulah yang justru sering luput dipamerkan oleh para pelamar.
Sikap Figma ini sejalan dengan tren industri saat ini, di mana platform vibe coding seperti Lovable, Base44, dan Emergent, serta platform desain seperti Canva dan Wix, semakin mempermudah masyarakat awam merancang produk digital hanya lewat perintah (prompt) sederhana.
Meski demikian, pimpinan Figma menegaskan bahwa kemajuan AI tidak akan menggerus nilai dari seorang desainer profesional. CEO Figma, Dylan Field, menyebutkan bahwa hasil desain buatan AI saat ini masih berada di level rata-rata. Kehadiran AI justru bertugas menghapus pekerjaan monoton (drudgery) dalam proses kreatif, sehingga membuka ruang bagi para desainer kelas dunia untuk mengeksplorasi batasan kreativitas mereka lebih jauh lagi.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani