Pasar Mobil Bensin Berdarah, tapi Penjualan Mobil Listrik di Indonesia Meledak 49% Kalahkan Amerika! - SindoNews
4 min read
Pasar Mobil Bensin Berdarah, tapi Penjualan Mobil Listrik di Indonesia Meledak 49% Kalahkan Amerika!
Sabtu, 03 Januari 2026 - 13:45 WIB
Di tengah lesunya pasar otomotif konvensional yang turun 11 persen, penjualan mobil listrik di Indonesia justru mencatat sejarah dengan lonjakan 49 persen pada 2025. Foto: BYD Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Indonesia sedang mengalami fenomena anomali otomotif yang mencengangkan di tahun 2025; ketika pasar mobil konvensional tengah "lesu darah" dengan penurunan penjualan hingga 11 persen, pasar kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) justru mencatat lonjakan agresif sebesar 49 persen.
Ini adalah tingkat pertumbuhan fantastis yang secara persentase bahkan melampaui tren di pasar Amerika Serikat.
Pergeseran dalam preferensi konsumen Tanah Air terekam jelas dalam data penjualan wholesales (distribusi pabrik ke dealer) periode Januari hingga November 2025.
Sebanyak 82.525 unit mobil listrik telah terdistribusi dari total penjualan nasional sebesar 710.084 unit.
Angka ini mengerek pangsa pasar mobil listrik ke level 11,62 persen (data Gaikindo) hingga 18 persen untuk penjualan kendaraan baru menurut survei PwC, pencapaian yang beberapa tahun lalu dianggap mustahil.
Ledakan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari intervensi fiskal agresif. Survei PwC ASEAN-6 Electric Vehicle Readiness 2025 menyoroti bahwa pembebasan pajak barang mewah (PPnBM) secara penuh hingga 2025 dan pengurangan bea masuk impor menjadi katalis utama yang membuat harga EV kian terjangkau bagi kelas menengah Indonesia.
Dampaknya terhadap psikologis konsumen sangat masif. Sebanyak 99 persen pemilik mobil listrik di Indonesia menyatakan kepuasannya, tingkat kepuasan tertinggi di kawasan ASEAN.
Angka ini menjadi indikator kuat bahwa skeptisisme awal mengenai keandalan mobil listrik mulai runtuh, digantikan oleh adopsi massal yang antusias.
Namun PwC Indonesia menyebut bahwa untuk mempertahankan momentum ini dan menjadikan Indonesia pemimpin regional dalam dua tahun ke depan, ekspansi infrastruktur pengisian daya dan integrasi dengan energi terbarukan adalah kunci mati.
Tantangan infrastruktur memang masih menjadi "duri dalam daging". Skor kesiapan infrastruktur pengisian daya Indonesia masih sangat rendah, yakni hanya 1,4 dari 5, tertinggal jauh dari Singapura yang mencatat skor 4,3.
Akibatnya, 70 persen pemilik EV di Indonesia masih bergantung pada pengisian daya di rumah karena jaringan fast-charging publik yang belum memadai, memicu kekhawatiran jarak tempuh (range anxiety) yang belum sepenuhnya hilang.
Ini adalah tingkat pertumbuhan fantastis yang secara persentase bahkan melampaui tren di pasar Amerika Serikat.
Pergeseran dalam preferensi konsumen Tanah Air terekam jelas dalam data penjualan wholesales (distribusi pabrik ke dealer) periode Januari hingga November 2025.
Sebanyak 82.525 unit mobil listrik telah terdistribusi dari total penjualan nasional sebesar 710.084 unit.
Angka ini mengerek pangsa pasar mobil listrik ke level 11,62 persen (data Gaikindo) hingga 18 persen untuk penjualan kendaraan baru menurut survei PwC, pencapaian yang beberapa tahun lalu dianggap mustahil.
Ledakan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari intervensi fiskal agresif. Survei PwC ASEAN-6 Electric Vehicle Readiness 2025 menyoroti bahwa pembebasan pajak barang mewah (PPnBM) secara penuh hingga 2025 dan pengurangan bea masuk impor menjadi katalis utama yang membuat harga EV kian terjangkau bagi kelas menengah Indonesia.
