Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Spesial

    Peta Dunia yang Kita Lihat Selama Ini Ternyata Tidak Akurat - Kompas

    9 min read

     


    KOMPAS.com - Peta dunia yang biasa dipajang di dinding kelas dan muncul di aplikasi ponsel ternyata memberi gambaran ukuran yang keliru. Majelis Umum PBB kini resmi mendorong seluruh dunia beralih ke peta lain yang menampilkan luas wilayah secara lebih akurat.

    Resolusi berjudul "Correct the Map" itu disetujui dalam sidang Majelis Umum PBB pada Jumat (4/9/2026). Sebanyak 164 negara menyatakan setuju, satu negara menolak, dan enam negara memilih abstain.

    Usulan tersebut diajukan Togo atas nama 54 negara Afrika di PBB, dengan dukungan Uni Afrika. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolaknya.

    Baca juga: Bos Nvidia: Chip Buatan China Tinggal Hitungan Nanodetik Saja di Belakang AS

    Yang dipersoalkan adalah proyeksi Mercator, peta buatan kartografer asal Flandria, Gerardus Mercator, pada 1569. Peta itu dirancang khusus untuk kebutuhan navigasi laut, termasuk pelayaran penjelajahan bangsa Eropa di masa kolonial. Garis-garisnya sengaja dibuat lurus supaya pelaut gampang menentukan arah kompas.

    Ukuran Negara sampai Benua Melenceng di Peta Dunia Selama Ini, Kok Bisa?

    Sejak saat itu, Mercator nyaris jadi peta dunia standar di mana-mana. Peta ini sudah dipakai lebih dari 400 tahun, mulai dari ruang kelas dan buku pelajaran sampai aplikasi digital zaman sekarang.

    Masalahnya, demi mempertahankan bentuk dan sudut yang akurat, Mercator mengorbankan ketepatan ukuran wilayah. Makin jauh sebuah wilayah dari garis khatulistiwa, makin parah pula ukurannya melenceng.

    Baca juga: Peta Persaingan Android, iOS, dan HarmonyOS di Pasar Smartphone Dunia

    Contoh yang paling sering dipakai adalah Greenland. Di peta Mercator, pulau itu tampak hampir sebesar Benua Afrika, padahal luas Afrika sekitar 14 kali lipat Greenland.

    Afrika sendiri merupakan benua terbesar kedua di dunia dengan luas sekitar 30,3 juta kilometer persegi. Daratan seluas itu cukup untuk menampung Amerika Serikat, China, India, dan sebagian besar negara Eropa sekaligus.

    Distorsi yang sama membuat Rusia, Kanada, dan Amerika Serikat tampak jauh lebih besar dari ukuran aslinya. Sebaliknya, Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan justru terlihat menyusut di peta yang sama. Eropa bahkan tampak lebih luas ketimbang Amerika Selatan, padahal kenyataannya jauh lebih kecil.

    Indonesia mengalami hal serupa, meski jarang dibahas. Luas wilayah Indonesia tercatat sekitar 1,9 juta kilometer persegi, sementara Greenland sekitar 2,17 juta kilometer persegi. Keduanya tidak jauh berbeda, tapi di peta Mercator, Greenland terlihat berkali-kali lipat lebih besar.

    Peta dunia versi Mercator.

    Lihat Foto

    Baca juga: Nostalgia Lewat Google Maps, Begini Cara Lihat Lokasi hingga 10 Tahun Silam

    Bukan cuma soal peta di dinding kelas

    Persoalan ini ikut menyeret aplikasi peta digital yang dipakai sehari-hari. Hampir semua layanan peta online, termasuk Google Maps, Bing Maps, dan OpenStreetMap, memakai turunan Mercator yang dikenal sebagai Web Mercator.

    Pilihan itu bukan tanpa alasan. Dengan Mercator, sudut pertemuan antar-jalan di peta tetap siku-siku persis seperti di dunia nyata.

    Baca juga: Dari Terabaikan Jadi Vital, Ini Kisah Simbol “@” yang Penting di Era Digital

    Versi paling awal Google Maps justru tidak memakai Mercator. Akibatnya, jalan-jalan di kota berlintang tinggi seperti Stockholm tidak bertemu pada sudut yang benar.

    Google sendiri sudah menambal sebagian masalah ini sejak 2018. Kalau tampilan Google Maps versi desktop diperkecil sampai mentok, Bumi bakal muncul sebagai bola, bukan lagi bidang datar. Greenland pun tidak lagi tampak sebesar Afrika.

    Kritik terhadap Mercator sebenarnya bukan barang baru. Para ahli geografi sudah bertahun-tahun menyebut peta itu tidak cocok dipakai sebagai peta dunia untuk keperluan umum.

    "Kalau memakai peta Mercator sebagai peta dunia, misalnya di ruang kelas, murid bakal punya pandangan yang benar-benar melenceng soal ukuran negara-negara di dunia," kata Patterson.

    Mengapa Asia dan Eropa menjadi dua benua yang terpisah?

    Lihat Foto

    Baca juga: Kepulan Asap Karhutla Kalimantan Terekam NASA, Menyebar hingga Malaysia

    Peta pengganti yang diusulkan

    Peta pengganti yang didorong lewat resolusi ini bernama Equal Earth. Peta itu dibuat kartografer Tom Patterson pada 2018. Usianya memang masih belasan tahun kalau dibandingkan Mercator yang sudah empat abad lebih.

    Cara kerjanya berkebalikan dengan Mercator. Equal Earth menjaga perbandingan luas antar-wilayah supaya tetap benar, dengan konsekuensi bentuk daratannya jadi sedikit berubah.

    Tampilannya juga mengikuti lengkung Bumi, sehingga sisi atas dan bawah peta terlihat melengkung, bukan kotak rata seperti Mercator.

    Sejumlah lembaga besar sudah lebih dulu memakainya. NASA dan National Geographic termasuk yang sudah beralih, sementara Bank Dunia menyatakan sedang meninggalkan Mercator.

    Untuk melihat dan mengunduh peta dunia versi Equal Earth, kunjungi situs resmi di tautan ini.

    Peta dunia baru versi Equal Earth.

    Lihat Foto

    Baca juga: Berapa Banyak Kuota Internet yang Dibutuhkan Google Maps?

    Alasan Amerika Serikat menolak

    Sikap menolak dari AS disampaikan lewat pernyataan resmi setelah pemungutan suara. Perwakilan AS menuding PBB sedang mempromosikan agenda ideologis lewat resolusi tersebut.

    Menurut mereka, resolusi semacam ini mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih mendesak soal perdamaian dan kesejahteraan dunia. Resolusi ini disebut ikut membuat kredibilitas PBB merosot.

    Enam negara yang abstain adalah Serbia, Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, dan Ukraina.

    Uni Afrika menyambut hasil pemungutan suara itu lewat pernyataan di media sosial, menyebut resolusi tersebut mendorong pemakaian peta yang setara di ruang kelas, media, dan lembaga-lembaga internasional, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Reuters dan BBC.

    Resolusi PBB ini sendiri tidak mengikat secara hukum. Tidak ada negara atau lembaga yang wajib membuang Mercator, dan pemakaiannya untuk navigasi laut serta udara tetap dinyatakan sah.

    Baca juga: Arti Warna Jalan Hijau, Abu-abu, Biru, Kuning, dan Merah di Google Maps

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS