0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Internet Spesial

    Orangtua Abai Awasi Anak Saat Internetan, Survei Ini Buktinya - Kompas

    7 min read

     

    Orangtua Abai Awasi Anak Saat Internetan, Survei Ini Buktinya


    KOMPAS.com - Di tengah meningkatnya ancaman konten berbahaya di internet, mayoritas orang tua ternyata masih belum aktif memantau aktivitas online anak-anak mereka. 

    Sebuah survei terbaru yang diterbitkan Advanced Television mengungkap fakta mengejutkan hanya 1 dari 10 orangtua yang benar-benar memantau penggunaan internet anak mereka. 

    Sementara itu, 1 dari 5 orangtua milenial berusia 25 hingga 34 tahun bahkan menganggap aman jika anak-anak mereka membagikan foto diri sendiri secara online. 

    Lantas, apa saja temuan lengkap survei ini dan apa dampaknya bagi keamanan digital anak? Berikut ini penjelasannya. 

    Ironi di Tanah Sendiri, Zaman Digital Tapi Pendidikan di Mappi Masih Sepi? | Nusaraya

    Baca juga: 6 Tanda Kecanduan Gadget dan Cara Menguranginya

    Fakta miris pengawasan internet anak

    Survei yang dilakukan Virtual College mengungkap kesenjangan yang cukup mengkhawatirkan antara kekhawatiran orangtua dan tindakan nyata dalam mengawasi anak-anak mereka di dunia maya. Berikut temuan utamanya:

    • 13 persen orangtua melaporkan anak mereka pernah terpapar konten yang mendorong perbandingan tidak sehat atau memicu masalah citra tubuh
    • 10 persen mengaku anak mereka pernah menjadi korban perundungan siber dan komentar negatif
    • 1 dari 5 orangtua milenial berusia 25 hingga 34 tahun menganggap aman jika anak-anak mereka membagikan foto diri sendiri secara online
    • 1 dari 10 orangtua dari semua kelompok usia sama sekali tidak memantau penggunaan internet anak mereka

    Angka-angka tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan jika dikaitkan dengan cara kerja platform digital modern. 

    Anak-anak kini tidak hanya sekadar menjelajahi internet secara pasif. Mereka berinteraksi dengan algoritma yang dirancang untuk terus menarik perhatian, mengikuti para influencer yang membentuk cara pandang mereka terhadap diri sendiri dan dunia, serta terpapar arus konten yang berubah sangat cepat dan tidak selalu bisa dipantau oleh orangtua.

    Baca juga: Apa Itu Brain Rot dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental?

    Masalahnya, konten berbahaya tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Perbandingan tubuh yang tidak sehat, standar kecantikan yang tidak realistis, hingga komentar-komentar merendahkan dari sesama pengguna bisa secara perlahan memengaruhi kesehatan mental anak tanpa orangtua menyadarinya.

    Usulan dokter dan tenaga kesehatan dilibatkan

    Temuan survei ini muncul bersamaan dengan usulan penting dari Academy of Medical Royal Colleges. 

    Lembaga tersebut menyatakan perlunya panduan resmi bagi dokter dan tenaga kesehatan untuk mulai mendeteksi tanda-tanda penggunaan media sosial yang tidak sehat atau tidak pantas pada anak-anak dan remaja yang mereka tangani.

    Baca juga: Kenapa Konten ASMR Disukai Banyak Orang? Ini Penjelasannya

    Usulan ini dinilai relevan mengingat anak-anak justru lebih sering berinteraksi dengan tenaga kesehatan dibandingkan dengan sistem pengawasan digital yang seharusnya melindungi mereka. 

    Jika dokter dibekali panduan yang tepat, kunjungan medis rutin bisa menjadi momen untuk menangkap lebih awal tanda-tanda dampak negatif dari penggunaan internet yang berlebihan atau tidak terpantau.

    Peringatan dari pakar keamanan anak

    Pakar keamanan anak dari Virtual College, Mary-Ann Round, menegaskan bahwa temuan survei ini mencerminkan realitas yang tidak boleh diabaikan lebih lama lagi.

    Baca juga: Apakah Headphone Bluetooth Berbahaya bagi Otak? Ini Fakta Ilmiahnya

    "Anak-anak muda tidak hanya sekadar menggunakan media sosial. Pikiran mereka sedang dibentuk oleh algoritma, para influencer, dan berbagai arus konten yang mungkin tidak pernah sepenuhnya terlihat oleh orang dewasa yang menetapkan aturan," kata Round.

    Ia menambahkan bahwa jika para profesional kesehatan mulai secara rutin menanyakan tentang penggunaan media sosial kepada pasien muda sebagaimana yang diusulkan para dokter senior, langkah tersebut bisa membantu mengungkap skala dan sifat paparan konten berbahaya yang selama ini sebagian besar tidak terdeteksi dan tidak terukur.

    Pada akhirnya, survei ini menjadi pengingat bahwa pengawasan digital terhadap anak bukan soal membatasi kebebasan mereka, melainkan tentang memastikan bahwa ruang digital yang mereka tempati setiap hari cukup aman untuk tumbuh kembang mereka.

    Baca juga: 7 Cara Mengatasi Anak-anak yang Terlanjur Kecanduan Gadget

    Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.

    Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Cara Nonton Piala Dunia 2026 di Smart TV dan TV Analog

    Komentar
    Additional JS