Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured NASA Spesial Teleskop Antariksa Hubble Teleskop Roman

    Canggihnya Teleskop Roman NASA: Kamera 300 Megapiksel hingga 1.000 Kali Lebih Cepat dari Hubble - Times Indonesia

    6 min read

     

    A-AA+

    JAKARTA – Nancy Grace Roman Space Telescope yang baru diluncurkan NASA bukan sekadar teleskop baru untuk mengamati alam semesta. Teleskop senilai 4,3 miliar dolar AS itu dirancang sebagai mesin survei kosmos berkecepatan tinggi, dengan kemampuan menangkap wilayah langit sangat luas dalam waktu jauh lebih singkat dibandingkan teleskop luar angkasa generasi sebelumnya.

    Salah satu teknologi utamanya adalah Wide Field Instrument yang menghasilkan citra inframerah beresolusi sekitar 300 megapiksel. Dalam satu gambar beresolusi penuh, bidang yang tercakup setara dengan sekitar 45 blok kota atau seluruh kawasan El Capitan di Yosemite National Park.

    Kemampuan tersebut membuat Roman memiliki keunggulan yang berbeda dari teleskop Hubble maupun James Webb Space Telescope. Roman dirancang untuk melihat langit dalam cakupan sangat luas sekaligus mengumpulkan data dalam jumlah luar biasa besar.

    Selama misi utama lima tahun, Roman diperkirakan mengirimkan sekitar 2.500 terabita data ke Bumi. Sebagai perbandingan, Hubble telah mengirimkan sekitar 172 terabita data selama lebih dari 30 tahun beroperasi.

    Memindai Langit 1.000 Kali Lebih Cepat

    Kecepatan menjadi salah satu keunggulan terbesar Roman.

    Dengan kamera bidang lebar dan detektor canggihnya, Roman mampu memindai area luas kosmos hingga 1.000 kali lebih cepat dibandingkan Hubble. Data yang dapat dikumpulkan Roman dalam satu bulan diperkirakan setara dengan apa yang mampu dikumpulkan Hubble selama satu abad.

    NASA menggambarkan Roman sebagai "mesin kecepatan" karena kemampuan tersebut memungkinkan ilmuwan melakukan survei langit dalam skala yang belum pernah dicapai sebelumnya.

    Kecepatan itu penting karena alam semesta terus berubah. Ledakan supernova, perubahan bintang hingga fenomena ketika materi jatuh ke lubang hitam dapat berlangsung dalam waktu relatif singkat.

    Roman akan berulang kali memotret wilayah langit yang sama sehingga ilmuwan dapat membuat semacam "film" kosmik untuk menangkap berbagai peristiwa sementara tersebut.

    Bisa Memburu Lebih dari 100.000 Eksoplanet

    Kecanggihan Roman juga diarahkan untuk menemukan dunia di luar Tata Surya.

    Setelah sekitar 6.200 eksoplanet ditemukan menggunakan berbagai teleskop hingga saat ini, Roman diperkirakan dapat menemukan lebih dari 100.000 eksoplanet hanya dalam 18 bulan pengamatan.

    Roman akan menggunakan metode microlensing, yakni memanfaatkan pembelokan dan pembesaran cahaya sebuah bintang ketika terdapat objek yang melintas di antara bintang tersebut dan teleskop.

    Metode ini memungkinkan Roman menemukan populasi planet yang berbeda dari eksoplanet yang telah ditemukan oleh misi-misi sebelumnya.

    Roman juga membawa instrumen coronagraph yang memiliki cermin deformabel untuk mengurangi silau bintang. Teknologi ini memungkinkan cahaya yang sangat redup dari planet di sekitar bintang dapat diamati.

    Instrumen tersebut diperkirakan mampu mendeteksi planet berukuran seperti Jupiter yang mengorbit bintang serupa Matahari. Cahaya yang dipantulkan planet kemudian dapat dianalisis untuk mengetahui komposisi atmosfernya.

    Para ilmuwan memperkirakan coronagraph Roman dapat mendeteksi eksoplanet yang cahayanya hingga 100 juta kali lebih redup dibandingkan bintang induknya.

    Kamera Besar untuk Memetakan Miliaran Galaksi

    Roman tidak hanya memburu planet. Salah satu target utamanya adalah membuat peta alam semesta dalam skala sangat besar.

    Dalam salah satu survei utamanya, Roman akan mengamati sekitar 12 persen wilayah langit dan menargetkan katalog distribusi satu miliar atau lebih galaksi. Data tersebut akan digunakan untuk mempelajari bagaimana materi gelap dan energi gelap memengaruhi perkembangan struktur alam semesta.

    Roman juga akan memetakan bidang galaksi Bima Sakti. Dalam program tersebut, sekitar 20 miliar bintang diperkirakan dapat dipetakan untuk menghasilkan gambaran paling lengkap mengenai struktur galaksi yang pernah diperoleh.

    Skala pengamatan tersebut membuat Roman lebih menyerupai mesin sensus kosmik daripada teleskop yang hanya diarahkan untuk menghasilkan gambar objek tertentu.

    Memburu Misteri Materi Gelap dan Energi Gelap

    Data dalam jumlah besar yang dikumpulkan Roman juga akan digunakan untuk menjawab pertanyaan mendasar tentang alam semesta.

    Teleskop ini akan mempelajari materi gelap dan energi gelap, dua komponen misterius yang berperan penting dalam evolusi kosmos tetapi belum sepenuhnya dipahami ilmuwan. Roman diharapkan membantu mengukur bagaimana struktur alam semesta berkembang dan bagaimana laju ekspansinya berubah sepanjang waktu.

    Roman bahkan berpotensi membantu memecahkan apa yang dikenal sebagai "Hubble Tension", yakni perbedaan pengukuran mengenai laju ekspansi alam semesta antara pengamatan alam semesta awal dan pengukuran yang dilakukan terhadap alam semesta yang lebih dekat dengan masa kini.

    Jika ketidaksesuaian tersebut terbukti, hasil Roman dapat mengarah pada perubahan pemahaman ilmuwan mengenai cara kerja alam semesta dan sifat energi gelap.

    Cermin Satelit Mata-Mata yang Jadi Mata Baru NASA

    Ada fakta unik di balik kecanggihan Roman. Cermin utamanya berdiameter sekitar 7,9 kaki atau 2,4 meter dan awalnya dibuat untuk proyek satelit mata-mata yang kemudian dibatalkan.

    Cermin tersebut kemudian disumbangkan kepada NASA oleh National Reconnaissance Office. Meski ukurannya sama dengan cermin Hubble, NASA harus memodifikasi permukaan cermin, struktur teleskop, serta sejumlah komponennya agar dapat beroperasi pada suhu sangat rendah di Lagrange Point 2.

    Setelah mencapai L2, sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi, Roman akan berada di kawasan yang sama dengan James Webb Space Telescope. Lokasi tersebut memungkinkan teleskop beroperasi dengan penggunaan bahan bakar yang relatif minimal.

    Dengan kombinasi kamera 300 megapiksel, kecepatan pemindaian yang mencapai 1.000 kali Hubble, kemampuan mendeteksi planet yang sangat redup dan kapasitas pengumpulan data hingga ribuan terabita, Roman diproyeksikan membuka era baru survei alam semesta.

    Yang paling menarik, para ilmuwan justru berharap penemuan terbesar Roman adalah sesuatu yang belum mereka perkirakan sebelumnya—objek atau fenomena baru yang dapat melahirkan pertanyaan ilmiah berikutnya tentang alam semesta. (*)

    Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
    Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
    Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

    Komentar
    Additional JS