0
News
    Home AI Featured Kecerdasan Buatan Microsoft Spesial

    Gara-gara Gantikan Pekerja Manusia dengan AI, Bos Microsoft Rombak Jajaran Eksekutif - Viva

    5 min read

     

    Gara-gara Gantikan Pekerja Manusia dengan AI, Bos Microsoft Rombak Jajaran Eksekutif



    Jakarta, VIVA – Langkah agresif perusahaan teknologi dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI) kini mulai memasuki fase evaluasi yang lebih kritis. Jika sebelumnya AI dipuja karena mampu mempercepat penulisan kode dan pengembangan produk, kini perhatian bergeser ke satu hal yang tak kalah penting, yaitu kualitas. 

    Pekerja Kantoran Ramai-Ramai Tinggalkan Karier Bergengsi Gara-gara AI

    Di tengah perkembangan ini, Microsoft membuat manuver organisasi yang cukup menyita perhatian industri. Raksasa teknologi asal Redmond tersebut menciptakan jabatan baru yang berfokus khusus pada kualitas rekayasa perangkat lunak. 

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Keputusan ini muncul kurang dari setahun setelah pimpinan perusahaan mengungkap bahwa porsi signifikan kode internal sudah ditulis dengan bantuan AI. Charlie Bell, yang sebelumnya memimpin divisi keamanan, kini dipercaya mengisi peran baru sebagai penanggung jawab kualitas rekayasa. 

    Disrupsi Digital Bagian dari Rantai Peradaban

    Penunjukan ini diumumkan lewat memo internal perusahaan pada 4 Februari lalu. Beberapa bulan lalu, Satya Nadella mengungkap skala penggunaan AI dalam proses coding perusahaan.

    Ia menyebut bahwa 20 hingga 30 persen coding di repositori Microsoft ditulis oleh perangkat lunak. Bahkan, proyeksi internal perusahaan menyebut porsi coding buatan AI bisa mendominasi dalam beberapa tahun ke depan.

    Meutya Hafid: 229 Juta Pengguna Internet Bukan Sekadar Pasar, Platform Wajib Patuh Hukum RI

    Namun percepatan produksi ternyata tidak selalu sejalan dengan mutu. Riset industri menunjukkan bahwa tingkat perombakan kode, yakni seberapa sering kode baru harus ditulis ulang atau dihapus, melonjak setelah alat coding berbasis AI dipakai luas. 

    Penelitian internal juga menemukan bahwa pengembang cenderung melewatkan lebih banyak bug saat meninjau kode yang dihasilkan AI dibanding kode buatan manusia. Masalah kualitas ini terasa nyata pada produk konsumen. 

    Windows 11 belakangan mengalami rangkaian gangguan teknis. Dalam satu bulan saja sempat muncul pembaruan keamanan yang membuat sejumlah PC bisnis gagal melakukan booting, patch lain yang mengganggu fungsi shutdown, serta beberapa perbaikan darurat di luar jadwal rutin. 

    Keluhan performa seperti File Explorer yang lambat juga belum sepenuhnya tuntas, termasuk bug mode gelap yang justru memburuk setelah upaya perbaikan. Dampaknya, perusahaan sampai mengalihkan sebagian insinyur dari pengembangan fitur baru untuk fokus penuh pada stabilitas sistem. 

    Upaya ini secara internal disebut “swarming”, yaitu pendekatan kolektif untuk membenahi persoalan keandalan yang diperkirakan berlangsung selama beberapa bulan. Perubahan jabatan Bell juga diikuti pergeseran di lini keamanan. 

    Posisi yang ia tinggalkan kini diisi Hayete Gallot, sosok yang sebelumnya berkarier lama di Microsoft sebelum sempat pindah ke Google Cloud. Nadella menyebut rotasi ini sebagai bagian dari rencana yang sudah disusun. 

    “Charlie dan saya telah merencanakan transisi ini selama beberapa waktu, mengingat keinginannya untuk beralih dari menjadi pemimpin organisasi menjadi insinyur IC,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari Times of India, Selasa, 10 Februari 2026.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Dorongan pada kualitas rekayasa muncul di saat strategi AI perusahaan belum sepenuhnya memberi hasil seperti harapan investor. Tingkat adopsi berbayar Copilot di ekosistem Microsoft 365 dan Office 365 masih rendah, sementara pertumbuhan bisnis cloud juga menghadapi tekanan ekspektasi pasar.

    Kini sorotan tertuju pada efektivitas peran baru tersebut. Jika dalam beberapa bulan ke depan stabilitas produk meningkat dan laju bug menurun, langkah ini bisa dibaca sebagai koreksi arah yang serius, namun jika masalah berulang, penunjukan ini berisiko dianggap sekadar respons defensif terhadap tekanan kualitas yang makin sulit diabaikan.


    Komentar
    Additional JS