Teror Rekrut Anak-anak Pakai Medsos dan Game Online - SindoNews
2 min read
Densus 88: Kelompok Teror Rekrut Anak-anak Pakai Medsos dan Game Online
Selasa, 18 November 2025 - 16:41 WIB
Densus 88 Antiteror Polri mengungkap bahwa kelompok teror kini memanfaatkan ruang digital untuk memengaruhi dan merekrut anak-anak masuk ke jaringan terorisme. Foto/Danandaya Aria Putra
A
A
A
JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap bahwa kelompok teror kini memanfaatkan ruang digital untuk memengaruhi dan merekrut anak-anak masuk ke jaringan terorisme. Densus 88 telah menangkap lima orang dewasa yang bertindak merekrut anak-anak gabungan ke jaringan terorisme.
Juru bicara Densus 88 Antiteror, AKBP Mayndra Eka Wardhana menyampaikan bahwa para pelaku ini awalnya menyebar visi utopia agar anak-anak tertarik.
Baca juga: Densus 88 Antiteror Tangkap 5 Orang Perekrut Anak Masuk Jaringan Terorisme
"Jadi memang kita paham bahwa di media sosial ini ada beberapa jenis platform yang menyediakan saluran, baik umum maupun privat ya. Jadi, tentunya yang di platform umum ini akan menyebarkan dulu visi-visi utopia ya," kata Mayndra dalam konferensi pers di Mabes Polri, Selasa (18/11/2025).
Juru bicara Densus 88 Antiteror, AKBP Mayndra Eka Wardhana menyampaikan bahwa para pelaku ini awalnya menyebar visi utopia agar anak-anak tertarik.
Baca juga: Densus 88 Antiteror Tangkap 5 Orang Perekrut Anak Masuk Jaringan Terorisme
"Jadi memang kita paham bahwa di media sosial ini ada beberapa jenis platform yang menyediakan saluran, baik umum maupun privat ya. Jadi, tentunya yang di platform umum ini akan menyebarkan dulu visi-visi utopia ya," kata Mayndra dalam konferensi pers di Mabes Polri, Selasa (18/11/2025).
Selain merekrut anak-anak melalui media sosial, kelompok teror juga mencari korbannya ke dunia game online. Pelaku akan membujuk sang anak bergabung hingga nantinya korban dimasukan ke grup khusus.
"Ada beberapa kegiatan yang dilakukan anak-anak kita ini ya, bermain game online. Nah di situ mereka juga ada sarana komunikasi chat, gitu ya. Ketika di sana terbentuk sebuah komunikasi, lalu mereka dimasukkan kembali ke dalam grup yang lebih khusus, yang lebih terenkripsi, yang lebih tidak bisa terakses oleh umum," ucapnya.
Baca juga: Densus 88 Antiteror: Pelaku Peledakan SMAN 72 Rakit Bom Sendiri, Belajar dari Internet
Mayndra menegaskan bahwa dalam proses merekrut anak-anak, kelompok teror tentunya tidak langsung memberikan ideologi terorisme. Namun anak-anak dibuat tertarik lebih dulu kemudian diajak mengikuti sebuah grup.
"Kemudian diarahkan kepada grup yang lebih privat, grup yang lebih kecil, dikelola oleh admin ini ya. Di situlah proses-proses indoktrinasi berlangsung. Jadi, memang tidak bisa kita sebut satu platform saja tetapi berbagai model, gitu," ungkapnya.
(shf)