Dampaknya terhadap psikologis konsumen sangat masif. Sebanyak 99 persen pemilik mobil listrik di Indonesia menyatakan kepuasannya, tingkat kepuasan tertinggi di kawasan ASEAN.
Angka ini menjadi indikator kuat bahwa skeptisisme awal mengenai keandalan mobil listrik mulai runtuh, digantikan oleh adopsi massal yang antusias.
Namun PwC Indonesia menyebut bahwa untuk mempertahankan momentum ini dan menjadikan Indonesia pemimpin regional dalam dua tahun ke depan, ekspansi infrastruktur pengisian daya dan integrasi dengan energi terbarukan adalah kunci mati.
Tantangan infrastruktur memang masih menjadi "duri dalam daging". Skor kesiapan infrastruktur pengisian daya Indonesia masih sangat rendah, yakni hanya 1,4 dari 5, tertinggal jauh dari Singapura yang mencatat skor 4,3.
Akibatnya, 70 persen pemilik EV di Indonesia masih bergantung pada pengisian daya di rumah karena jaringan fast-charging publik yang belum memadai, memicu kekhawatiran jarak tempuh (range anxiety) yang belum sepenuhnya hilang.
Peta Persaingan: Runtuhnya Hegemoni Lama, Terbitnya Matahari BYD
Siapa yang paling diuntungkan dari gelombang elektrifikasi ini? Jawabannya adalah raksasa teknologi China, BYD.
Data penjualan menunjukkan dominasi mutlak BYD yang berhasil mendistribusikan total 40.151 unit kendaraan, atau hampir separuh dari total pasar mobil listrik nasional. Jika digabungkan dengan sub-merek premiumnya, Denza, dan kompatriotnya Chery, ketiga merek ini menjadi tulang punggung utama pertumbuhan EV nasional.
Menariknya, peta persaingan model terlaris menunjukkan pergeseran selera yang unik. BYD Atto 1 muncul sebagai fenomena baru.
Meski baru mulai didistribusikan pada Oktober 2025, mobil listrik berukuran kecil (city car) dengan harga paling terjangkau di jajaran BYD ini langsung melesat menjadi mobil listrik terlaris sepanjang 11 bulan 2025 dengan total 17.729 unit.
Di posisi kedua, BYD M6 membuktikan bahwa DNA konsumen Indonesia tidak bisa lepas dari mobil keluarga. MPV listrik ini terjual sebanyak 9.926 unit, mempertegas bahwa segmen kendaraan serbaguna tetap menjadi primadona, bahkan di era setrum sekalipun.
Kejutan datang dari segmen premium. Denza D9, MPV listrik mewah yang menyasar kaum "berkantong tebal", berhasil menduduki peringkat ketiga dengan penjualan 7.176 unit. Kehadirannya membuktikan bahwa pasar Indonesia tidak hanya sensitif harga, tetapi juga haus akan kemewahan teknologi.
Data penjualan menunjukkan dominasi mutlak BYD yang berhasil mendistribusikan total 40.151 unit kendaraan, atau hampir separuh dari total pasar mobil listrik nasional. Jika digabungkan dengan sub-merek premiumnya, Denza, dan kompatriotnya Chery, ketiga merek ini menjadi tulang punggung utama pertumbuhan EV nasional.
Menariknya, peta persaingan model terlaris menunjukkan pergeseran selera yang unik. BYD Atto 1 muncul sebagai fenomena baru.
Meski baru mulai didistribusikan pada Oktober 2025, mobil listrik berukuran kecil (city car) dengan harga paling terjangkau di jajaran BYD ini langsung melesat menjadi mobil listrik terlaris sepanjang 11 bulan 2025 dengan total 17.729 unit.
