0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Dunia Internasional Elon Musk Iran Konflik Rusia Ukraina Konflik Timur Tengah Pentagon Rusia Ukraina

    Terbongkar Cara Kotor Elon Musk: Bantu Ukraina Bantai Mahasiswa di Rusia dan Memeras Pentagon untuk Perang Iran - Viva

    6 min read

     

    Terbongkar Cara Kotor Elon Musk: Bantu Ukraina Bantai Mahasiswa di Rusia dan Memeras Pentagon untuk Perang Iran

    Elon Musk memberikan salam Nazi.

    Jakarta, VIVA - Ukraina untuk melakukan serangan pesawat tak berawak atau drone kamikaze yang mematikan baru-baru ini ke asrama perguruan tinggi Lugansk, Rusia atas bantuan Starlink, layanan internet berbasis satelit milik Elon Musk.

    Baca Juga

    Ketua Parlemen Rusia Vyacheslav Volodin mengatakan tiga gelombang drone kamikaze Ukraina menyerang gedung utama dan tempat tinggal mahasiswa di Starobelsk Professional College, menewaskan 21 orang, yang sebagian besar adalah gadis remaja, dan melukai 60 lainnya, pekan lalu.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    "Kami mengutuk serangan itu sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Kita harus melakukan segala upaya untuk meminta pertanggungjawaban kepada mereka yang memberi perintah, dan yang mengarahkan (drone kamikaze) ke kampus tersebut,” katanya, seperti dikutip dari situs Russia Today, Kamis, 28 Mei 2026.

    Baca Juga

    Volodin menyebut aksi pembantaian di Starobelsk sebagai kejahatan mengerikan dan membalasnya dengan serangan besar-besaran terhadap target militer dan komando Ukraina, termasuk sejumlah target di Kiev.

    Serangan balasan tersebut mencakup penggunaan sistem hipersonik jarak menengah Oreshnik Rusia , rudal jelajah hipersonik Kinzhal dan Zircon, serta amunisi lainnya.

    Baca Juga

    “Ini jadi pertanyaan. Mengapa Amerika (Serikat/AS) mengizinkan rezim Kiev menggunakan satelitnya. Elon Musk harus memahami bahwa satelit-satelitnya (Starlink) digunakan untuk membunuh anak-anak,” tegasnya.

    Karena mengalami kemunduran di medan perang dalam beberapa bulan terakhir, Kiev telah meningkatkan serangan terhadap target sipil di beberapa wilayah perbatasan Rusia yang terus diklaim oleh Ukraina.

    Kiev juga memasang antena satelit Starlink milik Musk pada drone kamikaze untuk menghindari peperangan elektronik Rusia dan memfasilitasi serangan jarak jauh. Selama pekan lalu, serangan Ukraina telah menewaskan 51 warga sipil dan melukai hampir 200 orang di seluruh Rusia.

    Itu adalah jumlah korban mingguan tertinggi yang tercatat tahun ini, menurut Rodion Miroshnik, yang memimpin misi Kementerian Luar Negeri Rusia yang bertanggung jawab untuk melacak kejahatan perang Ukraina.

    Ilustrasi perang AS-Iran.

    Photo :

    • VIVA/Davro

    Bukan itu saja kiprah berdarah Starlink milik Elon Musk. Menurut Reuters, Musk menekan Departemen Perang AS atau Pentagon untuk membayar tarif yang lebih tinggi untuk konektivitas Starlink yang digunakan oleh drone kamikaze AS selama perang Iran.

    Perselisihan tersebut dilaporkan berpusat pada Sistem Serangan Tempur Tanpa Awak Berbiaya Rendah (LUCAS), sebuah amunisi jelajah murah yang digunakan oleh militer AS.

    SpaceX berpendapat bahwa militer telah membayar sekitar US$5 ribu (Rp89,2 juta) untuk koneksi per terminal, padahal sebenarnya mereka menggunakan layanan tingkat lebih tinggi yang harganya US$25 ribu (Rp446,2 juta) per bulan.

    Pada Maret 2026, Elon Musk mencuit bahwa penggunaan Starlink dalam sistem persenjataan melanggar ketentuan layanan perusahaan, dan menambahkan bahwa operator militer sebaiknya menggunakan Starshield, jaringan terpisah yang dirancang untuk penggunaan pemerintah.

    Namun, dalam praktiknya, sistem-sistem tersebut tetap saling terkait erat, dengan Starshield bergantung pada jaringan Starlink yang lebih luas yang terdiri dari sekitar 10 ribu satelit orbit rendah Bumi (LEO), menurut Reuters.

    Meskipun Pentagon membantah melanggar perjanjiannya dengan SpaceX, Reuters melaporkan bahwa para eksekutif perusahaan kemudian mendesak para pejabat untuk membayar tarif yang lebih tinggi untuk layanan tersebut.

    Pentagon akhirnya setuju, hampir menggandakan harga awal US$30 ribu (Rp535,4 juta) untuk setiap drone LUCAS. Seorang pejabat Pentagon mengaku jika militer kini sedang mencari pemasok alternatif.

    Namun, dilaporkan tidak ada pesaing yang dapat menawarkan sesuatu yang mendekati SpaceX dalam hal skala atau kemampuan. Pesaing seperti OneWeb dan Project Kuiper milik Amazon masih jauh lebih kecil atau masih dalam tahap peluncuran.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Menurut sumber Reuters, beberapa pejabat Pentagon, termasuk Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg, semakin merasa tidak nyaman dengan pengaruh yang saat ini dimiliki SpaceX terhadap operasi militer.

    Namun, Pentagon dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk membeli lebih dari 3.500 langganan Starshield tambahan dalam kesepakatan yang dapat menghasilkan ratusan juta dolar AS setiap tahunnya bagi SpaceX menjelang IPO yang direncanakan bulan depan.

    PM Israel, Benjamin Netanyahu

    Mata-Mata Ini Sebut Mesir dan Turki Bisa Jadi 'Target' Israel Berikutnya

    Mantan mata-mata Amerika Serikat untuk Israel, Jonathan Pollard, menyebut Israel kemungkinan bisa menyerang Mesir dan Turki dalam waktu dekat. Baca selengkapnya.

    img_title

    VIVA.co.id

    29 Mei 2026

    Komentar
    Additional JS