Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Komputer Perang Dunia II Sejarah Spesial

    Komputer Penyelamat Perang Dunia II Ini Dirahasiakan 82 Tahun dan Kini Diakui - Kompas

    9 min read

     

    KOMPAS.com - Komputer Colossus diyakini turut mempersingkat durasi Perang Dunia II dan menyelamatkan jutaan nyawa manusia, berkat perannya membongkar sandi rahasia militer Jerman.

    Mesin yang disebut-sebut sebagai komputer digital elektronik terprogram skala besar pertama di dunia ini kini resmi dikukuhkan sebagai IEEE Milestone. Upacara penghargaannya dijadwalkan digelar 29 September 2026 di Bletchley Park, Inggris, markas pemecah sandi Inggris pada Perang Dunia II.

    Pengakuan ini bisa dibilang sangat terlambat. Pasalnya, mesin yang beroperasi penuh pada era Perang Dunia II tersebut sempat dirahasiakan keberadaannya oleh pemerintah Inggris selama puluhan tahun.

    Colossus adalah komputer digital elektronik pertama di dunia yang dapat diprogram (programmable). Mesin raksasa yang dipenuhi ribuan tabung vakum ini dirancang pada tahun 1943 oleh insinyur jenius asal Inggris, Tommy Flowers.

    Iran Lumat "Mata-mata" Langit AS, Misteri Hancurnya Pusat Data Amazon di Teluk

    Pada masa itu, mereka menempatkan mesin itu secara diam?diam di Bletchley Park, pusat pemecahan sandi intelijen Inggris. Tugas utama Colossus sangat penting, yaitu memecahkan sistem enkripsi Lorenz yang sangat rumit.

    Sebagai catatan, mesin sandi Lorenz jauh lebih kompleks dibandingkan Enigma. Sandi ini digunakan langsung oleh pemimpin militer Jerman, termasuk Adolf Hitler, untuk mengirim pesan strategi militer tingkat tinggi.

    Berkat kecepatan operasional Colossus dalam membaca pita kertas, pasukan Sekutu berhasil menyadap dan mengetahui strategi pergerakan Jerman. Informasi intelijen dari komputer ini bahkan disebut-sebut sukses menyelamatkan puluhan ribu nyawa dan memperpendek durasi perang di Eropa secara signifikan.

    Lantas, mengapa nama Colossus kalah tenar di buku sejarah jika dibandingkan dengan mesin pemecah kode buatan Alan Turing? Jawabannya ada pada status kerahasiaan tingkat tinggi pada masa itu.

    Setelah Perang Dunia II usai, pemerintah Inggris ternyata memerintahkan agar seluruh unit Colossus dibongkar dan dihancurkan. Tujuannya sangat jelas, agar teknologi canggih ini tidak jatuh ke tangan musuh pada masa awal Perang Dingin.

    Bahkan, Tommy Flowers beserta tim insinyurnya dilarang keras membicarakan karya mereka kepada siapa pun.

    Keberadaan komputer elektronik pertama ini baru mulai dibocorkan ke publik pada era 1970-an, sebelum akhirnya dokumen teknisnya benar-benar dibuka pada awal dekade 2000-an.

    Kini, sejarah itu resmi diukir setelah 82 tahun. Plakat IEEE Milestone telah dipasang di Bletchley Park untuk menghormati kejeniusan para insinyur yang bekerja di balik layar.

    Penganugerahan ini menjadi penanda bahwa desain Colossus merupakan fondasi penting dari era komputasi elektronik modern yang kita nikmati saat ini, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari laporan IEEE Spectrum.

    Bagi para penggemar sejarah teknologi yang penasaran melihat wujudnya, Anda kini tidak perlu lagi menebak-nebak wujud mesin rahasia ini.

    Replika mesin Colossus yang dibangun ulang dengan komponen yang sangat akurat sekarang dipamerkan dan bisa dilihat langsung oleh publik di The National Museum of Computing, Inggris.

    Baca juga: Hard Disk 1 GB Pertama di Dunia Beratnya 29 Kg, Mirip Mesin Mobil

    Sejarah Colossus

    Kisahnya bermula pada 1941, ketika seorang operator radio Inggris yang memantau frekuensi militer Jerman mendengar sesuatu yang aneh lewat headphone-nya.

    Bunyi yang didengarnya kemudian dijuluki "musik aneh" oleh laporan intelijen saat itu, sebuah dengungan ritmis kode teleks biner yang dikirim dengan kecepatan tinggi, jauh berbeda dari bunyi dit-dit-dah khas pesan terenkripsi jaringan Enigma yang sudah lebih dulu dikenal.

    Rupanya, insinyur Jerman telah mengembangkan sistem enkripsi dan transmisi baru yang jauh lebih canggih dibanding Enigma.

    Inggris menjuluki mesin enkripsi misterius ini "Tunny", istilah lain untuk ikan tuna, mengikuti tradisi penamaan bercorak ikan yang sebelumnya dipakai untuk mesin-mesin Enigma.

    Petunjuk penting datang dari setiap pesan yang berhasil disadap selalu diawali daftar 12 nama Jerman yang tidak dienkripsi, seperti Anton, Bertha, Conrad, dan Dora.

    Para pemecah sandi menduga mesin Tunny memakai 12 roda enkripsi, dan urutan nama-nama itu menjadi kode pengaturan posisi roda bagi operator penerima pesan.

    Pembongkar kode John Tiltman kemudian mendapat menemukan dua pesan sadapan sepanjang sekitar 1.200 karakter yang ternyata memakai urutan nama sama persis, salah satunya rupanya ketikan ulang dari pesan lainnya. Tiltman berhasil mendekripsi keduanya lewat kombinasi tebakan cerdas dan intuisi.

