China Pamer AI Mazu, Bisa Prediksi Banjir hingga Gelombang Panas - Kompas
KOMPAS.com - Di tengah ramainya pameran robot humanoid dan chatbot, China justru memamerkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan fungsi berbeda.
Dalam acara World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, Lembaga Meteorologi China/China Meteorological Administration (CMA), badan yang memiliki tupoksi setara BMKG di Indonesia, memperkenalkan sebuah AI yang dirancang untuk memprediksi bencana alam.
AI tersebut memiliki nama Mazu. CMA mengeklaim teknologi ini mampu mendeteksi potensi berbagai cuaca ekstrem, mulai dari banjir, badai, gelombang panas (heatwave), hingga angin kencang sebelum bencana terjadi.
Nama Mazu sendiri diambil dari dewi laut dalam kepercayaan masyarakat China yang dipercaya melindungi para pelaut. Kini, nama tersebut digunakan untuk sistem AI yang bertugas "melindungi" masyarakat dari ancaman cuaca ekstrem.
Topan Bavi Hantam Cina, Sejumlah Kendaraan Hanyut Diterjang Banjir
Mazu sebenarnya bukan teknologi baru. AI ini pertama kali diperkenalkan pada 2025 lalu, dan CMA terus mengembangkannya hingga versi terbaru yang dipamerkan di WAIC 2026.
Baca Juga :
Baca juga: China Bikin Robot yang Bisa Dikendalikan dengan Pikiran
Gabungkan data satelit dan AI
Mazu bekerja dengan menggabungkan data pengamatan dari berbagai sumber, termasuk satelit meteorologi Fengyun milik China.
Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan sejumlah model AI, seperti Fenglei, Fengqing, dan Fengshun, untuk menghasilkan prakiraan serta peringatan dini cuaca ekstrem secara akurat.
Mazu juga didukung perangkat pemantauan yang dapat mengukur berbagai indikator cuaca, seperti suhu, tekanan udara, dan jarak pandang, sekaligus menerima data satelit secara langsung.
Baca juga: Mengapa CEO Google Cemas dengan Tahun 2025?
Seluruh data tersebut nantinya diproses AI untuk membentuk sistem terpadu yang mencakup pemantauan, peringatan, penyebaran informasi, hingga respons terhadap bencana.
Selain memprediksi cuaca, sistem ini juga telah disesuaikan untuk berbagai sektor, seperti transportasi, energi, pertanian, hingga ekonomi penerbangan rendah (low-altitude economy).
Teknologi ini rencananya akan dibuka untuk negara lain, tidak hanya terbatas di China saja.
Baca juga: 6 Teknologi AI China yang Tantang Dominasi AS
Menurut staf Shanghai Meteorological Bureau, You Yang, setiap negara dapat memperoleh versi Mazu yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan ancaman bencana yang berbeda-beda.
Sebagai contoh, implementasi di sebuah negara kecil di Afrika Timur, Djibouti difokuskan pada pemantauan gelombang panas dan peringatan angin kencang di kawasan pelabuhan.
Kemudian, AI seperti ini juga disebut dapat melindungi hasil panen, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mengurangi dampak ekonomi akibat bencana di beberapa negara berkembang, contohnya Pakistan.
Baca juga: China Bikin AI Kimi K3, Senjata Baru Lawan Dominasi AS
Sudah digunakan di lebih dari 40 negara

Lihat Foto
You Yang mengatakan, Mazu sendiri kini telah dimanfaatkan oleh lembaga meteorologi dan penanggulangan bencana di lebih dari 40 negara dan wilayah melalui layanan berbasis cloud.
Tidak disebutkan negara apa saja yang sudah menerapkan AI yang bisa memprediksi bencana ini.
Baca juga: China Gelar Turnamen Sepak Bola Antar-Robot, Tak Dikendalikan Manusia
Namun yang jelas, setiap implementasi Mazu di tiap negara nantinya akan disesuaikan dengan karakteristik geografis serta jenis bencana yang umum terjadi di negara tersebut.
Adapun beberapa negara yang mendapatkan versi khusus Mazu, menurut CMA, adalah Pakistan, Djibouti, Nigeria, hingga Ethiopia, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari GlobalTimes.
Selain mengumumkan versi terbaru Mazu, CMA juga memperkenalkan Mazu-FengYun Satellite AI Box, perangkat yang menggabungkan kemampuan satelit Fengyun dengan AI agar dapat digunakan oleh lembaga meteorologi di berbagai negara.
Menurut CMA, perangkat tersebut menjadi langkah baru dalam pengembangan Mazu, dari sekadar berbagi data prakiraan cuaca menjadi penyedia kemampuan AI untuk membantu proses analisis dan peringatan dini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang