Samarinda Tertinggal di Era Digital: Koneksi Internet Jadi Barang Mewah di Ibu Kota Provinsi - Kompasiana - Opsitek

Informasi Teknologi Pilihanku

demo-image

Post Top Ad

demo-image

Samarinda Tertinggal di Era Digital: Koneksi Internet Jadi Barang Mewah di Ibu Kota Provinsi - Kompasiana

Share This
Responsive Ads Here

 

Samarinda Tertinggal di Era Digital: Koneksi Internet Jadi Barang Mewah di Ibu Kota Provinsi

24 Maret 2025   22:29 Diperbarui: 24 Maret 2025   22:29
26  
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Samarinda Tertinggal di Era Digital: Ketika Koneksi Internet Menjadi Barang Mewah di Ibu Kota Provinsi

Oleh: Ni Nyoman Reva Azkiya

SAMARINDA -- Di Tengah Gempuran Era Digital, Samarinda Masih Terbelit Masalah Koneksi

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Samarinda sebagai pusat pemerintahan Kalimantan Timur ternyata masih terjebak dalam masalah konektivitas yang tak kunjung usai. Sungguh ironis, ketika berbagai daerah berlomba membangun infrastruktur digital, warga Samarinda masih kesulitan mendapatkan sinyal memadai bahkan untuk kebutuhan dasar seperti berkirim pesan atau melakukan panggilan video.

Titik Buta Digital di Pusat Kota

Beberapa area vital di jantung kota justru menjadi "zona mati" internet. Sepanjang Jalan Pahlawan, warga harus berputar-putar mencari spot sinyal. Kawasan Sempaja Utara tak kalah memprihatinkan, dengan koneksi yang naik-turun sepanjang hari. Sementara di Loa Bakung, perusahaan-perusahaan terpaksa merogoh kocek tambahan untuk memasang repeater.

Dampak Nyata pada Pedagang Kecil

Bu Rina (45), pedagang di Pasar Segiri merasakan langsung dampaknya. "Jualan online jadi susah karena sinyal jelek. Transferan sering gagal, foto barang susah ke-upload," keluhnya sambil memperlihatkan HP yang terus loading. Orderannya turun drastis dari 30 jadi hanya 5 paket sehari. "Sekarang terpaksa bayar warnet buat upload foto, rugi duit lagi."

Fakta Memilukan di Balik Jaringan Digital
Data terbaru Dinas Kominfo Kaltim (2024) mengungkap kenyataan pahit: hanya 40% wilayah Samarinda yang menikmati jaringan 4G stabil, sementara 15 kelurahan lainnya masih bergantung pada jaringan 3G yang lambat, dengan 70% menara telekomunikasi terkonsentrasi di pusat bisnis, meninggalkan daerah lain dalam ketimpangan akses digital.

Persoalan konektivitas di Samarinda merupakan potret nyata ketimpangan pembangunan infrastruktur digital di Indonesia. Di saat beberapa daerah sudah bersiap menyambut era 5G, sebagian warga Samarinda masih berjuang untuk sekadar mendapatkan sinyal 4G yang stabil. Solusi komprehensif yang melibatkan pemerintah, operator telekomunikasi, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memastikan tidak ada satupun warga yang tertinggal dalam arus deras digitalisasi. Bagaimanapun, di era yang serba terhubung ini, akses internet yang stabil bukan lagi sekadar kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi bagi seluruh masyarakat.

Daftar Pustaka:

  1. Laporan Tahunan Dinas Kominfo Kaltim 2024
  2. Wawancara dengan narasumber terkait
  3. Data gangguan layanan provider telekomunikasi

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari KompasianaBaca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
Comment Using!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages