Narkoba Baru dari Smartphone: Sebuah Alarm Kesadaran Moral Manusia Digital - VoxNTT
Oleh: Apolonaris Febriano Savio Medo
Mahasiswa IFTK Ledalero
Tidak bisa dibendung lagi melonjaknya penggunaan smartphone di era kontemporer ini. Bahkan sudah menjadi habitus yang tidak bisa dipisahkan.
Bahkan telah termanifestasi dalam kungkungan disrupsi digital. Segala sesuatu selalu berpacu dan berpaut seputar layar smartphone.
Simak saja dalam keseharian hidup kita; bangun tidur langsung buka smartphone, sementara makan masih ada yang sedang scrolling, segala sesuatu di upload demi validasi, dan yang paling miris adanya komersialisasi diri.
Badan Pusat Statistik tahun 2024 melaporkan bahwa persentase penggunaan smartphone melonjak drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Ambil sampel data dari tahun 2022 (sebanyak 66,48% pengguna smartphone) sampai pada tahun 2024 (sebanyak 72,78% pengguna smartphone).
Ini mengandaikan bahwa kecanduan terhadap smartphone terus menggerogoti lini kehidupan manusia, mengakibatkan manusia kehilangan keseimbangan.
Justru di sinilah manusia terhipnotis oleh narkoba yang tersembunyi di balik layar smartphone. Otomatis pelan-pelan manusia mengeksploitasi dirinya sendiri.
Mungkin dalam pemikiran kita narkoba itu hanya bertolak kepada orang yang mengonsumsi obat-obatan terlarang. Sejatinya bukan.
Akan tetapi hal yang mau ditekankan di sini, kita belum menyadari sepenuhnya apa yang telah dilakukan dalam keseharian.
Orang yang terkontaminasi dengan narkoba disebabkan oleh zat adiktif yang membuatnya tidak pernah berhenti untuk mengonsumsinya.
Akibatnya tampak seperti orang kerasukan dan berada pada taraf candu paling ekstrem. Begitu pula dengan konteks kehidupan manusia era digital ini.
Bayangkan saja tanpa smartphone seharian pasti ada hal aneh yang terjadi dalam diri, apalagi kehabisan pulsa data (terkhususnya bagi yang proaktif dalam game online, proaktif untuk upload status di berbagai aplikasi) tentunya tampak ada kejanggalan yang terjadi.
Takutnya muncul penyakit nomophobia (penyakit yang disebabkan oleh kecemasan yang terlalu tinggi).
Lantas apa yang hendak diinterogasi akan realitas layar kaca yang mengandung zat adiktif narkoba terhadap kesadaran moral manusia digital? Perlu dikritisi dan digubris.
Kesadaran Moral Semakin Digerus, Mesti Diantisipasi
Filsuf Byung-Chul Han (filsuf Jerman kelahiran Korea Selatan) pernah menyumbangkan alarmnya tentang kehadiran smartphone yang kian menjebak manusia, memenjarakan kehidupan manusia, dan menjerumuskan manusia untuk jatuh ke dalam jurang distraksi.
Beliau menganalogikan smartphone yang terus digenggam seperti orang yang selalu memegang rosario, jari jempolnya selalu menekan tombol like dan jari jemarinya menari-nari di atas layar kaca (Tingting Dia, 2026).
Selalu saja sibuk berlayar di atas layar kaca smartphone. Hal ini semacam ada distingsi yang terpatri dalam realitas kehidupan; realitas hanya dijadikan objek dan layar kaca sebagai prioritas subjek.
Semuanya digantikan dengan realitas layar kaca. Sehingga muncul frasa “banyak manusia tetapi sedikit saja yang tampak”. Artinya realitas hanya sebagai ornamen tidak berfungsi dalam rasio manusia, dan layar kaca sebagai realitas konkret yang dapat memberikan segalanya.
Kebingungan transisi inilah manusia kian dijajah oleh kapitalisme digital. Bagi manusia, ruang digital adalah raja dan dirinya adalah hamba yang terus diperbudak.
Takutnya manusia lupa akan identitasnya sebagai makhluk berakal budi. Akal budinya ada tapi salah menggunakannya, realitas hanya dijadikan objek pasif dan layar kaca dijadikan subjek aktif dan harus dilayani.
