AI Ini Bisa Bikin "Manusia Virtual" untuk Uji Coba, Jumlahnya Setara Populasi Dunia - Kompas
KOMPAS.com - Sebuah produk baru biasanya diuji coba terlebih dahulu oleh manusia. Tujuannya agar bisa melihat apakah produk tersebut layak dirilis secara massal atau tidak.
Biasanya, orang-orang yang terlibat dalam pengujian jumlahnya terbatas. Namun kini, perusahaan bisa menguji produk baru secara cepat kepada miliaran pengguna sebelum produk tersebut benar-benar dipakai
Hal tersebut mulai diwujudkan oleh peneliti dari Harvard University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford University, dan sejumlah institusi lainnya lewat sistem kecerdasan buatan (AI) bernama MatrAIx.
Baca juga: Perusahaan Bimbel Online Bangkrut gara-gara ChatGPT
AI ini diklaim mampu mensimulasikan hingga 8,3 miliar persona pengguna menjadi "manusia virtual", kurang lebih sama seperti total populasi planet Bumi terkini menurut data Worldometer.
China Akan Kirim 1.000 Satelit ke Antariksa, Ciptakan "Otak Luar Angkasa"
Jumlah tersebut bukan berarti ada 8,3 miliar chatbot yang berjalan bersamaan, melainkan 8,3 miliar catatan persona yang direpresentasikan menggunakan 1.290 dimensi karakteristik.
Baca Juga :
Dimensi tersebut digunakan untuk menggambarkan beragam atribut pengguna, mulai dari latar belakang hingga karakteristik psikologis, kemampuan, dan perilaku.
Baca juga: Sering Merasa Lelah saat Pakai AI? Ternyata Ada Penelitiannya
Untuk penelitian, tim MatrAIx juga menyediakan coreset yang telah melalui penyaringan kualitas, berisi sekitar 1 juta persona, yang terdiri dari 599.847 persona berbasis manusia (human-grounded) dan 400.000 persona sintetis.
Dataset MatrAIx sendiri menggabungkan berbagai sumber data. Di antaranya StackExchange, General Social Survey (GSS), Afrobarometer, Amazon Reviews, serta sejumlah dataset persona sintetis dan sumber persona lainnya.
Dengan pendekatan ini, MatrAIx memungkinkan peneliti dan pengembang menguji bagaimana pengguna dengan karakteristik berbeda kemungkinan merespons produk digital, survei, chatbot, website, hingga aplikasi.
Baca juga: Psikolog Ingatkan, Jangan Sering-sering Curhat ke ChatGPT dkk
Dipakai untuk mengulas produk
Menurut para peneliti yang terlibat, MatrAIx dirancang untuk membantu perusahaan dan pengembang menguji produk digital, chatbot, survei, website, hingga aplikasi menggunakan pengguna virtual dengan karakteristik yang beragam.
Ini artinya, miliaran AI bisa dipakai untuk mengulas produk secara praktis, cepat, dan mudah dalam skala besar, tanpa paksaan dan keterlibatan manusia.
Secara teknis, MatrAIx menyediakan empat lingkungan pengujian, yakni Survey, AI Chatbot, Web, dan App.
Baca juga: 6 Hal Ini Ternyata Paling Sering Dilakukan Orang di ChatGPT
Dengan kata lain, pengguna virtual dapat diminta mengisi survei, berinteraksi dengan chatbot layanan pelanggan, mencoba website, atau menjalankan tugas tertentu di sebuah aplikasi.
MatrAIx juga menyediakan 1.010 tugas aplikasi yang mencakup lebih dari 25 bidang, termasuk perdagangan, software, keuangan, dan layanan kesehatan.
Misalnya, sebuah perusahaan ingin mengetahui apakah kenaikan harga akan membuat konsumen meninggalkan produknya.
Baca juga: Riset Anthropic: Dibanding Programmer, Profesi Guru Lebih Susah Digantikan AI
Alih-alih langsung merekrut ribuan responden, perusahaan dapat menjalankan simulasi menggunakan persona dengan karakteristik berbeda.
Ada pengguna yang sensitif terhadap harga, pengguna yang loyal terhadap merek, hingga pengguna yang masih mau membayar lebih mahal selama layanan tetap memuaskan.
Peneliti MatrAIx mengatakan simulasi mereka bahkan dapat menangkap perbedaan respons seperti keraguan setelah harga dinaikkan, keinginan melanjutkan penggunaan setelah chatbot AI gagal membantu, hingga toleransi pengguna terhadap waktu tunggu.
Baca juga: AI Disuruh Mematikan AI Lain, Responsnya Bikin Khawatir
Lebih efisien, tapi bisa gantikan manusia?

Lihat Foto
Kemunculan MatrAIx bisa menimbulkan satu pertanyaan.
