Microsoft: Hacker Kini Lebih Jago Pakai AI daripada Polisi Siber - Kompas
KOMPAS.com - Microsoft menyebut penjahat siber saat ini lebih jago memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) ketimbang tim keamanan yang melawan mereka.
Temuan itu tertuang dalam laporan tahunan Microsoft Digital Defense Report 2026. Laporan ini disusun dari lebih dari 165 triliun sinyal keamanan yang diproses Microsoft setiap hari.
Dalam laporan itu, Microsoft memperkirakan posisi penyerang dan "polisi cyber" pada akhirnya akan kembali seimbang. Namun untuk waktu dekat, hacker lebih dulu meraih keunggulan.
Baca juga: 7 Alat Elektronik Rumah Sedot Listrik Terbesar meski Sudah Dimatikan
AI membuat serangan berjalan jauh lebih cepat. Bagi hacker kelas atas, serangan yang dulu butuh waktu berhari-hari kini bisa dipangkas jadi hitungan detik.
Trump Klaim Dirinya Presiden Ber-IQ Tinggi, Bisa Kendalikan AI
Hacker juga memakai AI untuk membuat malware. Malware itu dirancang sesuai target. AI turut mempercepat langkah setelah hacker berhasil masuk, seperti mencuri data dan berpindah ke sistem lain di jaringan korban.
Baca Juga :
Proses yang biasanya makan waktu berhari-hari ini kini bisa selesai dalam hitungan menit.
Baca juga: Anthropic Ungkap Cara AI Mengubah Satu Hacker Menjadi Tim Penyerang Negara
Celah ditambal kalah cepat
Celah keamanan kini lebih cepat disalahgunakan. Jeda waktu antara ditemukannya sebuah celah dan dipakainya celah itu untuk menyerang kini sudah di bawah 24 jam.
Di sisi lain, perbaikan celah berjalan jauh lebih lambat. Salah satu penyebabnya, banyak sistem belum punya pengujian otomatis yang memadai untuk memastikan patch aman dipasang.
"Ini berarti dunia kemungkinan akan mengalami periode bertahun-tahun ketika jumlah celah yang sudah diketahui tetapi belum ditambal melonjak," tulis Microsoft.
Baca juga: Klasemen ACL 2 2026-2027 Usai Persib Bekap The Cong-Viettel 1-0
Laporan yang sama juga mencatat sejumlah angka serangan di luar urusan AI. Layanan dan aplikasi cloud (cloud workload) yang terbuka ke internet rata-rata sudah diserang dalam 5,3 jam. Pencurian data terjadi pada 63 persen penyusupan.
Microsoft mendeteksi lebih dari 46 juta serangan yang menyamar sebagai e-mail bisnis dalam 12 bulan terakhir. Dalam serangan phishing lewat telepon, 93 persen serangan berhasil membuat korban terus meladeni percakapan pelaku.
AI turut menurunkan minimum skill yang dibutuhkan buat menyerang. Penjahat siber yang kurang berpengalaman kini bisa menjalankan serangan yang dulu cuma sanggup dilakukan peretas kelas atas.
Baca juga: Ciri-ciri HP Terinfeksi Spyware, Gejalanya Sering Dianggap Remeh
Hacker China dan Korut
Peretas asal China memakai AI buat mencari celah keamanan. Kelompok asal Rusia memanfaatkan vibe coding, yakni membuat program cukup dengan memberi perintah ke AI, serta alat peretasan buatan AI.
Dengan cara ini, tools hacking dibuat tanpa harus menulis kode sendiri baris demi baris.
Sementara hacker asal Korea Utara memakai AI buat banyak hal sekaligus. Mulai dari membuat identitas palsu, menipu korban lewat rekayasa sosial, membuat malware, hingga mengelola infrastruktur serangan.
Baca juga: Ledakan di Pasar Cimanggis Tangsel Tewaskan 1 Orang, 4 Luka-luka
Rekayasa sosial sendiri adalah teknik memanipulasi korban supaya mau menyerahkan data atau menuruti perintah pelaku.
Meski begitu, sebagian besar serangan masih dikendalikan manusia.
Menurut Microsoft, sistem AI yang mampu menjalankan serangan dari awal sampai akhir secara otomatis baru terlihat di laboratorium dan sedikit kasus awal di dunia nyata, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari BleepingComputer.
Baca juga: Kronologi Tagihan Makan Rp 530.200 di Solo, Warga Sragen Lapor Polisi, Restoran Buka Suara
Microsoft menilai pihak bertahan harus bergerak cepat menutup ketertinggalan ini, salah satunya dengan memakai autentikasi multifaktor (MFA) yang tahan phishing dan passkey.
Passkey adalah cara masuk ke akun tanpa password. Cukup pakai sidik jari, wajah, atau PIN perangkat.
Microsoft juga meminta organisasi memprioritaskan pengamanan identitas. Organisasi perlu beralih dari sekadar merespons insiden ke upaya aktif mencari titik lemah sebelum diserang, serta mempercepat penambalan celah keamanan.
Baca juga: Meme Kucing Berdasi Ungkap Jaringan Hacker Paling Berbahaya
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Polda Metro Gembleng Anggotanya soal AI, Apa Fungsinya?