Memang akal budi berfungsi seperti yang dituangkan oleh Rene Descartes adalah “cogito ergo sum” (saya berpikir maka saya ada), tetapi semakin bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh beliau terhadap manusia digital kini.
Manusia digital hidup serba instan menganggap akal budi disinkronkan dengan layar kaca (smartphone). Hasil sinkron tersebut membuat kapasitas manusia hanya sampai pada taraf instan.
Apakah ini mempengaruhi kesadaran moral? Sudah tentu. Sebab jaringan akal budi akan mengikuti jalur algoritma, jelas membuatnya tidak pernah sadar bahkan membuang waktu-waktu yang begitu produktif. Toh semuanya tinggal diklik.
Dalam bahasa akademik Prof. F. Budi Hardiman tentang “Aku Klik Maka Aku Ada”. Tanpa klik aku pasti tidak ada.
Lalu apa yang perlu diantisipasi? Pertanyaan ini cukup reflektif. Menggugah sekaligus menggugat eksistensi manusia digital. Lantaran manusia belum sepenuhnya pulih dari algoritma smartphone.
Untuk itu, antisipasi kesadaran moral perlu direnovasi kembali demi mencapai pribadi yang integral. Pertama, keluar dari zona instan; kedua, bangun habitus membaca realitas konkret bukan layar kaca; ketiga, sadar sebagai makhluk yang memiliki kesadaran moral dan kecakapan kognitif yang mumpuni.
Stop Candu Layar Kaca Smartphone: Titik Kritis
Sangat sukar apabila setiap orang meninggalkan smartphone, ujung-ujungnya seperti orang yang sedang bingung, berjalan tanpa arah, gerak-gerik tubuh melakoni apa yang ada di smartphone. Terasa semuanya hampa.
Inilah akibat dari terlalu bergantung pada smartphone yang lama-kelamaan mengandung zat adiktif, seperti orang narkoba. Habitus buruk mendominasi seluruh ruang keseharian hidup. Apalah daya ketika segala sesuatu disinkronkan otomatis oleh mesin digital.
Ke manakah arah perahu hidup nantinya, yang seyogianya membawa kita pada tujuan yang pasti dan berguna? Adakah jawaban yang pasti bahwa sumber kehidupan sejati berasal dari layar smartphone? Perlu dikritisi dan digubris.
Memang perkembangan zaman yang masif mendorong manusia digital untuk beradaptasi dengan situasi demikian. Namun bukan berarti semuanya bergantung padanya.
Seharusnya ada filterisasi etis dan kritis agar tidak terjebak dalam halusinasi dan distraksi digital. Jean Baudriliard dalam bukunya simulation et simulacra hendak menyoroti eksistensi manusia yang kerap akrab dengan hiperrealitas.
Manusia meniru segala sesuatu di smartphone yang melahirkan ilusi realitas (Anggoro, dkk, 2025). Padangan beliau ini merupakan kecemasan terhadap manusia yang tidak lagi menganggap realitas konkret.
Candu terhadap layar kaca smartphone dinilai telah merusak sel-sel aktif manusia. Sebab utamanya terletak pada konsumsi algoritma digital seolah seperti kebutuhan prioritas.
Kurangnya kesadaran kritis untuk berhenti mengonsumsinya tentu akan berimplikasi pada kecanduan yang tidak bisa diakhiri, hanya tunggu betul-betul sadar dan kritis. Maka upaya kritis-preventif perlu untuk memberikan tawaran agar manusia tidak terjebak dalam distraksi digital.
Solutif dan Persuasif
Dengan demikian, atensi terhadap manusia digital harus memberikan alarm kesadaran moral agar tidak terjerumus ke dalam jurang distraksi. Memang amat sulit tetapi mau tidak mau harus sadar dan tahu akan akibat dari bahaya narkoba di smartphone.
Zat adiktifnya bukan soal ada obatnya tetapi soal habitus yang enggan untuk berhenti dari jajahan kapitalisme digital. Budaya algoritma membentuk kita untuk serba instan dan merusak segala realitas konkret serta merusak diri yang kian candu sampai taraf ekstrem.
Kesadaran moral perlu untuk mengenal yang baik dan yang buruk akan smartphone. Untuk itu, salah satu solusi yang perlu dibenahi adalah soal habitus.
