Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Featured Kecerdasan Buatan Spesial

    Tanaman Bercahaya Dikembangkan dengan AI, Ditargetkan Jadi Penerangan Taman - VOI

    3 min read

     

    Ilustrasi tanaman bercahaya yang dikembangkan dengan bantuan kecerdasan buatan untuk penerangan taman pada malam hari. Ilustrasi dibuat oleh AI.

    Bagikan:

    JAKARTA - Tanaman yang bisa bercahaya pada malam hari bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium. Sebuah rumah kaca seluas 7.000 meter persegi di Dongsheng Bajia Park, Beijing, akan dipenuhi tanaman hias bioluminesen pada musim gugur ini.

    China Daily dikutip Minggu, 16 Agustus, menyebut proyek yang dikembangkan Magicpen Biotechnology Co itu akan menghadirkan kafe bercahaya dan koridor tanaman yang menyala pada malam hari.

    Hingga Agustus, perusahaan telah mengembangkan lebih dari 10 varietas tanaman bioluminesen, termasuk petunia, tembakau, dan poplar.

    Pengembangannya menggunakan platform kecerdasan buatan bernama Agent VitaMind. AI dipakai untuk mempercepat perancangan genetik dan rekayasa metabolisme agar cahaya yang dihasilkan tanaman lebih stabil.

    “Dengan menggunakan AI, kami meningkatkan pasokan substrat yang menghasilkan cahaya dan memperkuat aktivitas jamur tertentu di dalam sel tanaman,” kata pendiri Magicpen, Li Renhan.

    “Kami mencegah pembungkaman gen sehingga cahaya tetap stabil dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ujarnya.

    Tanaman bioluminesen merupakan tanaman yang mampu menghasilkan cahaya melalui proses biologis di dalam tubuhnya.

    Generasi tanaman yang ada saat ini memancarkan cahaya hijau redup saat bulan purnama. Cahaya lebih mudah terlihat pada malam tanpa bulan atau ketika langit mendung.

    Magicpen kini menyiapkan generasi ketiga dengan cahaya yang lebih terang. AI akan digunakan untuk mengoptimalkan proses pembentukan cahaya agar tanaman tetap terlihat menyala saat malam diterangi bulan separuh.

    Perusahaan juga ingin mengembangkan tanaman bercahaya dengan beragam warna serta meningkatkan ketahanannya terhadap suhu dingin dan kekeringan. Tanaman tersebut ditargetkan dapat digunakan di taman dan kawasan wisata budaya di berbagai wilayah China.

    “Setelah dimodifikasi, tanaman akan tumbuh dan terlihat tidak berbeda dari tanaman biasa pada siang hari, membuka jalan bagi penerapan komersial dalam skala besar,” kata Li.

    Penggunaan tanaman hasil rekayasa genetik juga memunculkan persoalan keamanan lingkungan. Untuk mengurangi risiko persilangan dengan tanaman liar, Magicpen menggunakan varietas steril atau tanaman yang menghasilkan sedikit serbuk sari, termasuk petunia bermahkota ganda.

    Menurut perusahaan, gen yang menghasilkan cahaya hanya bekerja pada daun, batang, dan bunga, bukan pada biji maupun serbuk sari.

    Rumah kaca juga dipasangi jaring antiserangga. Limbah tanaman dipanaskan sebelum dibuang. Selain itu, simulasi AI digunakan untuk memperkirakan kemungkinan dampaknya terhadap lebah, mikroba tanah, dan hewan setempat.

    Li berharap fungsi tanaman bercahaya nantinya tidak berhenti sebagai hiasan.

    “Dalam lima tahun, kami berharap tanaman bercahaya dapat digunakan sebagai penerangan tambahan pada malam hari di taman dan jalur pejalan kaki sehingga penggunaan listrik dapat dikurangi,” katanya.

    Tanaman tersebut saat ini dipamerkan di Beijing Flower World di Distrik Fengtai, Magicpen Bio-Research Base di pinggiran Hefei, Provinsi Anhui, serta Anhui Science and Technology Museum.

    Riset tanaman hasil rekayasa genetik juga berkembang di negara lain. Pada Juni, peneliti Spanyol mengembangkan tanaman transgenik yang berubah warna ketika terinfeksi virus sehingga dapat membantu mendeteksi serangan hama lebih awal.

    Add VOI as a Preferred Source

    Follow VOI news updates across Google.

    +

    Komentar
    Additional JS