Militer Inggris Curiga Mobil Listrik China Dilengkapi Alat Mata-mata - Kompas
LONDON, KOMPAS.com - Pasukan elite Inggris, Special Boat Service (SBS), melarang mobil listrik buatan China memasuki markas mereka di Poole, Dorset, karena khawatir kendaraan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan spionase.
SBS menduga bahwa sensor pada mobil listrik modern dapat diakses pemerintah China untuk mengumpulkan informasi mengenai instalasi militer Inggris.
Menurut laporan The Telegraph, Jumat (3/7/2026), seorang prajurit yang mengendarai mobil listrik Volvo buatan China sempat ditolak memasuki kompleks SBS pada tahun lalu sebagai langkah pencegahan keamanan.
Baca juga: Gara-gara Krisis BBM, Diler Rusia Kebanjiran Order Mobil Listrik
Sensor kendaraan jadi sumber kekhawatiran

Lihat Foto
Kekhawatiran itu berpusat pada teknologi yang tertanam di mobil listrik modern, seperti kamera beresolusi tinggi, radar, sensor ultrasonik, hingga sistem Light Detection and Ranging (LiDAR) yang digunakan untuk memetakan lingkungan sekitar, membaca rambu lalu lintas, mengenali marka jalan, dan mendeteksi pejalan kaki.
Ini Komponen Mobil Diesel yang Perlu Diperhatikan Saat Pakai BBM B50
Para ahli memperingatkan data yang dikumpulkan sensor tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk memetakan pangkalan militer, melacak rutinitas personel, hingga mengetahui jadwal pengerahan pasukan apabila jatuh ke tangan pihak yang tidak berwenang.
Baca juga: Kripto: Dari Tuduhan Penipuan, Kini Mengubah Politik Global
Mereka juga menyoroti Undang-Undang Keamanan Data China yang memungkinkan pemerintah meminta perusahaan menyerahkan data demi kepentingan keamanan nasional. Aturan itu memunculkan kekhawatiran bahwa produsen kendaraan dapat diwajibkan menyerahkan data yang dikumpulkan kendaraan.
Joe Jarnecki, peneliti bidang siber dan teknologi di Royal United Services Institute, mengatakan, sebagian besar mobil saat ini kemungkinan tidak memiliki perlindungan privasi dan keamanan yang cukup kuat untuk menghadapi upaya negara yang memiliki kewenangan hukum seperti China.
Intelijen Inggris sudah lama peringatkan ancaman
Kekhawatiran tersebut muncul di tengah peringatan berulang dari badan intelijen Inggris mengenai aktivitas China.
Kepala intelijen Inggris untuk keamanan domestik MI5, Sir Ken McCallum, pada Oktober lalu menyatakan bahwa aktor negara China merupakan ancaman terhadap keamanan nasional Inggris setiap hari.
Pada Juni, MI5 juga memperingatkan bahwa mata-mata China berupaya mendekati pegawai pemerintah dan personel militer Inggris melalui situs pencari kerja seperti LinkedIn untuk memperoleh informasi rahasia maupun sensitif.
Baca juga: Imbas Perang Iran, Minat Mobil Listrik di Asia Tenggara Meningkat
Selain itu, investigasi di Norwegia dan Denmark menemukan bus listrik produksi Yutong dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh produsennya. Temuan tersebut mendorong otoritas Inggris melakukan penyelidikan tersendiri pada tahun lalu.
Tidak ada larangan nasional
Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) menegaskan, tidak memiliki kebijakan nasional yang melarang kendaraan listrik memasuki fasilitas militer. Namun, setiap komandan pangkalan memiliki kewenangan menetapkan pembatasan sesuai pertimbangan keamanan.
Seorang sumber pertahanan mengatakan, sejumlah pangkalan memang telah membatasi kendaraan buatan China sehingga kendaraan tersebut harus diparkir di luar area fasilitas militer.
Baca juga: Banyak Perusahaan Menyesal PHK demi AI, Kini Rekrut Pegawai Lagi
Pemerintah Inggris juga mengakui risiko keamanan tidak hanya berasal dari kendaraan buatan China. Seluruh kendaraan modern yang memiliki fitur konektivitas dinilai berpotensi dieksploitasi oleh negara asing maupun pelaku kejahatan siber.
Karena itu, MoD bersama sejumlah kementerian dan lembaga keamanan tengah menyusun langkah mitigasi terhadap risiko tersebut. Panduan terbaru bagi personel militer bahkan mengimbau mereka untuk tidak membicarakan informasi sensitif saat berada di dalam kendaraan apa pun karena percakapan dikhawatirkan dapat direkam secara diam-diam.
Sementara itu, Volvo yang dimiliki Zhejiang Geely Holding Group menegaskan, perusahaan memproses data pribadi sesuai hukum yang berlaku dan tidak akan menyerahkan informasi kepada negara asing mana pun.
Kedutaan Besar China di London juga membantah seluruh tuduhan tersebut. Menurut juru bicaranya, klaim bahwa mobil listrik China digunakan untuk spionase sama sekali tidak berdasar dan Inggris diminta memberikan lingkungan bisnis yang adil serta tidak diskriminatif bagi perusahaan-perusahaan China.
Baca juga: Jejak Lingkungan Baterai Mobil Listrik Dituduh Kotor, Benarkah?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang