Inovasi Kompor Biomassa yang Pernah Mendunia, Kini Tinggal Kenangan - Kompas - Opsitek

Informasi Teknologi Pilihanku

demo-image

Post Top Ad

demo-image

Inovasi Kompor Biomassa yang Pernah Mendunia, Kini Tinggal Kenangan - Kompas

Share This
Responsive Ads Here

  

Inovasi Kompor Biomassa yang Pernah Mendunia, Kini Tinggal Kenangan

66f5f4e082559

MALANG, KOMPAS.com - Berita lama tentang kompor biomassa karya dosen Muhammad Nurhuda dari Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB) Malang kembali ramai diperbincangkan.

Disebut-sebut bahwa inovasi tersebut telah menembus pasar internasional dan diproduksi massal di Norwegia.

Namun, ia menegaskan bahwa informasi itu sudah tidak lagi relevan dan telah diklarifikasi sejak lama.

"Mohon maaf, itu berita tahun 2012 yang terus diulang. Saya sudah meminta agar tidak lagi ditayangkan, tetapi tetap saja muncul berulang kali. Itu tidak benar. Kami memang pernah bekerja sama dengan perusahaan PMA asal Norwegia, tapi kompor tersebut tidak diproduksi di sana," tuturnya kepada Kompas.com, Selasa (25/3/2025) siang.

Ramainya Rumah Si Doel Dipenuhi Warga yang Ingin Hadiri Open House

Baca juga: Profesor ITS Ini Campurkan Biomassa dan Mikroplastik, Hasilnya Biofuel RON 98-102

Menurut Muhammad Nurhuda, produksi kompor ini sebenarnya sudah berhenti sejak tujuh tahun lalu, tepatnya setelah pertemuan dengan World Bank di Yogyakarta pada 2018 lalu.

"Saat itu, World Bank mengumpulkan berbagai implementasi kompor biomassa dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia, Kamboja, Myanmar, China, dan beberapa negara di Afrika. Hasilnya, dibandingkan dengan elpiji, kompor biomassa memang kurang efisien dan perlahan mulai tergeser," ujar Nurhuda.

Baca juga: Sepanjang 2023-2025, PLN Tanam 150.000 Pohon Biomassa untuk Dukung Transisi Energi

"Selain karena faktor efisiensi, produksi juga harus dipikirkan secara ekonomi. Kalau tidak ada keuntungan, ya untuk apa diteruskan?" tambahnya.

Selain itu, ia juga meluruskan kabar mengenai kerja sama dengan perusahaan Norwegia, bahwa produksi kompor tersebut tidak pernah dilakukan di Norwegia.

Seperti diketahui, meskipun masih aktif diproduksi, kompor biomassa ini memang cukup diminati.

Namun, seiring perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar, produksi akhirnya dihentikan secara alami.

"Memang benar, kami pernah bermitra dengan perusahaan PMA dari Norwegia pada 2012 hingga 2017. Namun, kerja sama ini berakhir bukan karena masalah dari pihak kami, melainkan karena mereka mengalami kendala internal," kata Muhammad Nurhuda.

"Produksinya dilakukan di Surabaya, lalu dikirim ke berbagai negara dalam bentuk yang bisa dirakit ulang di tempat tujuan," lanjutnya.

Meskipun sudah tidak lagi memproduksi kompor biomassa, ia tetap menaruh perhatian besar pada pengembangan inovasi di bidang energi terbarukan.

Ia berharap klarifikasi ini bisa mengakhiri kesalahpahaman yang terus berulang dan membuka ruang diskusi yang lebih relevan mengenai solusi energi yang lebih berkelanjutan di masa depan.

"Saya percaya, inovasi harus terus berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Semoga ke depan kita bisa menghadirkan lebih banyak solusi energi yang benar-benar efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," pungkas Muhammad Nurhuda.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Cerita Najwa dan Nawa, Warga Manado yang Pertama Kali Shalat Id di Istiqlal

Comment Using!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages