Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Spesial

    Nasib Berbalik, Profesi Bergaji Tinggi Ini Kini Paling Rentan PHK - detik

    6 min read

     

    Ilustrasi peangguran. Foto: Getty Images/iStockphoto/byryo
    Daftar Isi  

    Jakarta -

    Sederet profesi dengan gaji tinggi ini kini tak aman lagi. Bahkan berpeluang menjadi ladang pengangguran, akibat perubahan besar yang tengah melanda pasar tenaga kerja global.

    Gejalanya terlihat dari meningkatnya frekuensi pemutusan hubungan kerja (PHK). Efisiensi yang awalnya hanya bersifat sementara, sekarang berevolusi menjadi penataan ulang jangka panjang di banyak perusahaan besar.

    Melansir CNBC Indonesia, Minggu (5/7/2026), tekanan paling nyata dirasakan oleh industri teknologi, jasa keuangan, hingga konsultan bisnis. Profesi yang dahulu banyak diminati oleh orang-orang ini, malah masuk daftar pekerjaan rentan dipangkas.

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    Pada April 2026, terkuak tingkat pengangguran di sektor teknologi informasi mencapai 3,8%, naik dari Maret 2026 sebesar 3,6%, berdasarkan dari firma konsultan Janco Associates yang mengacu pada Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat.

    Beberapa bisnis, khususnya sektor teknologi mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu penyebabnya. Contoh, kecanggihannya menjadi alasan Meta memangkas sekitar 8 ribu pegawai atau 10%.

    Selain Meta, Nike juga mengurangi 2% atau sekitar 1.400 karyawannya. Sebagian besar mengisi posisi di departemen teknologi, dengan alasan menyederhanakan operasional global. Lalu ada Snap yang akan memecat 16% jumlah karyawan atau 1.000 peranan.

    Bidang teknologi lainnya, seperti telekomunikasi dan pengolahan data mengalami pengurangan 11% atau 342 ribu pekerjaan. Puncak kondisi ini terjadi pada November 2022 lalu.

    Guncangan di Sektor Teknologi dan Finansial

    Ketika tech-boom masih dalam masa kejayaannya, para insinyur perangkat lunak (software engineers), analis data (data scientists), hingga manajer produk (product managers) menjadi komoditas paling mahal di pasar tenaga kerja. Tidak sedikit perusahaan yang bakar uang demi merekrut talenta digital terbaik tersebut, dengan menawarkan gaji dua kali lipat hingga opsi kepemilikan saham.

    Sayangnya era itu telah berakhir. Pengetatan kebijakan moneter global dan tingginya suku bunga membuat aliran modal ventura (venture capital) tidak sebasah seperti masa keemasannya. Alhasil, perusahaan teknologi mulai dari skala startup hingga Big Tech terpaksa melakukan rasionalisasi biaya secara agresif.

    Ironisnya, pekerja dengan gaji tertinggi yang paling awal terkena dampaknya. Alasannya sudah pasti, yakni demi menyelamatkan neraca keuangan perusahaan.

    Begitu pun di sektor perbankan investasi (investment banking) dan konsultan manajemen papan atas. Penurunan aktivitas aksi korporasi seperti merger dan akuisisi (M&A), serta penawaran umum perdana (IPO) secara global membuat posisi-posisi analis berpendapatan tinggi kehilangan urgensinya.

    Ancaman Nyata AI

    Saat ini, AI tidak hanya menggeser pekerjaan kasar atau repetitif, melainkan sudah mulai mengikis sejumlah profesi kerah putih (white-collar workers) berketerampilan tinggi. Bisa dilihat, profesi seperti analis hukum, pembuat kode pemrograman tingkat dasar hingga menengah (mid-level coders), analis riset pasar, hingga spesialis keuangan kini bisa direplikasi oleh sistem AI.

    Banyak perusahaan menyadari, dengan mengintegrasikan AI, mereka bisa menyusutkan jumlah tim hingga separuhnya tanpa menurunkan produktivitas. Hal ini menciptakan surplus tenaga kerja ahli di pasar, di mana jumlah pelamar kerja berkualifikasi tinggi jauh melampaui lowongan yang tersedia.

    Kepala Eksekutif Janco, Victor Janulaitis, menjelaskan alasan perusahaan menunda atau mengurangi perekrutan tenaga IT. Menurutnya, karena dunia tengah menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

    "Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan?" ucap Janulaitis, dikutip dari Wall Street Journal.

    Dampak Psikologis dan Finansial 'Gaya Hidup'

    Fenomena menganggurnya para pekerja bergaji tinggi membawa dampak yang signifikan terhadap gaya hidupnya. Mereka umumnya memiliki beban finansial yang disesuaikan dengan pendapatan tinggi, mulai dari cicilan hunian premium, kendaraan mewah, hingga biaya pendidikan anak di sekolah internasional.

    Ketika menganggur, kelompok ini sering kali mengalami lifestyle inflation shock. Mereka kesulitan menurunkan standar hidup dengan cepat, sedangkan tabungan semakin tergerus.

    Di sisi lain, proses pencarian kerja baru bagi para eksekutif dan profesional senior memakan waktu yang jauh lebih lama. Perusahaan yang tengah melakukan efisiensi cenderung enggan merekrut kandidat yang dianggap overqualified, karena kekhawatiran akan ekspektasi gaji terlalu tinggi.

    Para pengamat ketenagakerjaan menilai, kondisi ini memaksa para profesional untuk melakukan reskilling atau bahkan menurunkan ekspektasi kompensasi (salary downgrade). Hal itu dilakukan supaya mereka bisa kembali terserap ke dalam pasar kerja, yang kini jauh lebih kompetitif dan pragmatis.

    (hps/hps)

    Komentar
    Additional JS