0
News
    Home Amerika Serikat Berita Featured Internet Media Sosial Spesial TikTok

    Pengguna TikTok di AS Ramai Hapus Aplikasi, Uninstall Naik 150 Persen Usai Pengumuman Usaha Patungan - Liputan6

    7 min read

     

    Pengguna TikTok di AS Ramai Hapus Aplikasi, Uninstall Naik 150 Persen Usai Pengumuman Usaha Patungan

    Pengguna TikTok di AS dilaporkan ramai-ramai menghapus aplikasi setelah perusahaan mengumumkan rencana usaha patungan baru.

    Liputan6.com, Jakarta - Pengguna TikTok di Amerika Serikat (AS) dilaporkan ramai-ramai menghapus aplikasi tersebut dalam beberapa hari terakhir. Lonjakan ini terjadi tidak lama setelah TikTok mengumumkan rencana operasinya akan dialihkan ke dalam usaha patungan baru.

    Berdasarkan data dari perusahaan intelijen pasar Sensor Tower yang dikutip CNBC, Jumat (30/1/2026), rata-rata penghapusan TikTok di AS meningkat hampir 150 persen dalam lima hari terakhir dibandingkan periode tiga bulan sebelumnya.

    Kamis lalu, TikTok mengumumkan pembentukan usaha patungan baru untuk menjaga operasinya tetap berjalan di Amerika Serikat. Dalam pengumuman tersebut, Adam Presser, mantan kepala operasi TikTik, ditunjuk sebagai CEO.

    Namun, pengumuman ini memicu reaksi di kalangan pengguna. Banyak dari mereka menyuarakan kekhawatiran di media sosial setelah diminta menyetujui pembaruan kebijakan privasi dirilis bersamaan dengan kabar tersebut.

    Sejumlah unggahan di media sosial menyoroti bahasa dalam kebijakan baru mengatur jenis data yang dapat dikumpulkan TikTok.

    Disebutkan, data tersebut mencakup informasi sensitif seperti asal ras atau etnis, kehidupan seksual atau orientasi seksual, status transgender atau nonbiner, status kewarganegaraan atau imigrasi, serta informasi keuangan pengguna.

    Sorotan ini memicu kegemparan dan membuat sebagian pengguna merasa tidak nyaman, dan rasa khawatir berubah menjadi sentimen negatif terhadap aplikasi tersebut.

    Menariknya bahasa dalam keebijakan privasi yang dipermasalhkan ternyata bukan hal baru. Versi arsip kebijakan TikTik dari Agustus 2024 sudah memuat ketentuan sama.

    Kekhawatiran pengguna ini tampaknya memengaruhi sentimen terhadap aplikasi setelah pengumuman usaha patungan, dan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada lonjakan penghapusan instalasi TikTok dalam beberapa hari terakhir.

     

    Kreator TikTok di AS Tutup Akun, Kekhawatiran Meningkat Pasca Pengumuman Usaha Patungan

    Sejumlah kreator TikTok di Amerika Serikat mulai menutup akun mereka, hal tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pengguna, setelah pengumuman pembentukan usaha patungan baru oleh perusahaan.

    Salah satunya, Dre Ronayne. Lewat postingan di layanan micro-blogging Threads milik Meta tersebut, ia menulis, “jika saya bisa menghapus platform terbesar saya karena persyaratan kesepakatan dan sensor mereka telah lepas kendali, Anda juga bisa!”.

    Ronayne diketahui memiliki hampir 400.000 pengikut sebelum menutup akunnya pada Minggu lalu.

    Selain itu, beberapa pembuat konten melaporkan kesulitan memposting video di TikTok, termasuk pemadaman sementara dan unggahan yang gagal. Nadya Okamoto, seorang kreator dengan lebih dari 4 juta pengikut, mengatakan kepada CNBC bahwa pihak TikTok belum memberikan penjelasan mengenai dampak usaha patungan bagi para pembuat konten.

    “Itu sebabnya ada begitu banyak kekhawatiran, karena kita semua melihat platform ini dan tidak tahu apa yang terjadi,” ujarnya. Okamoto mengaku mengalami gangguan aplikasi selama beberapa hari, termasuk ketidakmampuan mengunggah video selama sekitar 24 jam. Selama periode tersebut, dia tetap memposting konten melalui Instagram dan YouTube.

    Sebuah akun X resmi yang terkait dengan usaha patungan TikTok menjelaskan pada Senin lalu bahwa masalah layanan disebabkan oleh pemadaman listrik di pusat data AS. “Kami bekerja sama dengan mitra pusat data kami untuk menstabilkan layanan. Kami menyesal atas gangguan ini dan berharap dapat segera menyelesaikannya,” tulis akun tersebut.

    Meski penghapusan akun meningkat, hal ini tidak berdampak signifikan pada jumlah pengguna aktif TikTok di AS, yang tetap relatif stabil menurut data Sensor Tower. Namun, aplikasi pesaing justru mencatat lonjakan unduhan: UpScrolled naik lebih dari sepuluh kali lipat, Skylight Social meningkat 919%, dan Rednote milik China tumbuh 53% dibandingkan minggu sebelumnya.

    Namun hingga saat ini, TikTok belum memberikan komentar resmi terkait situasi ini.

    TikTok AS Alami Gangguan

    Sebelumnya,  bisnis TikTok di Amerika Serikat (AS) yang baru, yang dipimpin konsorsium investor mayoritas asal AS dan telah disetujui Presiden Donald Trump, mengawali perjalanannya dengan masalah. Aplikasi video pendek yang sangat populer itu dilaporkan mengalami gangguan selama beberapa hari terakhir.

    Di tengah ramainya spekulasi di media sosial bahwa usaha patungan yang berafiliasi dengan Trump sengaja menekan konten kritik terhadap presiden tersebut, TikTok membantah tuduhan itu. Perusahaan menyatakan gangguan disebabkan oleh pemadaman listrik di pusat data milik Oracle, salah satu investor utama dalam entitas TikTok AS.

    TikTok menyampaikan pada Selasa pagi bahwa pihaknya telah membuat “kemajuan signifikan” dalam memulihkan layanan. Namun, pengguna masih mungkin menghadapi kendala teknis.

    “Pengguna mungkin masih mengalami beberapa masalah teknis, termasuk saat mengunggah konten baru,” tulis TikTok dalam keterangannya, dikutip dari CNN, Kamis (29/1/2026).

    Infografis AS Desak Pemilik TikTok Lepas Saham dan Ancam Larangan Total. (Liputan6.com/Trieyasni)

    Komentar
    Additional JS