Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Kecerdasan Buatan AI Slop Featured Internet LinkedIn Media Sosial Spesial

    LinkedIn perketat aturan konten otomatis lewat tombol deteksi "terlihat seperti AI slop" -

    4 min read

     

    LinkedIn mengambil langkah untuk membendung banjir unggahan dan komentar otomatis di platformnya, dengan meluncurkan tombol deteksi "AI slop" sekaligus mengurangi fitur yang sebelumnya justru mendorong penggunaan AI dalam menulis.

    Perubahan yang diumumkan pada 31 Juli ini menunjukkan upaya perusahaan untuk mengutamakan keaslian dan percakapan yang bermakna, ketimbang otomatisasi yang generik.

    Platform ini sudah menghapus fitur "Write with AI" dan "Enhance your post" yang sebelumnya ditawarkan sebagai fitur premium, dan akan menggantinya dengan fitur proofreading.

    Hari Srinivasan, VP of product LinkedIn, menjelaskan dalam sebuah unggahan bahwa para pengguna datang ke LinkedIn "untuk terhubung dengan orang-orang sungguhan dan berbagi perspektif, ide, serta keahlian mereka yang otentik." Ia mencatat bahwa perusahaan sudah memblokir miliaran komentar otomatis dalam beberapa bulan terakhir dan kini menerapkan classifier baru untuk mengenali unggahan berkualitas rendah atau hasil AI. "Ini akan mengurangi jumlah AI slop yang mungkin kamu lihat di konten yang disarankan maupun konten dari luar jaringanmu," tulisnya.

    Laura Lorenzetti, VP sekaligus executive editor di LinkedIn Global Editorial, menyebut dalam sebuah newsletter yang diterbitkan ulang di newsroom platform tersebut bahwa uji coba awal menunjukkan sistem ini mampu mengenali konten generik dengan akurasi 94%. Ia menambahkan bahwa classifier yang dikembangkan bersama tim editorial LinkedIn ini tidak hanya menyasar unggahan, tetapi juga menangkap perilaku otomatis seperti "komentar dengan sedikit atau tanpa keterlibatan manusia" dan "respons yang sekadar mengulang isi unggahan asli tanpa menambahkan apa pun yang baru."

    Peluncuran fitur ini memicu perdebatan di kalangan pengguna LinkedIn. Sebagian menyambutnya sebagai langkah yang seharusnya sudah lama diambil. Mereka memuji platform ini karena akhirnya bertanggung jawab dan mengalihkan peran AI ke arah proofreading serta dukungan sitasi. Sebagian lain justru skeptis. Mereka mengingatkan bahwa sifat subjektif label "terlihat seperti AI slop" berpotensi disalahgunakan.

    Salah satu pengguna berkomentar, "Fitur proofreading dan penarikan sitasi bisa jadi fitur yang bagus! Penasaran bagaimana cara kerja deteksi AI-nya, karena ini seperti pedang bermata dua kalau diterapkan pada konten yang diunggah pengguna."

    "Saya merasa cukup ambivalen dengan pembaruan ini. Saya lebih ingin LinkedIn berhenti menampilkan unggahan yang tidak saya inginkan begitu saya bilang tidak mau melihatnya. Slop tetap slop, entah buatan AI atau bukan. Sekarang LinkedIn justru memberi orang alat baru untuk menuduh orang lain secara tidak adil."

    Pengguna lain berkata, "Saya senang membaca LinkedIn akhirnya mulai bertindak, meski agak terlambat, tapi satu-satunya cara mengembalikan jin ke dalam botol adalah dengan menandai dan menurunkan peringkat (lewat algoritma) apa pun yang mengandung penanda AI. Saya sudah melihat peringatan yang ditempelkan pada grafis buatan AI, dan itu langkah positif. Solusi terbaik adalah memberi imbalan pada tulisan dan desain yang jujur meski tidak sempurna, yang jelas-jelas dibuat manusia yang hidup dan bernapas dengan pikirannya sendiri, sekalipun terlihat kalah dibanding LLM yang serba bisa."

    Kekhawatiran soal aksesibilitas juga muncul di kalangan profesional yang mengandalkan alat AI untuk disleksia, ADHD, afasia, atau dukungan bahasa. Salah satu pengguna bahkan mempertanyakan apakah langkah ini justru merugikan mereka yang menggunakan AI sebagai alat bantu. "Dalam kasus seperti itu, AI bukan menggantikan pemikiran otentik, melainkan membantu orang menyampaikan idenya sendiri," tulis salah satu pengguna.

    Erika Madriñan, co-founder sekaligus COO Near Creative, yang sebelumnya pernah berbagi pandangannya dengan Campaign Asia-Pacific, ikut berkomentar lewat unggahannya sendiri. Ia membedakan antara konten yang ditulis AI dan yang dibantu AI. "Bahan mentahnya selalu milik saya sendiri: tantangan saat saya pindah ke luar negeri, masa-masa sulit di agensi saya, rutinitas produktivitas saya, masukan yang saya terima dari pekerjaan," tulisnya.

    Meski platform jejaring profesional dengan 310 juta pengguna aktif bulanan ini yakin moderasi yang lebih ketat akan mengangkat suara-suara otentik, reaksi yang beragam ini justru memperlihatkan betapa rumitnya mendefinisikan, dan menegakkan, apa yang disebut "slop" di tempat kerja digital yang kian dibentuk oleh AI.

    Seiring fitur baru ini memasuki tahap adopsi, LinkedIn akan menguji cara untuk menandai konten secara privat di dashboard analitik kreator, ketika anggota merasa sebuah unggahan terkesan tidak otentik atau terlalu bergantung pada AI. Hari menegaskan bahwa penilaian ini akan didasarkan pada masukan dari manusia sungguhan, bukan detektor AI. "AI dan slop bukan hal yang sama. Banyak orang menghaluskan pemikirannya dengan bantuan AI, dan kami yakin mereka ingin tahu kalau tulisannya terdengar tidak otentik," katanya.

    Sumber: Campaign Asia-Pacific

    Komentar
    Additional JS