0
News
    Ingin Cepat Kaya? Kerja, Jangan Judi - Kumpulan Informasi Teknologi Hari ini, Setiap Hari Pukul 16.00 WIB
    Home AI Featured Kecerdasan Buatan NVIDIA Spesial

    Bos Nvidia Minta Publik Tak Terlalu Suudzon pada AI - Kompas

    7 min read

     

    Bos Nvidia Minta Publik Tak Terlalu Suudzon pada AI



    Ringkasan berita:

    • Jensen Huang meminta publik dan pemerintah tidak memandang AI secara terlalu pesimistis, karena narasi negatif soal risiko AI dinilai bisa menghambat inovasi dan investasi yang justru dibutuhkan agar teknologi ini menjadi lebih aman dan bermanfaat. Ia juga mengkritik dorongan regulasi yang terlalu cepat dan ketat karena berpotensi mematikan startup serta pemain baru.
    • Meski mengakui masih ada isu serius seperti penggantian tenaga kerja dan penyalahgunaan AI, Huang tetap optimistis percepatan pengembangan dan peningkatan investasi adalah solusi terbaik. Namun, pandangannya dinilai sebagian pengamat tak lepas dari kepentingan bisnis, mengingat Nvidia menjadi perusahaan paling bernilai di dunia berkat lonjakan investasi AI.

    KOMPAS.com - CEO Nvidia Jensen Huang, meminta publik, pelaku industri, hingga pemerintah untuk tidak terlalu "suudzon" atau berprasangka buruk, curiga, dan pesimistis terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Menurut bos perusahaan semikonduktor dan chip AI paling bernilai di dunia ini, narasi negatif soal risiko AI justru berpotensi menimbulkan dampak yang lebih merugikan dibanding manfaatnya.

    Dalam wawancara di podcast No Priors yang dipandu Elad Gil dan Sarah Guo, Huang menyoroti berbagai kekhawatiran yang kerap diarahkan ke AI. Mulai dari ancaman terhadap lapangan kerja hingga potensi perluasan pengawasan oleh negara.

    Sama seperti Indonesia, Arab Saudi Tertarik Beli Jet JF-17 Buatan Pakistan-China

    Huang menyebut, framing yang terlalu gelap terhadap AI telah menciptakan ketakutan yang tidak perlu. Menurut dia, narasi pesimistis justru berisiko menghambat inovasi dan investasi yang sebenarnya dibutuhkan untuk membuat AI lebih aman dan berguna.

    Bos Nvidia yang pernah jadi tukang cuci piring di restoran ini juga mengkritik sebagian pihak di industri teknologi yang aktif mendorong pemerintah untuk menerapkan regulasi ketat dan kewajiban pengamanan tertentu.

    Huang mempertanyakan motif di balik langkah tersebut, terutama jika regulasi itu berpotensi menekan ruang gerak startup dan pemain baru.

    Dalam pandangan Huang, regulasi yang terlalu cepat dan ketat bisa berujung pada matinya inovasi sebelum teknologi tersebut berkembang matang.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Pernyataan pria yang "makin tajir" berkat chip AI Nvidia laris manis ini muncul di tengah meningkatnya perhatian pemerintah dan publik terhadap dampak AI.

    Sejumlah perusahaan teknologi besar diketahui mulai intens melobi pembuat kebijakan, termasuk melalui pendanaan kampanye dan organisasi politik, untuk membentuk regulasi yang lebih ramah terhadap pengembangan AI.

    Di sisi lain, kekhawatiran soal disinformasi, penyalahgunaan teknologi, hingga dampak sosial masih menjadi isu yang belum terjawab tuntas.

    Huang mengakui bahwa sebagian besar pesan publik tentang AI saat ini dipenuhi nada pesimistis dan ketakutan.

    Menurut dia, kondisi ini justru membuat orang ragu berinvestasi di AI, padahal investasi tersebut dibutuhkan agar teknologi ini bisa menjadi lebih produktif dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

    Namun, ia tidak merinci secara konkret bagaimana peningkatan investasi otomatis dapat mengurangi risiko seperti penyebaran hoaks atau gangguan kesehatan mental.

    Baca juga: Resep Sukses Nvidia Mendominasi Industri AI, Modal Nekat

    Soal potensi penggantian tenaga kerja, Huang juga tidak menawarkan solusi spesifik.

    Ia menilai masalah ini tidak semata-mata muncul karena kemampuan AI yang menggantikan manusia, tetapi juga karena keputusan bisnis perusahaan yang terlalu cepat mengurangi perekrutan, terutama untuk posisi level awal, demi mengejar tren AI.

    Di tengah kritik dan perdebatan tersebut, Huang tetap optimistis bahwa percepatan pengembangan AI adalah jalan terbaik.

    CEO Nvidia selama 33 tahun ini percaya, dengan lebih banyak investasi dan inovasi, industri AI akan menemukan solusi atas berbagai masalah yang kini dikhawatirkan, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Gizmodo.

    Namun bagi sebagian pengamat, posisi ini juga dinilai tidak lepas dari kepentingan bisnis, mengingat Nvidia menjadi salah satu perusahaan yang paling diuntungkan dari ledakan investasi AI dalam beberapa tahun terakhir.

    Sejak didirikan pada 1993, kapitalisasi pasar Nvidia terbilang flat. Market Cap Nvidia baru mulai bangkit pada 2020, kemudian makin melejit setelahnya hingga 2026 ini.

    Menurut data Companies Market Cap, Nvidia kini menjadi perusahaan paling bernilai di dunia dengan nilai valuasi mencapai lebih dari 4,5 triliun dollar AS (sekitar Rp 75.918,4 triliun) per 14 Januari 2026.

    Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang

    Komentar
    Additional JS