Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Hacker Jepang Keamanan Digital Keamanan Siber Kejahatan Digital Kejahatan Siber Spesial

    Jepang Darurat Keamanan Siber, Puluhan Perusahaan Diincar Hacker - Kompas

    5 min read

     

    KOMPAS.com - Jepang menetapkan situasi darurat siber. Status ini menyusul gelombang serangan peretasan yang menyasar puluhan perusahaan dan mengancam kebocoran jutaan data pelanggan.

    Menurut laporan The Financial Times yang dirangkum PC Mag, lebih dari 20 perusahaan besar di sana melaporkan serangan siber dalam beberapa waktu belakangan.

    Beberapa di antaranya mencakup jaringan minimarket Lawson, operator kereta East Japan Railway Company (JR East), perusahaan sekuritas Daiwa Securities, hingga peritel barang bekas BookOff Group.

    Sementara media asal Jepang, Kyodo News, melaporkan bahwa sedikitnya 53 perusahaan di Jepang, termasuk layanan penyewaan mobil Times Car, terdampak serangan yang menyandera dan mengunci data korban alias ransomware. 

    Jepang Darurat Keamanan Siber, Hacker Incar Puluhan Perusahaan, Data Warga Terancam Bocor

    Baca juga: AI Bikin Satu Hacker Bisa Jalankan Serangan Siber Skala Besar

    Belum diketahui secara pasti jumlah total data pelanggan yang berpotensi bocor akibat serangan siber tersebut. Namun, jumlahnya diperkirakan mencapai jutaan data.

    Times Car melaporkan, sekitar 6,6 juta akun pelanggan berpotensi terdampak, sedangkan BookOff mengungkap lebih dari 6 juta catatan data pelanggan terancam bocor.

    Sementara JR East melaporkan sekitar 1,67 juta alamat e-mail pelanggan terekspos.

    Menteri yang bertanggung jawab atas kebijakan siber Jepang, Toshiharu Furukawa, menyebut situasi ini "sangat kritis".

    Pernyataan ini ia sampaikan dalam pertemuan di Markas Besar Strategi Keamanan Siber Nasional Jepang pada Jumat (9/10/2026) waktu setempat.

    Pada hari yang sama, Masaaki Taira, yang memimpin lembaga tersebut, menggambarkan kondisi ini sebagai keadaan darurat siber.

    Pemerintah Jepang meminta kementerian, pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat untuk memperkuat langkah-langkah keamanan digital guna mencegah serangan serupa.

    AI bikin serangan makin masif

    Meningkatnya serangan siber di Jepang turut memunculkan kekhawatiran terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh peretas.

    Masaki Hiraoka, direktur pelaksana perusahaan keamanan siber Blackpanda untuk kawasan Asia Timur Laut, mengatakan kepada The Financial Times bahwa AI memungkinkan peretas menyasar lebih banyak korban.

    Hal ini termasuk layanan kecil yang sebelumnya dianggap tidak menguntungkan untuk diserang.

    AI juga disebut dapat membantu pelaku mengumpulkan informasi calon korban dan mencari celah keamanan dengan lebih cepat.

    Meski AI punya kemampuan seperti itu, belum ada bukti bahwa seluruh serangan terbaru di Jepang melibatkan teknologi tersebut.

    Satu hal yang sudah pasti dari insiden kebocoran data adalah meningkatkan risiko pencurian identitas dan penipuan.

    Menanggapi hal ini, regulator keuangan Jepang dilaporkan telah meminta lembaga pemberi pinjaman memperketat pemeriksaan dokumen identitas.

    Pemerintah turut mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan kata sandi yang sama di berbagai layanan, mengaktifkan autentikasi multifaktor, serta mewaspadai e-mail dan pesan mencurigakan.

    Baca juga: Tantangan Keamanan Siber Bukan Lagi Alat Proteksi Canggih, tapi Olah Data

    Insiden keamanan siber di Jepang ini agaknya sejalan dengan temuan perusahaan keamanan siber TrendAI.

    Berdasarkan data mereka yang dibagikan kepada Reuters, jumlah insiden keamanan siber di Jepang selama sembilan bulan pertama 2026 telah melampaui total insiden sepanjang 2025.

    Secara spesifik di bulan September, setidaknya ada 86 insiden keamanan siber yang melanda negara tersebut, meningkat sekitar 18 persen dan 37 persen dari bulan Agustus dan Juli lalu.

    Adapun Jepang bukan satu-satunya negara yang menghadapi ancaman keamanan siber dalam beberapa waktu belakangan.

    Korea Selatan juga dilaporkan menyelidiki serangan terhadap sejumlah bank dan gereja yang diduga melibatkan perangkat AI, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari PCMag.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Ribuan Perusahaan Jepang Kabur dari China, Bisakah Beijing Bertahan?

    Komentar
    Additional JS