Bukan Cuma Adu Rudal, Hacker dan AI Jadi Malaikat Maut di Perang AS-Israel vs Iran logo-apps-sindo Makin mudah baca berita nasional dan internasional. Kanal MNC Portal Live TV Radio Live MNC Networks Danang Arradian Jum'at, 06 Maret 2026 - 11:05 WIB Bukan Cuma Adu Rudal,... Seorang operator militer Israel tengah menjalankan misi pengintaian siber, sebuah taktik modern yang kini menjadi bahan bakar utama dalam melumpuhkan sistem pertahanan dan ekonomi rezim Iran di 2026. Foto: ist IRAN - Di mata awam, perang selalu identik dengan rentetan rudal yang membelah langit dan dentuman bom yang meluluhlantakkan bangunan. Namun, dalam perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di awal 2026 ini, rudal hanyalah alat eksekusi akhir. Senjata sesungguhnya yang menentukan hidup matinya sebuah rezim kini berada di balik ketukan papan ketik komputer. Operasi siber tak lagi sekadar bumbu pelengkap atau strategi pinggiran dalam konflik modern. Operasi ini telah bergeser menjadi pusat strategi yang membentuk setiap keputusan militer dalam peperangan AS-Israel melawan Iran—operasi yang dinamai sandi Roaring Lion oleh Israel dan Epic Fury oleh AS. Shay Nahum, CEO CYGHT sekaligus penerima Penghargaan Pertahanan Israel (Israel Defense Prize), menegaskan bahwa perang siber kini bukan lagi sekadar domain perang yang berjalan paralel, melainkan lapisan inti yang sangat krusial dalam membentuk intelijen, operasi, dan bahkan kampanye pengaruh psikologis. Dalam wawancaranya dengan Defense & Tech dari The Jerusalem Post, Nahum membongkar sebuah fakta yang selama ini dibangun secara diam-diam: kemampuan siber memengaruhi "setiap keputusan dan setiap rudal yang kita tembakkan". Perang 2026: Siber Sebagai "Bahan Bakar" Militer Bukan Cuma Adu Rudal, Hacker dan AI Jadi Malaikat Maut di Perang AS-Israel vs Iran Melihat tren peperangan global di tahun 2026, fungsi intelijen, sinyal intelijen (SIGINT), penentuan target sasaran, hingga perencanaan operasi militer semuanya sangat bergantung pada informasi yang disadap dari dunia siber. "Siber adalah bahan bakar untuk setiap korps—udara, darat, dan laut," ungkap Nahum. Secara logika sederhana, sistem siberlah yang menyuplai data akurat secara seketika (real-time) untuk menuntun platform fisik militer seperti jet tempur dan kapal perang tepat ke titik sasarannya. Jika pada konflik bulan Juni sebelumnya operasi yang bersandi Rising Lion hanya berfokus pada upaya menghentikan program nuklir dan rudal Iran, target operasi Roaring Lion atau Epic Fury saat ini telah meluas secara ekstrem. Sasarannya kini adalah menghancurkan stabilitas Republik Islam Iran itu sendiri. "Tidak ada yang kebal," ujar Nahum. "Tujuannya lebih luas sekarang, yaitu untuk menghancurkan rezim". Perang Psikologis Lewat Layar Ponsel Bagaimana cara menghancurkan sebuah pemerintahan tanpa harus meratakan seluruh negerinya? Jawabannya ada pada manipulasi psikologis rakyatnya. Nahum mencontohkan dua insiden siber yang baru-baru ini menyebar luas: beredarnya rekaman audio yang diduga berisi suara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berbicara langsung kepada rakyat Iran, serta munculnya notifikasi (push notification) melalui aplikasi populer di Iran yang memberitahu warga sipil bahwa bantuan sedang dalam perjalanan. Insiden ini membuktikan bahwa operasi siber telah menjadi alat utama untuk menggulingkan rezim. Israel dan AS kini memandang bahwa kampanye semacam ini sangat esensial untuk mempercepat lahirnya tekanan internal dari dalam negara Iran itu sendiri. Logikanya, membuat rakyat berontak akan jauh lebih efektif daripada menjatuhkan ribuan bom. "Rezim tidak akan jatuh dengan sendirinya, atau bahkan hanya karena tembakan senjata," jelas Nahum. "Namun jika rakyat Iran bertindak, rezim itu akan jatuh lebih cepat". Meskipun Iran pernah mencoba melakukan operasi serupa untuk memicu perpecahan di dalam wilayah Israel, Nahum menilai skala dan kecanggihan operasi siber Israel-AS saat ini sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya. Jejak Infiltrasi: dari Tahun 2010 hingga Menembus Urat Nadi Ekonomi Akar dari konfrontasi digital mematikan ini sebenarnya sudah tertanam sejak tahun 2010. Saat itu, virus komputer canggih bernama