Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Gemini Google Kecerdasan Buatan Spesial Uni Eropa

    Uni Eropa Paksa Google Buka Akses Android untuk Pesaing Gemini - Kompas

    11 min read



    KOMPAS.com - Uni Eropa resmi mewajibkan Google membuka sejumlah fitur penting sistem operasi Android kepada layanan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pesaing.

    Melalui keputusan yang diterbitkan Komisi Eropa pada Kamis (16/7/2026), asisten AI pihak ketiga nantinya harus mendapatkan akses ke fungsi Android yang setara dengan layanan AI milik Google, seperti Gemini.

    Langkah tersebut merupakan bagian dari penerapan Digital Markets Act (DMA), regulasi yang ditujukan untuk membatasi dominasi perusahaan teknologi berstatus gatekeeper di pasar digital Eropa.

    Baca juga: Eropa Kehilangan Nokia, Kini Finlandia Tak Mau Kalah di AI

    “Keputusan ini akan membantu pesaing yang lebih kecil bersaing dan memberikan pilihan, sekaligus melindungi privasi pengguna,” kata Teresa Ribera, Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa untuk Transisi Bersih, Adil, dan Kompetitif.

    Insentif Kendaraan Listrik Akan Berbasis Program Mobil-Motor Nasional

    Saat ini, asisten AI buatan perusahaan lain dinilai belum bisa mengakses sejumlah fungsi inti Android secara penuh. Kondisi itu membuat layanan pesaing sulit menawarkan pengalaman yang setara dengan Gemini, yang terintegrasi langsung dengan sistem operasi buatan Google.

    Komisi Eropa mencatat sekitar 60 persen pengguna perangkat seluler di kawasan tersebut menggunakan Android. Oleh sebab itu, akses terhadap sistem operasi ini dinilai penting agar perusahaan AI lain dapat bersaing secara adil.

    Baca juga: Mengapa Vendor Ponsel Bikin UI Sendiri, Tidak Pakai Android Stock?

    Akses ke 11 fitur Android

    Berdasarkan keputusan tersebut, Google harus membuka akses ke 11 fitur Android yang dibutuhkan layanan AI.

    Fitur tersebut mencakup aktivasi asisten melalui tombol dan perintah suara, akses terhadap konteks pengguna, kemampuan menjalankan tindakan di aplikasi, serta penggunaan sumber daya perangkat.

    Dengan perubahan tersebut, pengguna nantinya dapat mengaktifkan asisten AI pilihan mereka menggunakan kata pemicu suara, mirip perintah “Hey Google” yang digunakan untuk memanggil Gemini atau Google Assistant.

    Baca juga: iPhone dan HP Android Akhirnya Akur, Bisa "SMS-an" Gratis

    Asisten AI pihak ketiga juga akan dapat menjalankan tugas lintas aplikasi. Misalnya, membuat dan mengirim e-mail, menjadwalkan pertemuan, memesan makanan, memanggil taksi, atau menambahkan barang ke daftar belanja.

    Saya cobain Gemini Omni, AI generatif video bikinan Google. Dan jujur saja, hasilnya memang mindblowing dengan visual yang realistis. Cara AI memahami emosi, kontinuitas cerita, sampai detail-detail kecil juga terasa sangat manusiawi.

    Lihat Foto

    AI pesaing bahkan dapat memperoleh akses ke fungsi penerjemahan langsung, pengenalan suara, informasi yang tersimpan di perangkat, serta data dari mikrofon, kamera, layar, dan sensor lainnya. Akses tersebut tetap harus mendapat persetujuan pengguna.

    Selain itu, Google harus mengizinkan layanan AI pihak ketiga berinteraksi dengan sejumlah aplikasi buatannya, termasuk Gmail, Calendar, Drive, Docs, Maps, YouTube, Messages, dan Phone.

    Perusahaan AI juga akan mendapatkan akses yang setara ke model AI yang berjalan langsung di perangkat, termasuk Gemini Nano, serta kemampuan menjalankan tugas di latar belakang ketika pengguna sedang membuka aplikasi lain atau layar ponsel dimatikan.

    Baca juga: Google Search Kini Mirip ChatGPT, Link Website Tak Lagi Jadi Prioritas

    Google diwajibkan menerapkan sebagian besar ketentuan tersebut pada Android 18 atau paling lambat 1 Agustus 2027.

    Sementara itu, fitur yang memungkinkan beberapa asisten AI mendeteksi kata pemicu suara secara bersamaan harus tersedia pada Android 19 atau selambat-lambatnya 1 Agustus 2028.

    Google harus bagikan data Search

    Selain membuka Android, Uni Eropa juga mewajibkan Google membagikan data pencarian kepada mesin pencari dan chatbot AI yang memiliki fitur pencarian internet.

    Baca juga: Mengapa CEO Google Cemas dengan Tahun 2025?

    Data tersebut merupakan informasi yang selama ini digunakan Google untuk mengembangkan dan mengoptimalkan Google Search, seperti kueri yang diketik pengguna, bahasa dan jenis perangkat, alamat situs yang dibuka, interaksi pengguna dengan hasil pencarian, serta posisi suatu situs dalam halaman hasil pencarian.

