Pertemuan Trump dan Xi Jinping: Elon Musk, Tim Cook, dan Bos Nvidia Turut Hadir -
Pertemuan Trump dan Xi Jinping: Elon Musk, Tim Cook, dan Bos Nvidia Turut Hadir
KecilBesar
Setelah hampir setahun berseteru dan keluar dari lingkar pemerintahan Gedung Putih, CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, kembali terlihat berdampingan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pada Kamis (14/5/2026), Musk tampil sebagai salah satu delegasi pemimpin bisnis AS di Balai Agung Rakyat (Great Hall of the People), Beijing, saat Presiden Trump berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping.
Kehadiran Musk di Beijing menjadi sorotan, mengingat ia memiliki hubungan bisnis yang sangat kompleks dengan Tiongkok di tengah perang tarif yang dilancarkan oleh pemerintahan Trump.
Rujuknya Hubungan Musk dan Trump
Hubungan Musk dan Trump sempat memburuk pada tahun lalu. Pada Mei 2025, Musk mengundurkan diri dari upayanya membantu perombakan pemerintahan Trump karena perbedaan kebijakan. Padahal, ia telah menggelontorkan dana hampir US$300 juta untuk membantu kampanye Trump pada Pemilu 2024.
Ketegangan keduanya memuncak pada Juni 2025 melalui perang pernyataan di media sosial. Kala itu, Musk menyiratkan keterlibatan Trump dengan narapidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein, sementara Trump membalas dengan ancaman akan mencabut subsidi dan kontrak pemerintah untuk perusahaan-perusahaan Musk.
Kini, ketegangan itu tampaknya mulai mereda. Dalam pertemuan di Beijing yang kabarnya membahas pembentukan dewan investasi dan perdagangan AS-Tiongkok, Musk menyebut bahwa telah tercapai "banyak hal baik."
Menariknya, Musk juga membawa serta putra kecilnya yang berusia enam tahun, X Æ A-XII, dalam kunjungan kenegaraan tersebut. Turut hadir pula mendampingi Trump adalah CEO Nvidia, Jensen Huang, dan CEO Apple yang akan segera purnatugas, Tim Cook.
Kepentingan Vital dan Tantangan Tesla di Tiongkok
Bagi Musk, Tiongkok bukanlah medan bisnis biasa. Negari Tirai Bambu ini adalah pasar terpenting Tesla di luar AS, sekaligus rumah bagi pabrik Giga Shanghai yang memproduksi separuh dari total mobil Tesla di seluruh dunia.
Namun, posisi Tesla di Tiongkok kini tengah terancam:
Gempuran Pesaing Lokal: BYD telah menyalip Tesla sebagai produsen mobil listrik terbesar di dunia. Konsumen Tiongkok kini memiliki banyak opsi kendaraan listrik (EV) dengan harga yang jauh lebih murah.
Sentimen Konsumen: Peran Musk sebagai penasihat Trump berdampak pada meningkatnya sentimen negatif dari konsumen Tiongkok terhadap Tesla.
Hambatan Regulasi: Tiongkok melarang mobil Tesla memasuki area sensitif seperti pangkalan militer. Selain itu, Beijing masih menunda persetujuan teknologi mengemudi otonom (Full Self-Driving/FSD) Tesla, meskipun produsen lokal sudah diizinkan untuk menerapkannya.
Menjaga Hubungan Baik dengan Beijing
Di tengah persaingan ketat yang didukung oleh subsidi bank BUMN Tiongkok (seperti dominasi pabrikan baterai CATL), Musk mengambil langkah diplomatis.
Berbeda dengan Trump, Musk selalu menghindari kritik terhadap Beijing. Ia justru kerap menggunakan platform X miliknya untuk memuji Tiongkok sebagai pemimpin global dalam industri kendaraan listrik dan tenaga surya.
Namun, kedekatannya dengan Tiongkok juga membawa konsekuensi lain. Taiwan, yang diklaim oleh Tiongkok sebagai bagian dari wilayahnya, baru-baru ini memutuskan untuk tidak menggunakan layanan internet satelit Starlink milik SpaceX untuk mengamankan jaringan komunikasi mereka dari potensi konflik militer, karena khawatir dengan kedekatan Musk dan Beijing.