Stuxnet, yang secara luas diyakini sebagai buatan Israel dan AS, berhasil menyusup dan merusak mesin sentrifugal nuklir milik Iran. "Rezim seharusnya sudah paham sejak saat itu bahwa Israel dan AS telah berhasil menembus program nuklir mereka," kata Nahum. Bahkan sejak belasan tahun lalu, sistem mereka sudah berhasil dikompromikan. Bukti kelemahan ini semakin nyata pada bulan Juni lalu, ketika terjadi peretasan besar-besaran terhadap bursa pertukaran bitcoin di Iran serta peretasan perbankan yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Islam (IRGC). Peristiwa ini menjadi contoh betapa menyeluruhnya dinas intelijen asing menyusup ke dalam jaringan Iran. "Lima belas tahun kemudian, akses Barat jauh lebih dalam," tegasnya. Insiden peretasan ini membuktikan secara gamblang bahwa militer Barat sudah bersarang di dalam infrastruktur Iran, bahkan "di dalam keputusan-keputusan kritis mereka". Isolasi 4 Persen dan Target Masa Depan Menyadari negaranya diacak-acak lewat internet, pemerintah Iran mengambil langkah putus asa dengan membatasi akses internet secara sangat ketat selama perang berlangsung. Mereka berusaha membendung pesan propaganda dari Israel dan AS serta mencegah sentimen anti-rezim menyebar luas. Akibat dari pemblokiran ini, Nahum memperkirakan hanya sekitar 4 persen penduduk Iran yang masih memiliki konektivitas internet di puncak peperangan. Namun, mematikan internet publik tidak serta-merta menyelamatkan Iran. Jaringan internal tertutup (intranet) mereka yang menjadi urat nadi perbankan, layanan pemerintah, dan sistem industri masih harus terus beroperasi. Jaringan inilah yang diyakini Nahum akan menjadi target utama operasi siber di masa depan selama perang ini berlangsung. "Kita mungkin akan melihat pihak Israel dan Amerika terus menyusupi infrastruktur terkait Iran seperti sistem keuangan, telekomunikasi, dan manufaktur," ramalnya. Sistem-sistem vital itulah yang menjaga rezim Iran tetap berfungsi. Jika sistem tersebut berhasil dilumpuhkan, kelumpuhan negara secara total hanyalah menunggu waktu. (dan) wa-channel Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari Follow Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga! Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya Infografis 13 Rudal dan Drone Iran... 13 Rudal dan Drone Iran yang Bisa Hancurkan Pangkalan AS - SINDOnews
Bukan Cuma Adu Rudal, Hacker dan AI Jadi Malaikat Maut di Perang AS-Israel vs Iran
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Jum'at, 06 Maret 2026 - 11:05 WIB
Seorang operator militer Israel tengah menjalankan misi pengintaian siber, sebuah taktik modern yang kini menjadi bahan bakar utama dalam melumpuhkan sistem pertahanan dan ekonomi rezim Iran di 2026. Foto: ist
IRAN - Di mata awam, perang selalu identik dengan rentetan rudal yang membelah langit dan dentuman bom yang meluluhlantakkan bangunan.
Namun, dalam perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di awal 2026 ini, rudal hanyalah alat eksekusi akhir. Senjata sesungguhnya yang menentukan hidup matinya sebuah rezim kini berada di balik ketukan papan ketik komputer.
Operasi siber tak lagi sekadar bumbu pelengkap atau strategi pinggiran dalam konflik modern.
Operasi ini telah bergeser menjadi pusat strategi yang membentuk setiap keputusan militer dalam peperangan AS-Israel melawan Iran—operasi yang dinamai sandi Roaring Lion oleh Israel dan Epic Fury oleh AS.
Shay Nahum, CEO CYGHT sekaligus penerima Penghargaan Pertahanan Israel (Israel Defense Prize), menegaskan bahwa perang siber kini bukan lagi sekadar domain perang yang berjalan paralel, melainkan lapisan inti yang sangat krusial dalam membentuk intelijen, operasi, dan bahkan kampanye pengaruh psikologis.
Dalam wawancaranya dengan Defense & Tech dari The Jerusalem Post, Nahum membongkar sebuah fakta yang selama ini dibangun secara diam-diam: kemampuan siber memengaruhi "setiap keputusan dan setiap rudal yang kita tembakkan".
Perang 2026: Siber Sebagai "Bahan Bakar" Militer

Melihat tren peperangan global di tahun 2026, fungsi intelijen, sinyal intelijen (SIGINT), penentuan target sasaran, hingga perencanaan operasi militer semuanya sangat bergantung pada informasi yang disadap dari dunia siber.
