Misi Bersejarah NASA! Robot Lengan 3 Dikirim Selamatkan Teleskop Swift yang Nyaris Jatuh ke Bumi - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- NASA meluncurkan misi robotik pertama untuk menyelamatkan teleskop luar angkasa Swift yang kehilangan ketinggian orbit akibat meningkatnya aktivitas Matahari.
- Wahana robot LINK akan menangkap Swift menggunakan tiga lengan mekanis sebelum mengangkatnya kembali ke orbit yang aman.
- Jika berhasil, misi ini dapat membuka era baru penyelamatan satelit dan teleskop di luar angkasa.
TRIBUNNEWS.COM - NASA memulai misi yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk menyelamatkan teleskop luar angkasa Swift yang terancam jatuh ke Bumi setelah terus kehilangan ketinggian orbit akibat meningkatnya aktivitas Matahari.
BBC melaporkan teleskop yang telah beroperasi sejak 2004 itu masih menjadi salah satu instrumen paling penting untuk mengamati ledakan sinar gamma, fenomena paling dahsyat di alam semesta yang tidak dapat dipelajari dengan mudah menggunakan teleskop lain.
Karena nilai ilmiahnya yang sangat besar, NASA memilih mencoba menyelamatkan Swift daripada membiarkannya berakhir dengan terbakar saat memasuki atmosfer Bumi seperti kebanyakan satelit yang telah habis masa tugasnya.
Swift Kehilangan Ketinggian Orbit
Swift diluncurkan pada 2004 dengan membawa tiga teleskop untuk mengamati ledakan sinar gamma yang berasal dari kematian bintang raksasa maupun tabrakan objek-objek kosmik.
Fenomena tersebut hanya berlangsung dalam hitungan detik, tetapi mampu melepaskan energi setara pancaran Matahari selama sekitar 10 miliar tahun masa hidupnya.
Selama lebih dari dua dekade, Swift membantu ilmuwan mengungkap berbagai peristiwa paling ekstrem di alam semesta dan menjadi salah satu observatorium luar angkasa yang paling banyak digunakan dalam penelitian astronomi.
Namun, peningkatan aktivitas Matahari dalam beberapa tahun terakhir membuat atmosfer Bumi mengembang hingga mencapai orbit Swift.
Gesekan dengan atmosfer yang semakin tebal memperlambat laju teleskop sehingga ketinggian orbitnya terus menurun.
Baca juga: Cina Unggul dalam Riset Global, Rivalitas dengan AS Meluas ke Luar Angkasa
Saat pertama kali diluncurkan, Swift berada di orbit sekitar 600 kilometer di atas permukaan Bumi.
Kini ketinggiannya tinggal sekitar 360 kilometer, dengan sebagian besar penurunan terjadi dalam dua tahun terakhir.
Para insinyur memperkirakan upaya penyelamatan akan jauh lebih sulit jika orbit Swift turun di bawah 300 kilometer.
Robot LINK Jalankan Misi Penyelamatan
Untuk menjalankan misi tersebut, NASA bekerja sama dengan perusahaan Katalyst Space Technologies yang mengembangkan wahana robot bernama LINK.
Robot itu memiliki tiga lengan mekanis, kamera beresolusi tinggi, sensor navigasi, dan sistem pendorong kecil untuk bermanuver secara presisi di luar angkasa.
Bentuknya hanya seukuran lemari es, tetapi dirancang untuk melakukan salah satu operasi penyelamatan satelit paling kompleks yang pernah dicoba.
LINK diluncurkan menggunakan roket Pegasus XL pada Jumat waktu setempat.
Selama beberapa pekan pertama, wahana tersebut akan mengaktifkan seluruh sistem navigasi, kamera, sensor, dan mesin pendorong untuk memastikan semuanya berfungsi normal setelah peluncuran.
Meski roket telah membawa LINK mendekati orbit Swift, robot itu masih harus mengejar teleskop yang terus bergerak dengan ketinggian orbit yang berubah dari waktu ke waktu.
Baca juga: AS Ancam Bom Bunker Iran Pakai Mata-Mata Luar Angkasa, Teheran Melawan: Uranium Ini Sakral!
Sekitar tiga hingga empat minggu setelah peluncuran, LINK dijadwalkan mulai melakukan pendekatan secara perlahan.
Dengan bantuan kamera dan sensornya, robot tersebut akan mengelilingi Swift untuk memetakan kondisinya dari berbagai sudut sebelum menentukan titik pegangan yang paling aman.
Momen Paling Menentukan
Tahap paling menegangkan dimulai ketika tiga lengan robot LINK bergerak untuk menangkap badan teleskop Swift.
Operasi ini sangat berisiko karena Swift tidak pernah dirancang untuk ditangkap atau dipindahkan oleh wahana lain selama berada di orbit.
Ilmuwan antariksa dari Open University, Dr. Simeon Barber, menyebut misi ini sebagai langkah yang sangat berani.
Menurutnya, NASA menilai Swift masih terlalu penting untuk kehilangan kemampuannya mengamati fenomena berenergi tinggi di alam semesta.
Jika proses penangkapan berhasil, LINK akan menyalakan mesin pendorongnya secara bertahap untuk mengangkat Swift kembali ke orbit yang lebih tinggi dan stabil.
Proses tersebut diperkirakan berlangsung selama dua hingga tiga bulan agar perpindahan berlangsung perlahan tanpa membahayakan teleskop.
Bisa Membuka Era Baru
Keberhasilan misi ini diyakini tidak hanya akan memperpanjang masa operasional Swift.
Teknologi yang digunakan juga dapat membuka era baru dalam perawatan satelit dan teleskop di orbit Bumi.
CBS News melaporkan apabila misi LINK berhasil, teknologi serupa berpeluang digunakan untuk menyelamatkan teleskop lain, termasuk Hubble, yang juga diperkirakan akan membutuhkan misi perpanjangan usia di masa mendatang.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, NASA tidak hanya berhasil menyelamatkan Swift dari ancaman jatuh ke Bumi.
Baca juga: Artemis II Melaju ke Bulan, Manusia Kembali Tinggalkan Orbit Bumi Setelah 50 Tahun
Misi ini juga dapat menjadi tonggak baru dalam eksplorasi antariksa, karena membuktikan bahwa satelit dan teleskop yang kehilangan orbit masih dapat diperbaiki dan terus menjalankan misi ilmiahnya tanpa harus dipensiunkan lebih awal.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)