Google Tarik Fitur AI Google Earth, Seberapa Bahaya Gambar Rekayasanya - Media Indonesia
RAKSAKSA teknologi Google resmi menarik kembali fitur visualisasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada layanan Google Earth pada Jumat (31/7), hanya sehari setelah diluncurkan. Langkah ini diambil usai gelombang penolakan keras dari pakar verifikasi digital dan peneliti yang menilai fitur tersebut membahayakan kebenaran informasi.
Fitur create image yang memadukan teknologi AI Nano Banana 2 itu sebelumnya memungkinkan pengguna merekayasa citra satelit, peta 3D, dan foto udara menjadi visual baru dalam hitungan detik. Langkah Google yang menyematkan pembuat gambar otomatis di platform rujukan utama pemeriksaan fakta dunia tersebut memicu kecaman luas.
"Kami menyadari masyarakat memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap Google Earth sebagai acuan dunia yang andal. Kami menarik kembali fitur ini selagi kami menerapkan batasan pengaman yang lebih kuat," ujar juru bicara Google merespons polemik tersebut.
Kekhawatiran para pakar terbukti beralasan. Dalam uji coba independent, fitur tersebut sanggup memproduksi citra satelit palsu dengan detail presisi yang berpotensi memicu krisis geopolitik, seperti rekayasa ledakan di Paris, lokasi fasilitas nuklir di Iran, kawah bom di Rusia, hingga pemandangan kamp militer di Suriah.
Pakar investigasi digital Henk Van Ess menyindir keras langkah Google yang dinilai merusak kredibilitas platformnya sendiri.
"Google menghabiskan waktu 20 tahun untuk membangun rujukan yang dipercaya dunia. Hari ini mereka menambahkan tombol yang membuat hal-hal rekayasa," tegas Henk Van Ess.
Peringatan senada disampaikan Executive Director Centre for Information Resilience Ross Burley. Ia menyoroti bahaya manipulasi visual yang dapat meruntuhkan legitimasi pemetaan satelit.
"Kepercayaan terhadap citra satelit membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dibangun dan dapat rusak tak berbekas hanya dalam semalam," ujar Ross Burley.
Ancamannya dianggap makin krusial mengingat citra satelit buatan sering kali memicu kekacauan nyata. Insiden foto AI ledakan gedung Pentagon pada 2023 lalu tercatat sempat mengguncang pasar saham global secara mendadak.
Merespons potensi kekacauan informasi yang dapat meluas, Google akhirnya menghapus opsi tombol rekayasa gambar tersebut dari seluruh jaringan layanan Google Earth. (AFP/P-4)