"Siber adalah bahan bakar untuk setiap korps—udara, darat, dan laut," ungkap Nahum. Secara logika sederhana, sistem siberlah yang menyuplai data akurat secara seketika (real-time) untuk menuntun platform fisik militer seperti jet tempur dan kapal perang tepat ke titik sasarannya.
Jika pada konflik bulan Juni sebelumnya operasi yang bersandi Rising Lion hanya berfokus pada upaya menghentikan program nuklir dan rudal Iran, target operasi Roaring Lion atau Epic Fury saat ini telah meluas secara ekstrem.
Sasarannya kini adalah menghancurkan stabilitas Republik Islam Iran itu sendiri. "Tidak ada yang kebal," ujar Nahum. "Tujuannya lebih luas sekarang, yaitu untuk menghancurkan rezim".
Perang Psikologis Lewat Layar Ponsel
Bagaimana cara menghancurkan sebuah pemerintahan tanpa harus meratakan seluruh negerinya? Jawabannya ada pada manipulasi psikologis rakyatnya.
Nahum mencontohkan dua insiden siber yang baru-baru ini menyebar luas: beredarnya rekaman audio yang diduga berisi suara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berbicara langsung kepada rakyat Iran, serta munculnya notifikasi (push notification) melalui aplikasi populer di Iran yang memberitahu warga sipil bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.
Insiden ini membuktikan bahwa operasi siber telah menjadi alat utama untuk menggulingkan rezim.
Israel dan AS kini memandang bahwa kampanye semacam ini sangat esensial untuk mempercepat lahirnya tekanan internal dari dalam negara Iran itu sendiri. Logikanya, membuat rakyat berontak akan jauh lebih efektif daripada menjatuhkan ribuan bom.
"Rezim tidak akan jatuh dengan sendirinya, atau bahkan hanya karena tembakan senjata," jelas Nahum. "Namun jika rakyat Iran bertindak, rezim itu akan jatuh lebih cepat".
Meskipun Iran pernah mencoba melakukan operasi serupa untuk memicu perpecahan di dalam wilayah Israel, Nahum menilai skala dan kecanggihan operasi siber Israel-AS saat ini sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya.
Jejak Infiltrasi: dari Tahun 2010 hingga Menembus Urat Nadi Ekonomi
Akar dari konfrontasi digital mematikan ini sebenarnya sudah tertanam sejak tahun 2010. Saat itu, virus komputer canggih bernama Stuxnet, yang secara luas diyakini sebagai buatan Israel dan AS, berhasil menyusup dan merusak mesin sentrifugal nuklir milik Iran.
"Rezim seharusnya sudah paham sejak saat itu bahwa Israel dan AS telah berhasil menembus program nuklir mereka," kata Nahum. Bahkan sejak belasan tahun lalu, sistem mereka sudah berhasil dikompromikan.
Bukti kelemahan ini semakin nyata pada bulan Juni lalu, ketika terjadi peretasan besar-besaran terhadap bursa pertukaran bitcoin di Iran serta peretasan perbankan yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Islam (IRGC).
Peristiwa ini menjadi contoh betapa menyeluruhnya dinas intelijen asing menyusup ke dalam jaringan Iran.
"Lima belas tahun kemudian, akses Barat jauh lebih dalam," tegasnya. Insiden peretasan ini membuktikan secara gamblang bahwa militer Barat sudah bersarang di dalam infrastruktur Iran, bahkan "di dalam keputusan-keputusan kritis mereka".
Isolasi 4 Persen dan Target Masa Depan
Menyadari negaranya diacak-acak lewat internet, pemerintah Iran mengambil langkah putus asa dengan membatasi akses internet secara sangat ketat selama perang berlangsung.
Mereka berusaha membendung pesan propaganda dari Israel dan AS serta mencegah sentimen anti-rezim menyebar luas. Akibat dari pemblokiran ini, Nahum memperkirakan hanya sekitar 4 persen penduduk Iran yang masih memiliki konektivitas internet di puncak peperangan.
Namun, mematikan internet publik tidak serta-merta menyelamatkan Iran. Jaringan internal tertutup (intranet) mereka yang menjadi urat nadi perbankan, layanan pemerintah, dan sistem industri masih harus terus beroperasi. Jaringan inilah yang diyakini Nahum akan menjadi target utama operasi siber di masa depan selama perang ini berlangsung.
"Kita mungkin akan melihat pihak Israel dan Amerika terus menyusupi infrastruktur terkait Iran seperti sistem keuangan, telekomunikasi, dan manufaktur," ramalnya.
Sistem-sistem vital itulah yang menjaga rezim Iran tetap berfungsi. Jika sistem tersebut berhasil dilumpuhkan, kelumpuhan negara secara total hanyalah menunggu waktu.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

13 Rudal dan Drone Iran yang Bisa Hancurkan Pangkalan AS