Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Komputer Linux Sistem Operasi Spesial Windows

    Privasi Jadi Alasan Pengguna Mulai Tinggalkan Windows dan Beralih ke Linux - Media Indonesia

    4 min read

     


    Privasi Jadi Alasan Pengguna Mulai Tinggalkan Windows dan Beralih ke Linux
    Ilustrasi(magnifik)

    PENGGUNA yang berpindah dari Windows ke Linux bukanlah hal yang baru, dan telah menjadi pertanyaan bagi para pengguna Windows mengenai alasan serta tujuan orang-orang berpindah. Kini, empat pengguna menjadi salah satu dari banyak orang yang berpindah dari Windows, dan keempat dari mereka memiliki ceritanya masing-masing.

    Seorang psikolog klinis dari Queensland, seniman grafis dari Atlanta, ilmuwan perilaku-biologis dari North Carolina, dan insinyur teknologi dari Hungaria pindah ke Linux dalam enam bulan terakhir demi mendapatkan kembali kendali atas privasi dan data mereka, meski tingkat kemahiran teknis mereka berbeda-beda.

    Menurut TechRadar, titik baliknya adalah berakhirnya dukungan gratis untuk Windows 10. Setelah itu, Microsoft gencar mempromosikan Windows 11 dan menerapkan praktik pengumpulan data yang kian membuat pengguna tidak nyaman.

    Hal tersebut nyata adanya, dengan Microsoft yang menyatakan dukungan Windows 10 berakhir pada 14 Oktober 2025, setelah itu tidak ada lagi bantuan teknis, pembaruan fitur, maupun pembaruan keamanan. PC Windows 10 memang masih bisa dipakai, tetapi risiko terhadap virus dan malware meningkat. Program Extended Security Updates (ESU) untuk konsumen masih melindungi perangkat hingga 12 Oktober 2027.

    Minat terhadap Linux pun terlihat dari angka unduhan. Dilansir darimTechRepublic, jumlah unduhan Zorin OS 18 yang dirilis tepat saat Windows 10 kehilangan dukungan telah melewati 2 juta dalam waktu kurang dari tiga bulan. Zorin Group menyebut lebih dari tiga perempat unduhan tersebut berasal dari pengguna Windows. 

    Kasus Sama, Empat Alasan Berbeda

    1. Christopher Smith

    Ilmuwan perilaku-biologis ini sudah 25 tahun memakai produk Microsoft. Ia tidak punya latar belakang pemrograman, tetapi semakin merasa tidak nyaman karena sistem operasinya terus memaksakan perangkat lunak dan layanan yang tidak ia minta. "Saya yang membayar laptop ini, tapi rasanya Microsoft yang menentukan cara saya memakainya," ujarnya kepada TechRadar.

    Smith mulai dengan mencoba Linux melalui USB bootable, lalu beralih ke sistem dual-boot. Ia memilih Linux Mint dengan desktop Cinnamon karena tampilannya akrab bagi pengguna Windows. Kini, ia sudah membeli laptop berbasis Linux dan sedang menyiapkan server Linux sendiri. 

    2. Imre Lóránt Dévai

    Insinyur teknis di Budapest mencontohkan mouse Logitech-nya ketika menjelaskan alasannya berpindah. Di Windows, mengatur tombol dan firmware membutuhkan aplikasi, akun, dan program yang terus berjalan di latar belakang. Di Linux, ia cukup menulis skrip sederhana untuk fungsi yang ia perlukan, seperti pemetaan tombol dan pengecekan baterai.

    3. Aaron Frost

    Psikolog di Brisbane ini berangkat dari alasan etika profesi. Ia khawatir mengenai kerahasiaan data pasien, terutama setelah kontroversi fitur Recall milik Microsoft. Ia menghapus isi sebuah komputer Windows lamanya dan pindah ke Linux, dari Ubuntu hingga akhirnya mencoba Fedora dengan GNOME.

    4. Dan Rodda

    Seniman grafis di Atlanta ini sudah mengganti sebagian besar penyimpanan cloud, mesin pencari, dan perangkat lunak produktivitasnya dengan alternatif sumber terbuka. Di ponsel Google Pixel-nya, ia menjalankan GrapheneOS.

    Keempatnya sepakat bahwa model bahasa besar (LLM) membuat Linux jauh lebih mudah didekati. Frost bahkan mengaku tidak yakin bisa melewati minggu pertama tanpa bantuan AI. Menurut Lóránt Dévai, AI bisa menjadi admin virtual yang sabar dan tidak menghakimi bagi orang yang segan bertanya di forum.

    Mereka juga tidak hanya mengganti sistem operasi. Smith beralih dari Edge dan Chrome ke Brave dan Vivaldi, sementara Lóránt Dévai membangun home lab dari laptop Linux lamanya lengkap dengan Pi-hole untuk menyaring permintaan DNS, Bitwarden yang dihosting sendiri, dan analitik mandiri sebagai pengganti Google Analytics. Semua itu bertujuan agar data tetap berada di infrastruktur yang ia kendalikan.

    Langkah berikutnya bagi mereka adalah melepaskan diri dari Google sepenuhnya. "Ini rencana yang jauh lebih sulit karena saya terikat pada ekosistem Google dengan berbagai cara," kata Lóránt Dévai.

    Menurut TechRadar, jumlah pengguna yang beralih ke Linux kemungkinan terus bertambah seiring distro yang makin ramah pemula dan bantuan AI. Smith mengatakan ia terkesan dengan banyaknya orang di subreddit Linux Mint yang menyesal tidak pindah lebih awal.

    Bagi mereka yang ingin menetap pada Windows, risiko dapat dikurangi melalui pengaturan, sedangkan yang pindah mendapat pengaturan bawaan berbeda dan tanggung jawab lebih besar. Tidak ada pilihan yang otomatis menuntaskan soal privasi, sehingga hasilnya bergantung pada apa yang dijalankan, ke mana data mengalir, dan seberapa besar upaya perawatan yang sanggup dilakukan.

    Sumber: techradar.com dan windowsforum.com

    Komentar
    Additional JS