Perjalanan Ramuan Tradisional Indonesia Jadi Obat Modern Berstandar Ilmiah - Tribunnews
Indonesia sejak lama dikenal memiliki warisan jamu dan ramuan herbal yang mengakar kuat dalam sejarah.
Ringkasan Berita:
- Kekayaan alam nusantara menjadi tantangan yang ditangkap saintist atau ilmuwan di bidang farmasi di Indonesia.
- Tujuan biodiversitas agar tidak berhenti sebagai ramuan tradisional, melainkan bertransformasi menjadi obat modern yang diakui secara ilmiah dan berkualitas.
- Obat Modern Alami Integratif (OMAI) menjadi jawaban atas tantangan itu
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tantangan para ilmuwan bidang farmasi di Indonesia untuk membuat obat yang benar-benar berguna bagi pasien terjawab.
Di Indonesia, tantangan itu berlapis, bukan hanya soal efektivitas, tetapi juga bagaimana memanfaatkan biodiversitas agar tidak berhenti sebagai ramuan tradisional, melainkan bertransformasi menjadi obat modern yang diakui secara ilmiah dan berkualitas.
Obat Modern Alami Integratif (OMAI) menjadi jawaban atas tantangan itu, karena bisa menjembatani pengetahuan tradisional dengan riset sains mutakhir.
Dari Jamu Tradisional ke Obat Modern Berbasis Sains
Indonesia sejak lama dikenal memiliki warisan jamu dan ramuan herbal yang mengakar kuat dalam sejarah.
Relief Candi Rimbi dari era Majapahit hingga naskah Serat Centhini mencatat ratusan jenis tanaman obat dan puluhan resep jamu untuk berbagai keluhan kesehatan.
Baca juga: Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional Bertumbuh, Kemenperin: Topang Perekonomian Nasional
Namun, dalam dunia medis modern, khasiat ramuan tradisional kerap berada di wilayah abu-abu—diakui secara empiris, tetapi belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah.
Titik balik terjadi pada 2005, ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menerbitkan sertifikat fitofarmaka bagi produk herbal yang lolos uji klinis.
Salah satunya adalah Stimuno dari Dexa Medica, yang menandai lahirnya era Obat Modern Alami Integratif (OMAI).
Berangkat dari meniran (Phyllanthus niruri L.) tanaman obat yang telah lama digunakan masyarakat dan tercatat dalam berbagai naskah historis, mulai dari catatan herbalist Belanda awal abad ke-20 berjudul Bab Tetuwuhan ing Tanah Hindiya Miwah Dayanipun Kangge Jampi hingga manuskrip Jawa berjudul Dayasarana yang diakui oleh UNESCO.
Pengetahuan turun-temurun ini kemudian menjadi fondasi riset modern melalui Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), di mana meniran diteliti secara biomolekuler, distandardisasi, dan diuji secara praklinik serta klinik.
Dari proses inilah lahirlah imunomodulator berbasis bahan alam dengan khasiat yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mewakili lompatan besar OMAI, ketika tradisi dipertemukan dengan sains modern.
OMAI dan Riset Molekuler
Di balik lahirnya obat-obat berbasis bahan alam terdapat perjalanan riset yang sarat tantangan ilmiah dan ketekunan. Tantangan tersebut tidak hanya terletak pada pemilihan bahan, tetapi pada upaya menerjemahkan kompleksitas alam menjadi terapi yang terstandar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Dalam proses penelitiannya, para saintis mengalami banyak tantangan yang harus dipecahkan hingga Obat Modern Alami Integratif ini dirasakan manfaatnya oleh pasien,” ujar Prof. Raymond Tjandrawinata, Director of Business Development and Scientific Affairs Dexa Medica.
Group Research Innovation & Invention Manager DLBS Laurentius Haryanto, S.T., M.Si. menjelaskan beragam tantangan dihadapi saat proses penelitian produk OMAI. #
Ia menyontohkan tantangan utama pada Inlacin atau obat fitofarmaka antidiabetes adalah bagaimana meramu kayu manis dan bungur, dua bahan dengan karakter kimia berbeda agar dapat diekstraksi secara bersamaan dan menghasilkan efek sinergis sesuai khasiat yang dituju. Proses ini menuntut pendekatan ilmiah yang presisi agar potensi masing-masing bahan tidak saling meniadakan, melainkan saling memperkuat.
Prof. Raymond menambahkan, tantangan tersebut berhasil dipecahkan bahkan terus mengalami perbaikan dan memberikan kontribusi lebih pada kesehatan pasien dan berkontribusi pada aspek ekonomi.
OMAI terbukti secara klinis mampu menjadi substitusi obat kimia impor. Langkah ini sejalan dengan tantangan kemandirian obat nasional. Hingga kini, sekitar 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih bergantung pada impor, ironi bagi negara dengan biodiversitas melimpah.
Produk-produk OMAI pun telah menembus pasar global. Nigeria, Kamboja, Singapura, Filipina, Myanmar, Vietnam, Mongolia, hingga Timor Leste menjadi tujuan ekspor.
”Penerimaan mereka terhadap OMAI itu lebih tinggi daripada di Indonesia. Ini yang sangat disayangkan,” ungkap Prof. Raymond.
Tantangan di Negeri Sendiri
Di dalam negeri, tantangan OMAI bukan lagi soal sains semata, melainkan ekosistem kebijakan. Guru Besar FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, menilai pemanfaatan fitofarmaka di Indonesia masih belum optimal.
”Sekarang ini sudah ada beberapa produk fitofarmaka yang telah dihasilkan. Produk tersebut pun sudah dipasarkan di masyarakat. Akan tetapi, pemanfaatannya belum optimal. Hal ini terutama karena fitofarmaka belum masuk dalam formularium nasional sehingga tidak dijamin oleh JKN (Jaminan Kesehatan Nasional),” ungkapnya.
Dengan kata lain, masa depan OMAI sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas sektor. Akademisi memastikan landasan ilmiah, industri menjamin kualitas dan kesinambungan riset, pemerintah membuka ruang kebijakan, masyarakat menjadi pengguna rasional, dan media menjalankan fungsi literasi publik.
Sejak akhir 2000-an, industri farmasi nasional telah membuktikan keseriusannya mengembangkan OMAI dari tanaman obat asli Indonesia. Hasilnya jelas: obat herbal yang diolah secara ilmiah mampu “head to head” dengan obat kimia. PDHMI pun mendorong agar OMAI yang diriset dengan baik untuk menghasilkan fraksi bioaktif terstandar dan dapat dijadikan obat setara obat kimia di layanan kesehatan.
Bukan lagi jamu. Bukan sekadar tradisi. Melainkan obat modern berbasis ilmu, lahir dari tanah Indonesia, dan siap bersaing di dunia.