Bos Nvidia Sebut 3 Negara Pemimpin Manufaktur Dunia, AS Tak Masuk Daftar - Kompas
KOMPAS.com - CEO Nvidia Jensen Huang menyebut Jerman, Jepang, dan China kini menjadi tiga negara pemimpin dunia di bidang teknologi dan manufaktur.
Amerika Serikat (AS), negara asal Nvidia, justru tidak masuk daftar itu. Menurut dia, AS sudah lama memindahkan sebagian besar industri manufaktur beratnya ke China.
Pandangan itu disampaikan dalam diskusi bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz di ajang Invest in Germany Summit di Berlin, Senin (19/10/2026). Diskusi tersebut digelar sehari sebelum konferensi GTC Berlin 2026 milik Nvidia berlangsung pada 20-22 Oktober.
Huang memulai penjelasannya dari revolusi industri sebelumnya. Saat itu, listrik mulai dipakai secara luas untuk menggerakkan pabrik dan mesin.
China Kehilangan Triliunan Dolar saat Perang Supremasi AI dengan AS Memanas
"Listrik pada dasarnya menghasilkan tiga pemimpin geografis, Jerman, Amerika Serikat, Jepang," katanya.
Baca Juga :
Huang menyebut komposisi itu kemudian berubah ketika industri komputer berkembang dan salah satu negara di daftar itu melepas sendiri kekuatan manufakturnya.
"Amerika Serikat sebagian besar telah mengekspor manufaktur beratnya, kemampuannya membangun, keterampilannya, ke China," ujar dia.
Menurut Huang, dunia kini kembali punya tiga negara pemimpin, yakni Jerman, Jepang, dan China.
Baca juga: ASML, Perusahaan Belanda yang Mesinnya Sulit Ditiru Pembuat Chip Dunia
Keuntungan soal waktu
Huang menilai China diuntungkan oleh waktu. Transformasi ekonomi negara itu terjadi tepat pada masa industri komputer sedang berkembang. Hasilnya, manufaktur dan ilmu komputer di China disebut berkembang bersamaan.
"China adalah satu-satunya negara saat ini yang mendalami manufaktur sekaligus ilmu komputer," katanya.
Bos Nvidia itu tidak menafikan kekuatan AS. Menurut dia, 50 tahun terakhir adalah era pemrograman perangkat lunak.
"Amerika Serikat jelas kelas dunia, tetapi sekarang ada era baru," ujarnya.
Ia juga menyebut kehadiran AI sebagai "pengaturan ulang total" karena komputer kini bisa memprogram dirinya sendiri.
Baca juga: Wajib Tonton, Video Jensen Huang 14 Tahun Lalu soal Blueprint Nvidia di Era AI
Modal Jerman
Huang menilai kekuatan Jerman masih bertumpu pada industri fisik. Alasannya, teknologi digital sehebat apa pun disebut tidak akan menggantikan teknologi fisik elektromekanis seperti mesin dan peralatan pabrik.
"Elektron tidak akan pernah menggantikan atom," kata dia.
Ia lalu menyinggung perusahaan kecil dan menengah Jerman yang dikenal dengan sebutan Mittelstand. Ia memperkirakan sebagian besar perusahaan itu kini kekurangan tenaga kerja karena para pekerjanya makin tua.
Untuk itu, ia mendorong mereka memakai AI untuk meniru keahlian para pekerja senior agar pengetahuan tersebut tetap tersimpan di Jerman. Menurut dia, pengetahuan itu adalah milik mereka sendiri.
"AI hanya bisa memperkuat kemampuan kalian, AI tidak akan menggantikan kemampuan kalian," ujarnya.
Para pelaku usaha itu juga ia ajak memanfaatkan AI, teknologi yang ia sebut sebagai instrumen baru.
Merz membuka tanggapannya dengan berterima kasih kepada Huang yang telah membandingkan Jerman dengan negara-negara lain dalam penjelasannya.
Kanselir Jerman itu lalu menegaskan dirinya selalu bersikeras bahwa Jerman harus tetap menjadi negara manufaktur dan tidak boleh melepaskannya.
"Saya sependapat dengan pandangan Anda, bahwa orang Amerika membuat kesalahan besar dengan mengekspor manufaktur mereka," kata Merz.
Pada hari yang sama, Merz bersama dua kementerian Jerman dan Nvidia menandatangani deklarasi bersama untuk mengembangkan model AI fisik (physical AI) tercanggih, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari blog resmi Nvidia.
AI fisik merujuk pada AI yang menggerakkan robot, mesin, dan mobil.
Baca juga: Jensen Huang: Saya Tak Takut Bayar Pajak Besar, Cuma Takut Miskin
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
