Dirilis 12 Tahun Lalu, HP Nokia Ini Bikin Kamera iPhone Terasa Biasa - HERALD
HERALD.ID, JAKARTA — Di tengah dominasi iPhone dan Android kelas flagship hari ini, ada satu ponsel lawas yang kembali bikin banyak orang terdiam saat dibahas, Nokia Lumia 1020.
Dirilis lebih dari satu dekade lalu, ponsel ini kembali mencuri perhatian karena satu hal yang sampai sekarang masih sulit ditandingi, kamera yang terlalu “liar” untuk zamannya.
Lumia 1020 bukan sekadar nostalgia. Ponsel ini menjadi bukti bahwa Nokia pernah berada di puncak inovasi smartphone dunia.
Di saat mayoritas ponsel flagship masih bermain aman di resolusi 8 hingga 13 megapiksel, Nokia justru melompat jauh dengan kamera 41 megapiksel berukuran sensor raksasa 1/1,15 inci.
Ukurannya bahkan lebih besar dari sensor kamera di sejumlah kamera saku populer kala itu, dan berkali lipat lebih besar dibanding kamera iPhone generasi yang sama.
Hasilnya bukan sekadar angka. Foto-foto dari Lumia 1020 mampu mempertahankan detail ekstrem saat di-crop, bahkan dalam kondisi cahaya rendah.
Tekstur objek, tulisan kecil dari jarak jauh, hingga detail di dalam ruangan gelap masih bisa terbaca jelas—tanpa bantuan night mode atau pemrosesan software pintar seperti ponsel modern.
Saat dibandingkan langsung dengan iPhone kelas atas di era yang sama, hasil kamera Lumia membuat kompetitornya terlihat buram dan kehilangan detail.
Keunggulan itu diperkuat teknologi yang kini nyaris punah di dunia ponsel: xenon flash. Bukan LED biasa, tapi sistem flash kamera profesional dengan daya sembur cahaya yang sangat kuat.
Sekali menyala, ruangan gelap bisa terang seketika. Konsekuensinya, bodi Lumia 1020 harus menanggung tonjolan kamera besar demi menampung kapasitor xenon dan mekanisme shutter khusus agar sinkron dengan flash. Rumit, mahal, dan jelas tidak ramah desain tipis, namun hasilnya setara kamera sungguhan.
Ironisnya, justru di sinilah Lumia 1020 terlihat “terlalu maju”. Hardware kameranya jauh melampaui kemampuan prosesornya.
Setiap jepretan membutuhkan waktu pemrosesan dua hingga tiga detik sebelum bisa mengambil foto berikutnya.
Bagi pengguna yang mengejar momen cepat, ini menjadi kelemahan nyata. Namun bagi pencinta fotografi serius, jeda itu terasa wajar demi kualitas gambar.
Di luar kamera, spesifikasi Lumia 1020 memang terasa sederhana jika dilihat dari kacamata 2026. Prosesor dual-core Snapdragon S4 Plus, RAM 2 GB, layar AMOLED 4,5 inci resolusi HD, dan baterai 2.000 mAh.
Sistem operasinya Windows Phone, ringan, mulus, dan unik, tetapi gagal berkembang karena miskin aplikasi.
Kombinasi OS yang terlalu sederhana dengan hardware kamera kelas dewa akhirnya menjadi salah satu alasan mengapa Lumia tak pernah benar-benar menang di pasar.
Namun justru karena semua kontradiksi itulah Lumia 1020 kini terasa spesial. Di saat ponsel modern mengandalkan kecerdasan buatan dan pemrosesan agresif, Nokia Lumia 1020 mengandalkan fisika murni: sensor besar, optik serius, dan flash profesional.
Bahkan jika dinilai dengan standar hari ini, kualitas kameranya masih bisa bersaing dengan ponsel kelas menengah.
Lebih dari sekadar ponsel jadul, Lumia 1020 adalah pengingat bahwa industri smartphone pernah sangat berani mengambil risiko.
Sebuah era ketika desain boleh tebal, spesifikasi boleh tidak seimbang, asal hasil akhirnya membuat dunia terkejut. Dan dalam urusan kamera, tak berlebihan jika dikatakan: iPhone pun pernah terlihat cupu di depan Nokia ini. (*)
