Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Tidak Ada Kategori

    Ini Bukti HP Bekas Sekarang Lebih Diminati dari HP Baru - Kompas

    6 min read

     

    KOMPAS.com - Harga smartphone yang semakin mahal membuat pasar ponsel bekas dan rekondisi ikut mendapat angin segar. 

    Ketika membeli HP baru membutuhkan biaya lebih besar, memperbaiki perangkat lama atau memilih versi "bekas" menjadi alternatif utama.

    Hal tersebut terlihat dari meningkatnya pengiriman panel layar untuk pasar HP bekas.

    Untuk pertama kalinya, jumlah panel yang dikirim untuk memperbaiki dan merekondisi HP lama lebih banyak dibandingkan panel yang dikirim untuk membuat ponsel baru.

    Molinas dan Risiko Mengulang Proyek Kendaraan Nasional

    Baca juga: iPhone Jadi HP Bekas Terlaris, Ini Seri yang Paling Diminati

    Menurut laporan perusahaan riset Omdia, produsen panel mengirim 298 juta panel layar ke pasar HP rekondisi pada kuartal I-2026. Sementara itu, pengiriman panel untuk produsen smartphone baru hanya mencapai 289 juta unit.

    Selisihnya memang tidak terlalu jauh, yakni sekitar 9 juta unit. Namun, ini menjadi pertama kalinya kebutuhan panel untuk pasar HP rekondisi melampaui kebutuhan produksi HP baru.

    Pasar HP rekondisi juga tumbuh cukup pesat. Riset menunjukkan, pengiriman panel untuk kategori ini naik 20 persen dibandingkan kuartal I-2025. 

    HP bekas mulai dapat "kehidupan kedua"

    Angka 298 juta panel tersebut bukan berarti ada 298 juta HP bekas yang terjual.

    Omdia sendiri memasukkan sejumlah ketentuan ke dalam kategori pasar rekondisi. Misalnya, panel untuk mengganti layar HP yang rusak, memperbaiki perangkat, hingga merakit kembali HP bekas agar siap dijual.

    Yang menarik, ponsel yang masuk ke pasar rekondisi juga bukan hanya perangkat murah. Pada periode yang sama, panel OLED tercatat menyumbang 7 persen dari pengiriman panel ke pasar rekondisi.

    Suasana konter HP di sentra ponsel Pusat Grosir Cililitan (PGC)

    Lihat Foto

    Padahal, setahun sebelumnya, porsinya baru 2 persen. Adapun menurut Omdia, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa HP premium yang sudah berusia sekitar tiga atau empat tahun mulai dapat "kehidupan kedua" lewat pasar rekondisi.

    HP baru semakin mahal

    Pertumbuhan pasar HP bekas dan rekondisi terjadi ketika harga smartphone baru semakin tinggi.

    Salah satu penyebabnya adalah harga memori yang meningkat. Komponen seperti DRAM dan NAND menjadi lebih mahal sehingga biaya membuat smartphone ikut naik.

    Kenaikan biaya tersebut, menurut Omdia, membuat produsen harus lebih berhati-hati dalam memproduksi HP baru, terutama di segmen harga murah.

    Perusahaan riset tersebut bahkan memperkirakan kebutuhan panel untuk smartphone baru akan turun 12 persen sepanjang 2026. 

    Baca juga: HP Rekondisi Makin Populer pada 2021, Pertumbuhannya Kalahkan Smartphone Baru

    Pengiriman smartphone global juga turun 6 persen pada kuartal II-2026. Jumlahnya menjadi 272 juta unit, dari 288,9 juta unit pada periode yang sama tahun lalu.

    Di sisi lain, harga HP yang sudah naik juga belum tentu bisa kembali seperti sebelumnya ketika harga memori nantinya turun. 

    Omdia menilai konsumen sudah mulai terbiasa membeli smartphone dengan harga yang lebih tinggi. Kondisi ini memberi ruang bagi produsen untuk mempertahankan harga di level tersebut.

    Omdia menyebutnya sebagai "structural repricing". Istilah ini menggambarkan kondisi di mana harga HP yang sudah naik selama setahun terakhir berpotensi menjadi "standar baru", bukan sekadar kenaikan sementara akibat kelangkaan memori. 

    Jika kondisi ini berlanjut, HP bekas dan rekondisi berpeluang menjadi alternatif utama bagi konsumen yang ingin mendapatkan smartphone dengan harga lebih terjangkau, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari TheNextWeb.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Pengamat: Milenial dan Gen Z Tak Lagi Loyal pada Merek Mobil

    Komentar
    Additional JS