Di posisi kedua, BYD M6 membuktikan bahwa DNA konsumen Indonesia tidak bisa lepas dari mobil keluarga. MPV listrik ini terjual sebanyak 9.926 unit, mempertegas bahwa segmen kendaraan serbaguna tetap menjadi primadona, bahkan di era setrum sekalipun.
Kejutan datang dari segmen premium. Denza D9, MPV listrik mewah yang menyasar kaum "berkantong tebal", berhasil menduduki peringkat ketiga dengan penjualan 7.176 unit. Kehadirannya membuktikan bahwa pasar Indonesia tidak hanya sensitif harga, tetapi juga haus akan kemewahan teknologi.
10 Besar Penguasa Jalanan Setrum

Berikut adalah narasi urutan merek dan model yang menguasai 10 besar pasar mobil listrik Indonesia berdasarkan data distribusi Januari-November 2025:
Dominasi dimulai oleh BYD Atto 1 di puncak klasemen, disusul oleh saudaranya BYD M6 di posisi kedua. Peringkat ketiga diamankan oleh Denza D9. Selanjutnya, pasar diisi oleh Chery yang tampil solid dengan total distribusi merek sebesar 7.065 unit.
Daftar ini kemudian dilengkapi oleh BYD Sealion 7, sebuah SUV yang mulai mendapatkan traksi, serta Chery iCar 03 yang menawarkan desain kotak futuristik. Pemain lama yang sempat merajai pasar, Wuling, harus puas berbagi kue pasar melalui model Wuling BinguoEV dan Wuling Air EV yang masih bertahan di daftar terlaris meski gempuran kompetitor kian sengit.
Di sisi lain, nasib kurang beruntung dialami oleh Hyundai. Merek asal Korea Selatan yang sempat menjadi pionir ini seolah kehilangan taji. Total penjualan seluruh model listrik Hyundai hanya tercatat 1.622 unit, gagal menempatkan satu pun modelnya di jajaran 10 besar. Nasib serupa dialami pendatang baru Jaecoo J5, SUV yang digadang-gadang murah meriah ini hanya mampu terdistribusi 653 unit, gagal menembus dominasi pasar.
Secara keseluruhan, meski terjadi sedikit koreksi bulanan dari 13.862 unit pada Oktober menjadi 13.390 unit pada November 2025, tren jangka panjang menunjukkan grafik yang terus mendaki. Indonesia kini bukan lagi sekadar pasar, melainkan medan pertempuran utama revolusi kendaraan listrik di Asia Tenggara.
Dominasi dimulai oleh BYD Atto 1 di puncak klasemen, disusul oleh saudaranya BYD M6 di posisi kedua. Peringkat ketiga diamankan oleh Denza D9. Selanjutnya, pasar diisi oleh Chery yang tampil solid dengan total distribusi merek sebesar 7.065 unit.
Daftar ini kemudian dilengkapi oleh BYD Sealion 7, sebuah SUV yang mulai mendapatkan traksi, serta Chery iCar 03 yang menawarkan desain kotak futuristik. Pemain lama yang sempat merajai pasar, Wuling, harus puas berbagi kue pasar melalui model Wuling BinguoEV dan Wuling Air EV yang masih bertahan di daftar terlaris meski gempuran kompetitor kian sengit.
Di sisi lain, nasib kurang beruntung dialami oleh Hyundai. Merek asal Korea Selatan yang sempat menjadi pionir ini seolah kehilangan taji. Total penjualan seluruh model listrik Hyundai hanya tercatat 1.622 unit, gagal menempatkan satu pun modelnya di jajaran 10 besar. Nasib serupa dialami pendatang baru Jaecoo J5, SUV yang digadang-gadang murah meriah ini hanya mampu terdistribusi 653 unit, gagal menembus dominasi pasar.
Secara keseluruhan, meski terjadi sedikit koreksi bulanan dari 13.862 unit pada Oktober menjadi 13.390 unit pada November 2025, tren jangka panjang menunjukkan grafik yang terus mendaki. Indonesia kini bukan lagi sekadar pasar, melainkan medan pertempuran utama revolusi kendaraan listrik di Asia Tenggara.
(dan)