    Dari situ, pemecah sandi lain bernama Bill Tutte menghabiskan berminggu-minggu mempelajari pasangan teks sandi dan teks asli tersebut, hingga akhirnya berhasil menjabarkan cara kerja mesin Tunny dengan akurat.

    Ahli matematika Alan Turing, yang sebelumnya sukses membongkar Enigma, kemudian menciptakan metode bernama "Turingery" untuk menebak posisi pin di tiap roda mesin Tunny hanya dari teks sandi yang disadap, tanpa perlu daftar nama di awal pesan.

    Berkat Turingery, para pemecah sandi berhasil mendekripsi 1,5 juta huruf teks sandi Tunny selama setahun.

    Namun, metode ini mulai kehilangan efektivitas begitu pihak Jerman menghapus daftar nama di awal pesan.

    Untungnya, Tutte sudah lebih dulu merancang metode dekripsi lain mesin Tunny itu sendiri, meski penerapannya lewat perhitungan manual bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk satu pesan saja.

    Di titik inilah dibutuhkan sebuah mesin untuk mengotomatisasi seluruh prosesnya.

    Baca juga: Mengenal V-Mail, E-Mail yang Populer di Era Perang Dunia II

    Mesin dari 2.000 tabung vakum

    Insinyur Tommy Flowers, yang sebelumnya membuat perangkat pemecah sandi terkait Enigma untuk Turing, direkomendasikan untuk menangani proyek mesin elektromagnetik yang mangkrak karena masalah desain sirkuit.

    Berbekal pengalamannya merancang peralatan switching eksperimental dengan ribuan tabung vakum di Post Office Research Station, Flowers menemukan bahwa tabung vakum justru lebih andal jika dibiarkan menyala terus-menerus, alih-alih sering dinyalakan-matikan seperti anggapan umum saat itu.

    Ia mengusulkan membangun mesin elektronik berkecepatan tinggi dengan sekitar 2.000 tabung vakum kepada para penasihat Bletchley Park. Usul ini ditolak karena dianggap tidak akan bekerja dengan baik.

    Tak menyerah, Flowers kembali ke laboratoriumnya di London dan diam-diam membangun sendiri mesin yang ia yakini dibutuhkan para pemecah sandi. Bersama tim insinyur kecilnya, ia bekerja siang malam selama 10 bulan untuk merampungkan Colossus.

    Baca juga: Komputer Bersejarah Nyaris Berakhir Jadi Rak Buku

    Pada Januari 1944, insinyur Flowers tiba di Bletchley Park membawa Colossus di atas truk. Mesin ini berhasil dirakit ulang dan berfungsi dalam waktu sekitar dua minggu, lalu berhasil membongkar pesan Jerman pertamanya pada 5 Februari 1944.

    Colossus membaca masukan berupa teks sandi Tunny secara fotoelektrik dari gulungan pita kertas berlubang, lalu hasilnya dicetak lewat printer sederhana rakitan mesin ketik manual yang dimodifikasi timnya.

    Colossus II dibangun menjelang D-Day

    Setelah kesuksesan Colossus pertama, para pengelola Bletchley Park yang tadinya skeptis pun meminta lebih banyak unit serupa.

    Flowers merampungkan Colossus II pada Juni 1944, hanya beberapa hari sebelum D-Day dan invasi Sekutu ke Eropa.

    Dengan 2.400 tabung vakum, sekitar 800 lebih banyak dibanding Colossus pertama, Colossus II mampu memproses pesan Tunny dengan kecepatan luar biasa, 25.000 karakter per detik.

    Kecepatan ini disebut nyaris menyamai performa chip mikroprosesor pertama buatan Intel yang baru muncul lebih dari 30 tahun kemudian pada dekade 1970-an.

    Flowers sendiri mengakui Colossus jauh lebih primitif dibanding komputer modern, namun menegaskan mesinnya sudah memuat fitur-fitur dasar komputer masa kini, mulai dari clock pulse, bit-stream generator, sirkuit kontrol, loop, counter, shift register, interrupt, hingga pemrosesan paralel.

    Baca juga: Apa Itu Cyberdeck? Komputer Rakitan yang Sedang Populer di Kalangan Gen Z

    Menyelamatkan jutaan nyawa

    Seiring Sekutu perlahan bertempur menuju Jerman, Colossus terus bekerja membongkar enkripsi, dan para pemecah kode memberi militer informasi soal strategi, kekuatan, kelemahan, dan niat taktis Jerman.

    Bahkan dengan sekian banyak informasi intelijen detail itu, butuh waktu hampir setahun bagi Sekutu untuk bergerak dari Perancis Utara sampai ke jantung Jerman.

    Tidak ada yang bisa memastikan berapa lama lagi pertempuran akan berlangsung kalau terobosan intelijen ini tidak terjadi.

    Namun kalau Colossus dan para pemecah kode berhasil mempersingkat perang bahkan cuma enam bulan saja, jumlah nyawa yang terselamatkan bisa mencapai jutaan.

    Sampai akhir perang, ada 10 unit Colossus di Bletchley Park, ditempatkan di dua bangunan baja yang tahan bom, beroperasi siang dan malam.

    Saat perang berakhir, pemerintah Inggris memutuskan kerahasiaan harus tetap dijaga, dan perintah pun dikeluarkan untuk membongkar seluruh Colossus. Cuma dua unit yang diselamatkan.

    Baca juga: Tim Berners Lee, Bapak Internet yang Enggan Patenkan Temuannya

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS