PP Tunas Berlaku, Ini Upaya Platform Digital Perkuat Perlindungan Remaja - detik
Jakarta -
Percakapan mengenai keamanan anak dan remaja di ruang digital terus menjadi perhatian di Indonesia. Kehadiran Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) semakin memperkuat pentingnya menciptakan ekosistem digital yang aman dan sehat bagi pengguna usia muda.
Namun, mewujudkan ruang digital yang lebih aman bukanlah tanggung jawab satu pihak semata. Perlindungan anak di internet memerlukan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, mulai dari platform digital, pemerintah, sekolah, komunitas, hingga keluarga.
Seiring berkembangnya regulasi, sejumlah platform digital juga terus memperkuat fitur perlindungan bagi pengguna remaja. Salah satunya dilakukan Meta melalui pengembangan berbagai fitur keamanan yang dirancang khusus untuk menciptakan pengalaman digital yang lebih sesuai dengan usia remaja sekaligus memberikan ketenangan lebih bagi orang tua.
Menteri Komunikasi dan Digital RI (Menkomdigi) Meutya Hafid menyampaikan kepatuhan Meta menjadi contoh implementasi yang berdampak langsung terhadap penguatan keamanan anak di ruang digital.
"Hari ini kami memberikan apresiasi kepada Meta yang menaungi Instagram, Facebook, dan Threads karena telah menyelaraskan fitur dan layanan mereka dengan hukum di Indonesia," ujar Meutya, dikutip dari laman resmi Komdigi, Jumat (19/6/2026).
Meta menetapkan batas usia minimum 16 tahun di seluruh platformnya dan menyesuaikan kebijakan komunitas. Kepatuhan ini disampaikan resmi melalui perwakilan hukum serta pimpinan kebijakan publik regional Asia Pasifik.
"Kepatuhan tersebut sudah kami verifikasi. Ini menunjukkan bahwa penyesuaian bukan persoalan teknis, tetapi soal komitmen platform untuk melindungi anak dan menghormati hukum nasional," tegas Meutya.
Teen Accounts Hadirkan Perlindungan Bawaan untuk Remaja
Melalui fitur Teen Accounts (Akun Remaja) di Instagram, Meta menghadirkan serangkaian perlindungan yang aktif secara otomatis untuk pengguna remaja.
Salah satunya adalah pengaturan akun privat secara default. Dengan pengaturan ini, hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat unggahan dan berinteraksi dengan akun remaja.
Meta juga menerapkan kontrol pesan yang lebih ketat. Remaja hanya dapat menerima pesan dari akun yang sudah mereka ikuti atau pernah terhubung sebelumnya. Langkah ini bertujuan mengurangi risiko interaksi yang tidak diinginkan dari orang asing.
Selain itu, pengaturan Sensitive Content Control secara otomatis diatur pada tingkat perlindungan tertinggi. Pengaturan ini membantu mengurangi paparan terhadap konten yang berpotensi sensitif atau tidak sesuai usia di berbagai fitur rekomendasi, seperti Explore dan Reels.
Menyoroti fitur kontrol konten ini, juru bicara Meta Esther Samboh menyatakan pihaknya ingin remaja menikmati kebebasan berkreasi dan mencari inspirasi di Instagram tanpa risiko terpapar konten yang belum sesuai dengan usianya.
"Dengan mengaktifkan Sensitive Content Control pada tingkat paling ketat secara otomatis, kami menciptakan jaring pengaman agar pengalaman eksplorasi mereka tetap positif dan aman," kata Esther.
Perlindungan lainnya mencakup pembatasan interaksi. Hanya akun yang diikuti remaja yang dapat menandai (tag) atau menyebut (mention) mereka. Fitur anti-perundungan, termasuk Hidden Words, juga diaktifkan secara otomatis.
Ada Pengingat Batas Waktu dan Mode Istirahat
Tidak hanya mengatur interaksi dan jenis konten yang diterima, Teen Accounts juga dilengkapi fitur yang mendukung kesejahteraan digital.
Pengguna remaja akan menerima pengingat setelah menggunakan Instagram atau Threads selama 60 menit dalam sehari. Selain itu, fitur Sleep Mode akan aktif secara otomatis mulai pukul 22.00 hingga 07.00 waktu setempat.
Pada periode tersebut, notifikasi akan dibisukan dan pesan langsung (Direct Message) akan mendapatkan balasan otomatis.
Bagi pengguna di bawah usia 16 tahun, beberapa fitur juga memerlukan persetujuan orang tua, seperti melakukan siaran langsung (Live) di Instagram, menonaktifkan perlindungan terhadap gambar bernuansa nudity di Direct Message, serta mengubah sejumlah pengaturan keamanan bawaan.
Perlindungan Teknologi Perlu Dibangun Bersama Orang Tua
Berbagai fitur keamanan yang dihadirkan platform digital dapat membantu mengurangi risiko yang dihadapi remaja di ruang online. Namun, teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran orang tua.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang terbuka dan berkelanjutan antara orang tua dan anak merupakan salah satu faktor terpenting dalam membangun kebiasaan digital yang sehat.
Pendampingan dari orang tua membantu remaja mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memahami risiko di internet, dan mencari dukungan ketika menghadapi tantangan di dunia digital.
Karena itu, keamanan digital sebaiknya dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Platform digital menyediakan berbagai perlindungan berbasis teknologi, sementara orang tua, sekolah, dan komunitas memiliki peran penting dalam mendampingi remaja memahami dan menjalani pengalaman digital secara sehat dan bertanggung jawab.
Untuk mendukung peran tersebut, Meta juga menghadirkan Family Center, sebuah pusat informasi yang menyediakan berbagai sumber daya bagi orang tua, mulai dari informasi mengenai Teen Accounts, fitur pengawasan, panduan percakapan keluarga, hingga materi seputar kesejahteraan digital.
Family Center dirancang bukan sebagai alat pemantauan semata, melainkan sebagai sarana yang membantu orang tua dan remaja membangun komunikasi yang lebih terbuka mengenai pengalaman mereka di dunia digital.
"Meta terus mengembangkan kebijakannya terkait konten yang berpotensi lebih sensitif bagi remaja. Ini merupakan langkah penting untuk menjadikan media sosial sebagai ruang di mana remaja dapat terhubung dan berekspresi dengan cara yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka," ujar Associate Professor Department of Applied Psychology Northeastern University Dr Rachel Rodgers.
"Perubahan ini juga menjadi kesempatan baik bagi orang tua untuk berdiskusi dengan anak mengenai cara menyikapi berbagai topik yang menantang di dunia digital," sambungnya.
Pada akhirnya, menciptakan pengalaman digital yang lebih aman bagi remaja membutuhkan sinergi dari seluruh pihak. Ketika perlindungan teknologi berjalan beriringan dengan pendampingan dan komunikasi yang baik di rumah, remaja akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk tumbuh dan berkembang secara sehat di era digital.
(hnu/ega)