Jika perusahaan bisa menguji ribuan atau bahkan jutaan skenario menggunakan pengguna virtual, apakah mereka masih membutuhkan manusia untuk melakukan riset pasar?
Baca juga: AI Mulai Geser Pekerjaan Repetitif, Skill Baru Ini Makin Dicari Perusahaan
Pengujian dengan AI seperti ini secara logika memang dapat dilakukan jauh lebih cepat dan dalam jumlah jauh lebih besar dibandingkan merekrut responden manusia satu per satu.
Perusahaan juga dapat menggunakan simulasi untuk menyaring berbagai ide lebih efisien, sebelum mengeluarkan biaya untuk pengujian dengan konsumen sungguhan.
Namun, MatrAIx sendiri disebut tidak memosisikan pengguna virtual sebagai pengganti manusia sepenuhnya.
Baca juga: China Catat Kemenangan Penting atas AS, Skor Nvidia Jadi Bukti
Sistem tersebut lebih tepat digunakan sebagai alat eksplorasi dan pengujian awal. Kenapa begitu? Karena simulasi tetap merupakan simulasi.
AI mungkin bisa meniru respons seseorang berdasarkan profil tertentu, tetapi belum tentu bisa memprediksi bagaimana konsumen sungguhan akan bertindak ketika berhadapan dengan produk nyata, uang sungguhan, atau pengalaman buruk yang tidak direncanakan.
Dengan kata lain, AI bisa membantu perusahaan menemukan masalah lebih awal, tetapi keputusan akhir tetap idealnya diuji kepada manusia.
Baca juga: Induk TikTok Siapkan Model AI Terbesar dari China
AI bisa salah memahami manusia
Selain penggantian ulasan dari manusia, ancaman lainnya juga datang dari perusahaan yang mungkin bisa terlalu percaya pada hasil simulasi yang dilakukan AI.
Apabila sebuah produk dinilai sukses oleh pengguna virtual, belum tentu manusia sungguhan memberikan respons yang sama. Begitu pula sebaliknya.
Manusia memiliki perilaku yang sering kali sulit diprediksi. Seseorang bisa mengatakan menyukai sebuah produk ketika mengisi survei, tetapi nyatanya mereka tidak pernah menggunakannya.
Baca juga: Cloudflare Kenalkan Kitesurf, Browser Khusus untuk Agen AI
Pengguna juga bisa mengatakan harga terlalu mahal, tetapi tetap membeli karena alasan emosional. Bahkan keputusan yang terlihat tidak rasional dapat menjadi faktor penting dalam keberhasilan sebuah produk.
Karena itu, hasil dari pengguna virtual agaknya dipandang sebagai alat untuk menemukan pertanyaan dan masalah baru, bukan sebagai jawaban final.
Dalam pengujian MatrAIx sendiri, tim melakukan 400 uji terkontrol untuk mengukur apakah persona tetap mengikuti karakteristik yang telah ditentukan.
Hasilnya, perilaku yang dinyatakan dalam persona berhasil ditampilkan atau ditekan sesuai konteks dalam 366 pengujian atau sekitar 91,5 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa teknologi ini sudah cukup mampu menjaga karakter persona, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa simulasi tidak selalu sempurna.
Baca juga: Booming AI Bikin Ekonomi Singapura Melesat, Proyeksi 2026 Direvisi Naik
Jadi, manusia tak lagi dibutuhkan?

Lihat Foto
Dengan adanya AI ini, apakah manusia tak lagi dibutuhkan? Untuk saat ini, jawabannya tampaknya belum.
Sebagaimana dirangkum KompasTekno dari StartupFortune, MatrAIx lebih tepat dianggap sebagai semacam "filter awal" sebelum perusahaan melakukan pengujian kepada manusia.
Baca juga: Ketika Daerah Mulai Melawan Pusat
Perusahaan bisa menguji puluhan ribu ide, menemukan masalah yang paling mencolok, kemudian memilih beberapa ide terbaik untuk diuji kepada konsumen sungguhan.
Model seperti ini berpotensi mengubah cara riset produk dilakukan. Bukan berarti manusia langsung tersingkir, tetapi jumlah pekerjaan yang sebelumnya harus dilakukan manusia bisa berkurang.
Apabila teknologi tersebut semakin akurat dan murah, perusahaan mungkin tidak lagi membutuhkan ribuan responden untuk setiap tahap awal pengembangan produk.
Baca juga: Jaringan WN India Olah 30 Kg Emas Ilegal Per Hari, Nilainya Hampir Rp 3 T Per Bulan
Pada akhirnya, tantangannya bukan sekadar apakah AI bisa mensimulasikan 8,3 miliar pengguna.
Pertanyaan yang lebih penting adalah, seberapa jauh perusahaan berani mempercayai pengguna yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ada?
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT