Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Dunia Internasional Featured israel Kecerdasan Buatan Spesial

    Israel Siapkan 1.000 Drone Bunuh Diri, Viper 300 Dibekali Teknologi AI untuk Memburu Target - Tribunnews

    6 min read

     

    SERAMBINEWS.COM/LINKEDIN A-A+ Perusahaan teknologi pertahanan asal Israel, SpearUAV, mengumumkan telah menyiapkan hampir 1.000 unit drone kamikaze Viper 300 yang disebut siap dikirim kepada pelanggan di berbagai negara. 
    Ringkasan Berita:
    • Drone yang masuk kategori loitering munition atau amunisi berkeliaran tersebut dirancang untuk menjalankan misi pengintaian hingga serangan presisi.
    • SpearUAV menyebut Viper 300 dikembangkan berdasarkan berbagai pelajaran dari konflik modern, termasuk perang di Ukraina.

    SERAMBINEWS.COM - Perusahaan teknologi pertahanan asal Israel, SpearUAV, mengumumkan telah menyiapkan hampir 1.000 unit drone kamikaze Viper 300 yang disebut siap dikirim kepada pelanggan di berbagai negara.

    Drone yang masuk kategori loitering munition atau amunisi berkeliaran tersebut dirancang untuk menjalankan misi pengintaian hingga serangan presisi.

    SpearUAV menyebut Viper 300 dikembangkan berdasarkan berbagai pelajaran dari konflik modern, termasuk perang di Ukraina.

    Pengumuman tersebut disampaikan SpearUAV melalui akun LinkedIn perusahaan pada Senin (7/9/2026).

    Baca juga: Iran Klaim Tangkap Drone Kapal Selam AS di Selat Hormuz

    Meski tidak mengungkap siapa saja pengguna akhir maupun nilai kontrak yang terlibat, perusahaan mengatakan jumlah pesanan internasional terhadap sistem tersebut terus meningkat.

    “Ratusan sistem per bulan dan terus bertambah,” tulis SpearUAV dalam keterangannya.

    Berbobot 2,8 Kilogram dan Bisa Dibawa dalam Ransel

    Rekomendasi Untuk Anda

    Viper 300 dirancang sebagai drone berukuran relatif ringkas. Berat keseluruhannya, termasuk kapsul dan muatan, mencapai sekitar 2,8 kilogram.

    Sistem tersebut dapat dilipat dan ditempatkan di dalam kapsul maupun ransel sehingga memungkinkan dibawa oleh pasukan di lapangan.

    Drone ini memiliki jangkauan sekitar 5 kilometer dengan waktu terbang hingga 20 menit. Peluncurannya dapat dilakukan oleh personel yang bergerak dengan berjalan kaki maupun dari platform tertentu.

    Salah satu kemampuan yang ditonjolkan adalah kemampuannya untuk melayang di udara sambil melakukan pengamatan terhadap area sasaran.

    SpearUAV juga menyebut Viper 300 menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses akuisisi target dan mendukung serangan presisi.

    Perusahaan mengklaim sistem tersebut dapat dioperasikan setelah personel mendapatkan pelatihan singkat.

    Bisa Digunakan untuk Pengintaian hingga Serangan

    Menurut SpearUAV, Viper 300 dirancang untuk berbagai kebutuhan operasional, termasuk pengintaian dan pengawasan (ISR), perang asimetris, patroli perbatasan, keamanan dalam negeri, hingga misi yang disebut perusahaan sebagai “eliminasi target bernilai tinggi”.

    Konsep tersebut membuat Viper 300 tidak hanya berfungsi sebagai drone pengintai, tetapi juga membawa kemampuan serangan dalam satu platform.

    Dalam peperangan modern, kombinasi kemampuan pengumpulan informasi secara langsung dan serangan presisi menjadi semakin penting, terutama bagi unit yang membutuhkan sistem ringan dan mudah dibawa ke medan operasi.

    SpearUAV mengatakan desain Viper 300 dibuat untuk memberikan informasi intelijen beresolusi tinggi secara real-time dengan jejak operasional yang rendah.

    Diklaim Teruji di Medan Pertempuran

    Viper 300 merupakan salah satu bagian dari keluarga sistem persenjataan SpearUAV.

    Perusahaan juga mengembangkan Viper 750, yang ditujukan untuk penggunaan angkatan laut, serta Viper 1 yang berfungsi sebagai sistem pencegat.

    SpearUAV menyatakan sistem-sistem tersebut telah digunakan oleh berbagai unit militer, termasuk korps di Angkatan Pertahanan Israel (IDF), serta militer negara lain.

    Perusahaan juga sebelumnya mengumumkan kerja sama dengan Rafael untuk mengembangkan sistem pencegat berukuran ringkas bernama Iron Wasp, yang dapat diluncurkan dari kendaraan tempur.

    Dikembangkan dari Pengalaman Perang Modern

    SpearUAV menyebut pengembangan Viper 300 turut dipengaruhi pengalaman dari berbagai zona konflik, termasuk kawasan Ukraina.

    Perusahaan menilai perkembangan peperangan modern telah meningkatkan kebutuhan terhadap sistem udara tak berawak yang mampu memberikan informasi situasi secara cepat sekaligus mendukung tindakan terhadap sasaran.

    “Dari zona konflik seperti Ukraina Timur hingga kawasan perbatasan, VIPER 300 merupakan alat penting untuk mendapatkan intelijen real-time beresolusi tinggi tanpa memberikan peringatan kepada pihak lawan,” demikian keterangan perusahaan di situsnya.

    Sistem tersebut kemudian dirancang untuk menggabungkan fungsi intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR) dengan kemampuan serangan presisi dalam satu platform.

    SpearUAV sendiri didirikan pada 2017 oleh Gadi Kuperman dan Yiftach Kleinman. Perusahaan tersebut bermarkas di Tel Aviv.

    Mantan kepala Mossad, Yossi Cohen, tercatat menjabat sebagai ketua komite penasihat perusahaan.

    Dengan hampir 1.000 unit Viper 300 yang disebut telah siap dikirim, SpearUAV kini berupaya memperluas penggunaan sistem drone tersebut di pasar pertahanan internasional.(*)

    Komentar
    Additional JS