    Namun, Google tidak diwajibkan membagikan algoritma atau teknologi mesin pencarinya. Perusahaan hanya harus menyediakan sebagian data kueri, klik, tampilan, dan peringkat yang dapat membantu pesaing mengembangkan sistem pencarian sendiri.

    Menurut Komisi Eropa, Google Search telah menguasai lebih dari 90 persen pasar pencarian di Eropa selama beberapa dekade. Skala tersebut membuat Google memiliki data pengguna dalam jumlah besar yang sulit ditandingi mesin pencari lain.

    Baca juga: Grok Jadi Aplikasi Terpisah, Bisa Diunduh di HP dan Desktop

    Data yang dibagikan harus lebih dulu dianonimkan. Informasi seperti nama akun Google, alamat IP, riwayat pencarian, dan waktu pencarian secara presisi tidak boleh disertakan.

    Kueri yang berisi istilah langka atau informasi sensitif, seperti nama lengkap, kata sandi, alamat rumah, dan nomor rekening, juga harus dihapus. Data lokasi akan dibuat lebih umum agar tidak mudah digunakan untuk mengidentifikasi pengguna tertentu.

    Penerima data juga dilarang memakainya untuk melatih model AI serbaguna, membuat profil konsumen, mengembangkan iklan, atau menyalin hasil Google Search secara sistematis.

    Baca juga: Mengapa HP Android dan iPhone Wajib Restart Rutin?

    Data hanya boleh digunakan untuk mengembangkan layanan pencarian, misalnya meningkatkan kemampuan memahami maksud kueri, menyusun peringkat hasil pencarian, melakukan indeksasi situs, dan menyediakan informasi terbaru bagi chatbot AI.

    Ilustrasi fitur Personal Intelligence di AI Mode Google Search

    Lihat Foto

    Perusahaan yang ingin menerima data harus memenuhi persyaratan kelayakan, keamanan, dan perlindungan data. Mereka juga harus melalui audit independen sebelum mendapatkan akses dan menjalani pemeriksaan rutin setidaknya sekali dalam setahun.

    Google ditargetkan menyelesaikan dataset yang telah dianonimkan pada November 2026. Skema harga dan penawaran akses kepada mesin pencari pihak ketiga harus diselesaikan paling lambat Januari 2027.

    Baca juga: TikTok Gandeng Vivo, Infinix, dan Lenovo Bikin Ponsel AI Tanpa Biaya Token

    Google: privasi dan keamanan pengguna terancam

    Google menentang keputusan Uni Eropa tersebut. Perusahaan menilai kewajiban membuka fungsi sensitif Android kepada asisten AI pesaing serta membagikan data Google Search dapat menimbulkan risiko bagi pengguna.

    “Keputusan hari ini berisiko melemahkan perlindungan privasi dan keamanan yang penting bagi jutaan warga Eropa,” kata Kent Walker, President of Global Affairs Google dan Alphabet, dalam blog resmi Google.

    Walker mengatakan Google telah berulang kali menawarkan solusi yang dinilai dapat memenuhi tujuan Digital Markets Act (DMA) tanpa mengorbankan perlindungan pengguna. Namun, menurut Google, keputusan Komisi Eropa mengabaikan bukti mengenai potensi kerugian yang dapat dialami pengguna.

    Baca juga: Pengguna Android Siap-siap, Google Storage Bakal Makin Cepat Penuh

    Google juga menilai aturan terkait Android dapat mengancam keamanan perangkat. Sebab, aplikasi eksternal berpotensi memperoleh izin untuk mengakses fungsi perangkat yang sensitif tanpa melewati mekanisme pemeriksaan, yang selama ini dijalankan produsen ponsel.

    Menurut Google, produsen perangkat saat ini berperan penting dalam menyeleksi asisten AI yang dapat mengakses fungsi Android.

    Perusahaan khawatir akses yang lebih terbuka memungkinkan aplikasi pihak ketiga memakai mikrofon, kamera, data di layar, dan berbagai fungsi perangkat lainnya tanpa perlindungan yang setara.

    Baca juga: Ambisi Besar China 5 Tahun ke Depan, Ingin Jadi Raja AI Dunia

    Soal tuntutan kewajiban membagikan data pencarian, Google khawatir pencarian pribadi pengguna Eropa dapat diberikan kepada perusahaan yang belum dikenal tanpa anonimisasi yang memadai, serta tanpa sepengetahuan atau persetujuan pengguna.

    Menurut Google, kondisi tersebut berpotensi melemahkan privasi pengguna, membahayakan rahasia bisnis, dan menimbulkan risiko terhadap keamanan nasional. Meski demikian, perusahaan mengatakan akan terus mendorong pendekatan yang lebih seimbang antara persaingan pasar, privasi, dan keamanan.

    Di sisi lain, Komisi Eropa menegaskan aturan tersebut telah dilengkapi perlindungan berlapis. Google tetap diperbolehkan memeriksa apakah pemberian data kepada perusahaan tertentu menimbulkan risiko serius terhadap keamanan siber maupun perlindungan data.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS