Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Featured Hacker Internet Keamanan Digital Kecerdasan Buatan Kejahatan Digital Serangan Siber Spesial

    AI Bikin Satu Hacker Bisa Jalankan Serangan Siber Skala Besar - Kompas

    9 min read


    KOMPAS.com - Serangan siber selama ini identik dengan komplotan besar yang membagi tugas agar operasinya bisa berjalan masif dan cepat. Namun, lanskap ancaman siber kini berubah drastis.

    Berkat kecerdasan buatan (AI), satu orang peretas kini bisa menjalankan operasi serangan siber berskala besar, bahkan setara dengan kemampuan yang sebelumnya hanya dimiliki kelompok yang disponsori negara.

    Temuan mengejutkan ini terungkap dari laporan ancaman intelijen yang diterbitkan Anthropic pada September 2026.

    Laporan tersebut mencakup data penyalahgunaan Claude antara Desember 2025 hingga Agustus 2026, sekaligus memuat tuduhan terhadap tujuh laboratorium China yang dinilai mengekstrak kemampuan Claude secara ilegal, dihimpun KompasTekno dari Silicon Angle.

    Jepang Darurat Keamanan Siber, Hacker Incar Puluhan Perusahaan, Data Warga Terancam Bocor

    Baca juga: Tantangan Keamanan Siber Bukan Lagi Alat Proteksi Canggih, tapi Olah Data

    AI percepat serangan siber

    Dengan bantuan AI, satu peretas kini bisa mengerjakan berbagai tugas sekaligus, mulai dari mencari target, mengumpulkan informasi, menemukan celah keamanan, hingga mengembangkan alat serangan terhadap sistem korban.

    Menurut Anthropic, metode serangannya sendiri sebenarnya tidak berubah, masih memanfaatkan kredensial curian atau mengeksploitasi perangkat yang belum diperbarui.

    Yang berbeda adalah kecepatan dan skala operasinya. Bagian yang paling menyita waktu seperti pengintaian target dan pembuatan alat serangan kini dikerjakan AI yang mampu bekerja jauh lebih cepat.

    Baca juga: Perusahaan Bimbel Online Bangkrut gara-gara ChatGPT

    Hasilnya, serangan yang sebelumnya membutuhkan berhari-hari kini bisa diselesaikan hanya dalam dua hingga tiga jam, dan satu orang bisa menangani puluhan korban sekaligus.

    Tujuh kasus berbahaya yang terungkap

    Anthropic mengidentifikasi tujuh kasus berbahaya dengan pelaku yang beragam, mulai dari kelompok yang diduga disponsori negara, penjahat siber bermotif finansial, hingga vendor spyware komersial. Para pelaku ini memanfaatkan model Claude Haiku, Sonnet, dan Opus.

    Salah satu kelompok yang disebut dalam laporan adalah GTG-20006, yang diduga terkait dengan kelompok mata-mata Rusia bernama Midnight Blizzard.

    Baca juga: 6 Teknologi AI China yang Tantang Dominasi AS

    Kelompok ini menyasar staf pemerintahan, militer, dan diplomatik Ukraina. Mereka mencuri e-mail dari perusahaan pembuat komponen drone, mengambil kode rahasia sistem visi drone, bahkan membobol jaringan WiFi hotel untuk mengincar para tamu.

    Setiap kali perangkat lunak keamanan mendeteksi mereka, Claude langsung dimanfaatkan untuk mengubah alat serangannya agar lolos dari deteksi.

    Ada pula kelompok pemeras bernama ShinyHunters yang hanya bermodal satu kata sandi developer curian, namun dalam waktu tiga jam berhasil menguasai penuh sistem cloud korbannya.

    Baca juga: Windows 95 dan Disket Masih Dipakai di AS untuk Kendalikan Pesawat

    Dalam kasus lain, AI membantu mereka mencuri lebih dari 2.100 data akses akun dari lebih dari 40 perusahaan hanya dalam 34 jam.

    Kelompok berbahasa China yang diduga berbasis di Changsha juga masuk dalam laporan. Mereka menyerang sekitar 50 organisasi dengan memanfaatkan banyak agen AI sekaligus untuk pengintaian dan eksploitasi target.

    Yang mengejutkan, dua pelaku di antaranya masih berstatus mahasiswa S1, dan berhasil menemukan lebih dari selusin celah keamanan baru hanya dalam satu bulan.

    Baca juga: China Bikin "Gudang Senjata" AI yang Bikin Barat Ketar-ketir

    Sementara itu, kelompok lain yang bermotif finansial justru menyerang balik industri AI. Mereka menyusupkan perintah jahat ke sistem pengujian otomatis sebuah perusahaan AI, berhasil mendapatkan kunci akses rahasia beberapa penyedia model AI.

    Lalu menyerang sekitar 30 perusahaan AI lain hanya dalam empat hari dengan tujuan mendapatkan akses ke model Claude versi belum rilis. Menurut Anthropic, semua upaya ini berhasil digagalkan.

    Alibaba, DeepSeek, hingga Xiaomi dituding curi kemampuan Claude

    Bagian lain yang menarik dari laporan ini adalah tudingan soal distilasi, yaitu praktik "menyontek" kemampuan AI dengan melatih model sendiri menggunakan jawaban dari model lain.

    Baca juga: Gen Z Wajib Waspada, AI Bisa Bongkar Identitas Second Account

    Anthropic menuding operator yang terkait dengan Alibaba menjalankan serangan distilasi terbesar yang pernah mereka temukan. Caranya, mereka menggunakan satu perintah khusus untuk memaksa Claude menuliskan seluruh proses berpikirnya secara rinci, lalu hasil percakapan itu dipakai untuk melatih model Qwen milik Alibaba.

    Dalam periode Mei hingga Juli saja, tercatat lebih dari 151 juta percakapan dilakukan dari ribuan akun palsu untuk tujuan ini.

    Moonshot AI dan DeepSeek dituding melakukan hal serupa dengan cara berbeda, yakni diam-diam meneruskan pertanyaan dari pengguna chatbot mereka ke Claude, lalu menyimpan jawabannya untuk melatih model mereka sendiri tanpa sepengetahuan pengguna. Y

    Baca juga: Riset Anthropic: Dibanding Programmer, Profesi Guru Lebih Susah Digantikan AI

    ang mengkhawatirkan, data yang ikut terbawa dalam proses ini mencakup rekaman ratusan kamera pengawas di kota Chengdu, China, serta data akses ke database milik pemerintah Rusia yang terkait Kementerian Pertahanan.

    Empat perusahaan China lain yang juga disebut dalam laporan adalah Xiaomi, Zhipu, SenseTime, dan MiniMax.

    Sistem pengawasan ilegal hingga pengembangan senjata

    Laporan ini turut membongkar sistem pengawasan bernama Lakana 360 yang dibuat menggunakan Claude untuk badan intelijen negara Mali.

    Baca juga: AI Disuruh Mematikan AI Lain, Responsnya Bikin Khawatir

    Sistem ini mampu memantau sekitar 25 juta nomor ponsel di seluruh negara tersebut dan dirancang untuk menghindari aturan hukum yang mewajibkan izin pengadilan sebelum melakukan pengawasan.

    Anthropic juga mengungkap bahwa pihaknya telah menggagalkan enam upaya pengembangan senjata di China, Rusia, dan Yaman. Salah satunya adalah upaya pengembangan drone kamikaze yang bisa menyerang secara otomatis tanpa kendali manusia.

    Sebagai tindak lanjut, Anthropic menyatakan telah memblokir semua akun yang terlibat dan membagikan temuannya ke pihak berwenang serta mitra industri.

    Ke depan, Claude akan meringkas proses berpikirnya sebelum menjawab agar hasil percakapan yang dicuri menjadi kurang berguna untuk melatih model lain.

    Anthropic juga bisa mewajibkan verifikasi identitas bagi pengguna dari negara-negara yang tidak didukung secara resmi, seperti China, Rusia, dan Iran.

    Baca juga: Kebutuhan Listrik Naik di Era AI, Indonesia Perlu Jaringan Listrik Lebih Pintar

    Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.

    Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS